Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
11. Berdebat


__ADS_3

Hari Senin adalah hari pertama untuk memulai bekerja kembali, setelah beberapa orang menjalankan masa liburannya bersama dengan keluarga tercinta.


"Apa kamu yakin, tidak ingin menemani sekaligus berkenalan dengan karyawan di kantor kita, Sayang?" tanya Riki setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi.


"Iya, Ayah. Mungkin lain kali saja. Hari ini aku ingin mengajak Cimmy jalan-jalan terlebih dahulu, untuk berkeliling kota ini. Dan jika Ayah mengijinkan, aku ingin mengajak Ibu pergi bersama dengan kami," ujar Audrey dengan seulas senyum manisnya.


Riki pun terdiam sejenak sembari menimbang-nimbang permintaan putrinya, jika dia menolaknya pasti Audrey akan merasa kecewa. Tetapi jika dia memberikan izin kepadanya, dia juga takut jika kesehatan sang istri tercinta akan menurun kembali.


"Iya, Mas. Izinkan aku pergi bersama dengan mereka ya? Kamu tidak perlu memikirkan tentang kesehatan ku. Tentunya pasti kamu juga tau, jika obatnya sudah datang dan akan segera memulihkan kondisi ku kembali. Percayalah kepadaku, Mas! Putri dan cucumu akan menjagaku dengan baik. Iya 'kan, Sayang?" cetus Rosa yang kini sedang meyakinkan suaminya agar dia memberikan izin kepadanya.


Audrey dan Kimberly pun menganggukkan kepalanya secara bersamaan dengan antusias. Wajah polos gadis kecil itulah yang mampu membuat luluh hati seorang Riki Arya Wijaya.


Dengan berat hati, akhirnya Riki menyetujuinya dan memberikan izin kepada mereka, dengan beberapa syarat.


"Baiklah. Ayah akan mengijinkan kalian bertiga pergi. Tetapi Ayah akan memberikan beberapa syarat terlebih dahulu kepada kalian, dan kalian harus menyetujuinya!" tegas Riki sambil menatap ketiga wanita beda usia itu secara bergantian.


Rosa pun hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. Dia sangat memahami, bagaimana perangai sang suami jika sudah seperti ini. Sifat posesif dan overprotektifnya pasti akan muncul seketika.


"Baiklah, Ayah. Audrey pasti akan menjalankan beberapa syarat itu dengan baik." ucap Audrey dengan mantap.


Sedangkan Faishal dan Reyhan kini hanya saling beradu pandang, saat melihat kesepakatan yang akan dibuat oleh ketiga orang yang berada di depan mereka.


"Baiklah. Kalian dengarkan baik-baik syarat yang akan aku ajukan.

__ADS_1


*Syarat pertama : kalian harus dikawal oleh salah satu bodyguard yang berada di rumah ini, dan kalian tidak boleh menolaknya!


*Syarat kedua : kalian harus memberikan kabar kepada Ayah setiap 30 menit sekali, atau kalau bisa harus sesering mungkin, dan itu WAJIB kalian lakukan!


*Syarat ketiga : untukmu Audrey! jika terjadi sesuatu, kamu harus segera memberikan kabar kepada Ayah atau kedua kakakmu. Apa kamu mengerti?


Baik, mungkin 3 syarat itu cukup untuk kalian. Atau ingin Ayah tambahkan beberapa syarat lagi?" tegas Riki sambil tersenyum smirk.


Rosa dan Audrey pun terperangah dengan syarat yang di ajukan kepada mereka. Bahkan, kedua putranya kini justru menahan tawanya, karena mereka tidak menyangka jika sang Ayah seposesif itu dengan kedua wanita itu.


"Hentikan, Mas! Kami hanya ingin jalan-jalan lho, bukan ingin pergi jauh dari kalian. Tetapi kenapa kamu harus seribet ini sih? Harus memberikan syarat lagi." gerutu Rosa sambil memberikan tatapan tajam kepada Riki.


"O, iya.. jika Ayah mu seribet ini, lebih baik kita tidak usah jadi pergi saja, Sayang. Lebih baik kita di rumah saja sambil nonton film yang menyenangkan sampai malam, dan malam ini kita BERTIGA akan tidur bersama. Okey?" cetus Rosa sambil mengangkat kedua jempolnya.


Dengan cepat Riki langsung menggelengkan kepalanya, dan menentang keras ucapan sang istri. Dia tidak ingin melewatkan satu malam pun tanpa istrinya, terkecuali dia harus pergi ke luar kota karena pekerjaan yang penting dan tidak bisa diwakilkan oleh kedua putranya.


"Tidak bisa! Apa-apaan ini! Kalian tidak jadi pergi, tapi sehari semalam akan selalu bersama? Apa kamu tega kepadaku, Honey?" rengek Riki sambil menarik tangan Rosa, dan langsung menggenggamnya dengan erat.


Rosa pun langsung merotasi kedua bola matanya, dia merasa jengah jika harus menghadapi rengekan seorang Riki Arya Wijaya, yang sangat dikenal dengan ketegasan dan kewibawaannya.


Namun, jika sudah menyangkut tentang dirinya. Pasti Riki akan bersikap seperti seorang anak kecil yang ingin dimanja oleh Ibunya. Sifat posesif Riki memang sangat berlebihan, tetapi Rosa justru merasa bahagia dengan sifat Riki yang seperti itu.


Dia sangat yakin, dengan sifat Riki yang seperti ini, justru membuatnya merasa tenang. Karena Riki sejak dulu tidak pernah sedikitpun berniat untuk mengkhianatinya. Bahkan, Riki tidak pernah sedikitpun melirik wanita lain, meskipun wanita itu terlihat menggoda dan lebih segalanya darinya.

__ADS_1


"Ayah? Apa Ayah tidak malu kepada Cimmy? Dia saja tidak seperti itu lho sama Audrey. Masa sih Opanya manjanya tidak ketulungan begitu?" sindir Faishal sambil menahan tawanya.


"Benar sekali. Memangnya Ayah mau jika Cimmy menertawakan Ayah nanti. Melihat Opanya yang merengek dan bermanja dengan Omanya, pasti Cimmy akan menertawakan Ayah nanti," cetus Reyhan yang juga sedang menahan tawanya.


Riki yang mendapatkan sindiran dari kedua putranya, kini langsung mendelik dan mencebikkan bibirnya. Dia merasa tidak terima dengan sindiran yang mereka lontarkan. Bahkan dia juga langsung memberikan tatapan tajam kepada kedua putranya.


"Okey. Mungkin kalian saat ini bisa menertawakan Ayah, tetapi lihat saja nanti jika kalian berdua sudah bertemu dengan pawang kalian masing-masing. Ayah sangat yakin sekali, kalian akan bersikap melebihi Ayah saat ini. Kalian ingat itu baik-baik! Dan jika hal itu benar-benar terjadi, maka Ayah akan mengajak Cimmy untuk menertawakan kalian!" tegas Riki disertai dengan sorotan matanya yang tajam.


Kedua Kakak beradik itu kemudian langsung terdiam dan beradu pandang. Mereka tidak pernah menyangka jika akan kalah telak dari sang Ayah. Bahkan sebelum menertawakan sang Ayah, mereka tidak berpikir sejauh itu.


"Nah, 'kan? Kalian kalah telak akhirnya, Kak. Makanya jangan berdebat dengan Ayah, jika kalian belum memikirkannya dengan matang." sindir Audrey yang kini sedang tersenyum lebar.


Bukannya membela kedua kakaknya, kini Audrey justru memihak kepada sang Ayah. Dan itu semua membuat kedua kakaknya memasang wajah yang memelas. Mereka berharap jika Audrey akan mendukung mereka, tetapi siapa sangka semua itu berbanding terbalik dan tidak sesuai dengan harapan.


"Sudah-sudah! Mengapa kalian semua menjadi seperti anak kecil? Apa kalian semua tidak merasa malu, berdebat di depan gadis manis ini? Huh?" gertak Rosa yang sudah merasa geram dengan keempat orang dewasa yang berbeda usia.


Kimberly pun hanya duduk dengan santai sambil mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah menyangka jika memiliki keluarga yang sangat seru dan menarik.


"Mommy? Apa kita tidak jadi pergi?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.


"Jadi, Sayang. Kalian pergilah, dan hati-hati. Jika ada sesuatu kalian langsung kabari kami." ucap Riki dengan suara lembut.


Rosa pun langsung menganggukkan kepalanya, dan senyumnya kini kembali mengembang di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


"Ternyata pawang kamu yang sebenarnya adalah cucu perempuan kamu, Mas."


__ADS_2