
"Hay, gadis manis? Masih ingat sama uncle?" tanya pria asing yang saat ini sedang berada di depan Kimberly.
Kimberly yang sedang asyik bermain, kini merasa sangat terkejut dengan kehadiran sosok pria asing yang saat ini berada tepat di depannya.
Fani yang mengetahui kejadian itu, langsung menghampiri dan menatap tajam ke arah pria asing tersebut. Dia tidak ingin terjadi sesuatu hal kepada putri sekaligus cucu majikannya.
"Mohon maaf, Tuan! Anda siapa? Dan untuk apa Anda mendekati cucu majikan saya?" ketus Fani.
Ya, pria asing itu adalah Aaron Vincent Rich. Ayah biologis dari Kimberly. Dia memang sengaja ingin melakukan pendekatan dengan putrinya. Namun, siapa sangka? Jika ternyata gadis kecil itu memiliki pengawal yang super jutek dan judes, seperti Fani.
"Oh.. maaf, Nona. Perkenalkan nama saya....."
Belum selesai Aaron memperkenalkan dirinya. Kini Fani langsung memotong ucapan Aaron dengan tatapan mata tajam. Fani yang selalu memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, saat ini sedang menaruh rasa curiga kepada Aaron.
__ADS_1
"Anda tidak perlu memperkenalkan diri Anda, Tuan. Langsung saja, apa tujuan Anda mendekati majikan kecil saya? apakah Anda ingin berbuat jahat kepadanya?" tanya Fani masih dengan nada ketusnya.
Aaron pun kini merasa takjub dengan kesiagaan gadis itu. Semua itu membuat dia semakin tertantang untuk mempermainkan emosi gadis jutek tersebut.
"Coba saja Anda tanyakan kepada gadis manis ini. Apakah dia pernah bertemu dengan saya disini?" cetus Aaron dengan penuh percaya diri.
Kimberly yang sejak tadi menyimak perdebatan antara dua orang dewasa itu, hanya bisa menghela napas panjang dan mulai melerai keduanya.
Semua itu terjadi karena saat dia melihat cucu kesayangannya, di saat itu juga dia melihat pria asing itu di dalam diri cucunya. Mereka berdua bagai pinang terbelah dua, benar-benar mirip. Hanya saja bulu mata lentik dan mata hazelnya sedikit mirip dengan Audrey.
"Maaf, Tuan! Apakah ada masalah, sehingga kalian sampai berdebat di depan anak kecil?" ujar Rosa dengan sopan.
Aaron yang menyadari bahwa saat ini dia sedang terpojokkan, kini mulai memutar kembali otaknya. Yang awalnya dia ingin sedikit bermain-main dengan Fani, kini dia mulai beraksi untuk mendekati calon mertuanya.
__ADS_1
"Em, maaf, Nyonya! Saya tidak bermaksud untuk mengganggu gadis manis ini. Hanya saja saya tidak sengaja melihatnya lagi di taman ini. Karena pertama kali saya juga bertemu dengan gadis manis ini, dan Ibunya saat itu. Dan saat ini, kita juga bertemu kembali tanpa sengaja. Saya juga hanya sekedar ingin menyapanya, jika saja dia masih mengingat wajah saya." ujar Aaron dengan seulas senyum manis.
Fani yang melihat perubahan sikap Aaron, kini sedikit merasa geram dengan sandiwara yang sedang dimainkan oleh Aaron. Ingin rasanya gadis itu mencakar-cakar wajah pria asing yang saat ini berada di depannya.
'Seandainya saja Nyonya besar tidak ada di sini. Sudah habis bedebaah itu di tanganku.' gerutu Fani dalam hati.
Sedangkan Rosa yang mendengar penjelasan dari Aaron, kini langsung menatap lekat wajah cucu kesayangannya untuk meminta jawaban.
"Iya, Oma. Uncle ini memang pernah bertemu denganku dan Mommy. Saat itu aku sedang mengajak Mommy untuk bermain di taman ini, dan tanpa sengaja aku menabrak uncle ini hingga kakiku terluka. Setelah itu Mommy datang mencari ku, dan menemukan ku sedang menangis." terang Kimberly dengan jujur.
Gadis kecil itu memang selalu berkata jujur apa adanya, dan tidak pernah sedikitpun untuk berkata bohong. Karena sejak kecil Audrey memang telah mendidik putrinya, agar selalu berkata jujur dan terbuka kepada orang terdekatnya.
'Kenapa aku memiliki firasat yang tidak baik saat ini? Apakah feeling ku tidak salah?' batin Rosa.
__ADS_1