
Makan malam yang semula hangat, kini menjadi sedikit kacau karena gadis kecil itu sengaja membuat keributan. Tetapi semua yang dia lakukan saat ini, bisa dimaklumi oleh keempat orang dewasa di sekitarnya.
"Baiklah, Honey. Daddy akan-"
"No! Jangan memanggilku dengan sebutan Honey, Uncle! Dan jangan pernah menyebut dirimu sebagai Daddy ku, karena kalian belum resmi menikah." celetuk Kimberly dengan ketus.
Aaron pun akhirnya mengalah dan pasrah dengan sikap keras kepala putrinya. Mungkin untuk saat ini dia belum bisa meluluhkan hati gadis kecilnya, tetapi dia sangat yakin jika gadis itu akan luluh dengan kasih sayangnya.
"It's okey. Maafkan Uncle, Cimmy cantik!" ucap Aaron sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.
Kimberly yang sejak tadi selalu mengerucutkan bibirnya, hanya memutar bola mata jengah. Mungkin sikapnya saat ini sangat berbanding terbalik dengan hatinya.
Sejujurnya dia sangat ingin jika Aaron terus membujuknya, hingga dia bisa menerima sosok yang selalu dia rindukan.
'Mengapa Daddy hanya meminta maaf kepadaku, dan sama sekali tidak membujuk ku? Dasar Daddy tidak peka!' gerutu Kimberly dalam hati.
.
.
__ADS_1
"Bagaimana Nak Aaron? Apakah kamu sanggup menyiapkan semuanya dalam waktu satu Minggu?" tanya Riki.
Aaron kini kembali menatap calon istrinya yang masih belum mengucapkan sepatah katapun kepadanya. Sejak tadi wanita muda itu hanya terdiam dan selalu mengalihkan perhatiannya kepada putri semata wayang mereka.
"Kalau masalah tentang persiapan, semuanya bisa saya atur Ay- em, maksud Saya Tuan Riki. Tetapi apakah putri Anda sudah benar-benar mantap untuk menikah dengan Saya?" ujar Aaron sambil melirik ke arah calon istrinya.
Audrey yang sangat peka terhadap ucapan, atau bisa dikatakan sebagai sindiran. Mau tidak mau dia harus mengeluarkan suara kepada pria yang saat ini selalu menatapnya.
"Saya sudah siap, Tuan Aaron. Dan Saya juga yang menginginkan pernikahan ini dipercepat, jadi semua sudah Saya serahkan kepada Anda dan kedua orangtua Saya." ucap Audrey dengan seulas senyum tipis.
Terlihat sangat jelas, jika pria itu saat ini sedang merasakan sesuatu yang membuatnya sangat bahagia. Semua itu terlihat dari pancaran aura wajah dan bola matanya yang berbinar.
Audrey hanya membalas dengan anggukan dan senyuman tipis. Wanita muda itu pun juga kembali meyakinkan dirinya, jika dia tidak pernah salah membuat keputusan secepat ini.
'Semoga saja ini keputusan yang terbaik untukku. Karena aku tidak ingin jika Kak Rey terus memiliki perasaan itu kepadaku. Dan aku ingin suatu saat nanti Kak Rey akan menemukan kebahagiaannya sendiri dengan tambatan hatinya. Maafkan aku, Kak Rey!' batin Audrey.
Gadis kecil yang sejak tadi merajuk, kini perlahan-lahan dia pun merasakan sebuah kebahagiaan baru. Kebahagiaan yang utuh yang selalu menjadi impian terbesar untuknya.
Waktu pun terus berputar dan saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kimberly yang sudah merasa mengantuk, kini hanya menyandarkan kepalanya di bahu Ibunya.
__ADS_1
Audrey yang langsung menyadari jika putrinya sudah mengantuk, langsung memeluknya agar sedikit merasa nyaman saat matanya terpejam.
"Sepertinya gadis manis ini sudah mengantuk, lebih baik kita akhiri dulu perbincangan ini, Tuan Riki. Saya tidak ingin membuat gadis manis ini tertidur sambil terduduk seperti ini." ucap Aaron.
Riki dan Rosa pun juga sependapat dengan calon menantu mereka. Bahkan mereka juga menyarankan jika Aaron yang menggendong putri mereka hingga sampai di mobil.
Dan itu semua justru membuat Aaron selalu mengembangkan senyumnya. Sedangkan Audrey hanya diam saja saat Aaron mengambil alih tubuh mungil itu dari pelukannya.
Saat ini Rosa dan Riki berjalan di depan, dan Aaron bersama dengan Audrey hanya mengekori sepasang suami-istri paruh baya tersebut.
"Terimakasih, Sayang. Akhirnya sebentar lagi akan memiliki kalian seutuhnya, dan perjuangan ku pun juga tidak sia-sia. I Love you, Audrey." bisik Aaron tepat di samping telinga Audrey.
CUP!
DEGH!
Kecupan singkat di pipi wanita muda itu pun juga tidak luput dari bibir Aaron. Sehingga membuat kedua bola mata wanita muda tersebut membulat sempurna.
'Perasaan apa ini? Mengapa jantungku berdegup kencang saat dia memberikan kecupan singkat dan lembut itu?' batin Audrey.
__ADS_1