Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
86. Membuka Lembaran Baru


__ADS_3

"Uncle Rey? Kak Fani? Kalian di sini juga?" sapa Kimberly dengan antusias.


Tanpa adanya rencana ataupun perjanjian untuk pergi ke tempat yang sama. Kini dua pasang pengantin baru itu saling bertemu tanpa sengaja di sebuah Taman yang terdapat Danau di sana.


"Hay princess, Kak Fani? Ternyata kamu kesini juga?" kini Fani kembali menyapa gadis kecil itu.


Kimberly yang sudah sangat akrab dengan Fani, kini langsung asyik bersenda gurau tanpa mempedulikan orang-orang disekelilingnya lagi.


Terlebih lagi dengan kedua orangtuanya dan pamannya yang masih saling diam tanpa bertegur sapa. Namun, Aaron yang tidak ingin hubungan mereka menjadi renggang, memilih untuk mengawali pembicaraan mereka.


"Hay, Kak Rey? Kalian sudah lama di sini?" tanya Aaron basa-basi.


"Oh, belum lama, Aar. Mungkin baru satu jam yang lalu kami sampai di sini." jawab Reyhan dengan seulas senyum tipis.


Audrey yang sedari tadi berdiri di samping suaminya, saat ini masih memilih untuk bungkam.


"Em.. Apakah kami mengganggu waktu kalian?" tanya Aaron lagi.


Rasa canggung diantara mereka seperti masih dibentengi oleh dinding yang masih kokoh. Karena diantara Kakak beradik itu masih sama-sama enggan untuk bertegur sapa.


"Tidak, Aar. Kami di sini hanya ingin menghabiskan waktu bersama saja sebelum masa cuti ku habis. Kasian juga Fani kalau hanya tinggal di apartemen saja." jelas Reyhan.


Fani yang sejak tadi sengaja mengalihkan perhatiannya kepada gadis manis itu, sesekali dia melirik ke arah kedua pria arogan yang masih sama-sama merasa canggung.


Bahkan Fani juga sesekali melihat adik iparnya yang sedari tadi hanya diam sambil menggenggam tangan suaminya.

__ADS_1


'Apakah Non Audrey belum bisa memaafkan Kak Reyhan? Mengapa sejak tadi dia sama sekali tidak menyapanya?' batin Fani yang masih penuh dengan tanda tanya.


'Maafkan aku, Kak Rey! Bukannya aku tidak ingin menyapamu terlebih dahulu. Aku hanya tidak ingin membuat Kak Fani salah paham. Apalagi dia juga mengetahui jika Kak Rey memiliki perasaan terlarang itu kepadaku.' gumam Audrey dalam hati.


Kedua wanita muda itu kini sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tetapi berbeda dengan gadis kecil itu yang saat ini sedang menceritakan tentang kehidupan barunya bersama dengan kedua orangtuanya.


"Kak Fani tau tidak? Sekarang Cimmy sudah berani tidur sendirian lho." ujar Kimberly di sela candaan mereka.


"Oh, ya? Berarti sekarang princess Kak Fani sudah besar dan pemberani. Kan sebentar lagi Cimmy akan punya ad-"


Belum selesai dengan ucapannya, Fani langsung membungkam mulutnya sendiri dengan satu tangannya.


Kemudian gadis muda itu langsung melirik ke arah ketiga orang yang berada tidak jauh darinya.


Untung saja gadis kecil itu belum menangkap sepenuhnya ucapan Fani. Kalau sudah bisa habis dia di cecar berbagai pertanyaan oleh Nona mudanya.


"Yes, of course i would." jawab Kimberly dengan penuh semangat.


Akhirnya setelah mendapatkan izin dari ketiga orang itu, Fani dan Kimberly pergi berdua saja dan memberikan waktu kepada ketiga orang itu.


'Semoga saja kalian bisa segera berbaikan seperti sebelumnya. Sejujurnya aku sangat merindukan keharmonisan antara Kak Rey dan Audrey.' batin Fani.


Setelah kepergian kedua wanita beda usia itu, akhirnya ketiga orang dewasa tadi kini melanjutkan pembicaraan yang sedikit serius.


"Kak Rey, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?" tanya Aaron dengan tatapan serius.

__ADS_1


Reyhan yang sejak tadi sedang mencoba untuk menepis ketidaksukaannya, kini hanya mengulas senyum disertai dengan anggukan kepala.


"Maaf, kalau aku sudah lancang untuk menanyakan hal ini kepada Kakak ipar. Tetapi menurut ku ini adalah salah satu hal penting, agar hubungan persaudaraan kita tetap terjalin dengan baik dan harmonis kembali." ujar Aaron.


Reyhan yang sudah mengetahui ke arah mana pembahasan mereka nanti. Sesekali dia menoleh ke arah adik perempuannya yang masih saja bungkam.


"Kak Rey, bolehkah aku meminta jika hubungan antara kalian. Em.. Maksud ku antara Kak Rey dan Audrey terjalin semestinya, seperti selayaknya antara adik dan Kakak? Karena aku hanya ingin jika hubungan kalian tidak retak dengan hal yang tidak seharusnya. Dan aku berharap Kak Rey bisa menerima kenyataan bahwa Audrey adalah adik kandung yang seharusnya dilindungi, bukan untuk dimiliki." ujar Aaron lagi.


Reyhan yang sejak semalam sudah memutuskan untuk membuka hatinya untuk Fani. Kini pria dewasa itu langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Tentu saja, Aar. Sebelum kamu mengatakannya pun aku juga sudah memutuskannya sebelum menikah dengan Fani. Karena setelah menikah dengan gadis itu, aku seperti menjadi orang baru yang akan membuka lembaran baru juga bersama dengan dia. Karena cintanya lah yang juga menyadarkan aku, betapa pentingnya membalas cinta tulus dari seseorang." jelas Reyhan.


Audrey yang mendengar ucapan Kakak sulungnya, kini langsung mendongakkan kepalanya sambil menatap wajah tegas pria itu.


"Jadi, Fani....."


"Ya. Bertahun-tahun dia memendam perasaan itu seorang diri dan dengan bodohnya aku tidak menyadarinya. Bahkan aku juga sering mengabaikan dan acuh kepadanya, karena rasa benciku akibat salah paham yang ku buat sendiri." jelas Reyhan lagi.


"Tiga hari mengenalnya, aku baru sadar jika dia adalah sosok gadis yang baik, penyayang dan Sholehah. Sejujurnya aku merasa sangat malu, karena belum bisa menjadi pemimpin sekaligus imam yang baik untuknya." sambung Reyhan lagi.


Aaron dan Audrey kini hanya saling beradu pandang dengan seulas senyum.


"Jadi sekarang kita bisa......"


"Kita bisa menjalin hubungan seperti biasa kan, Kakak ipar?" goda Aaron.

__ADS_1


__ADS_2