
"Drey, keluarlah! Biarkan Kak Rey menenangkan dirinya terlebih dahulu, sebelum dia menikah." pinta Faishal yang mencoba untuk menengahi Kakak beradik itu.
Namun, siapa sangka jika ucapan kedua pria itu sama sekali tidak dihiraukan oleh wanita muda itu. Dan justru semua itu membuat wanita muda itu terkekeh di sela derai air matanya.
"Hahaha... Jadi benar kan, jika kalian sudah tidak menyayangiku lagi? Lalu untuk apa aku disini? Percuma juga jika kehadiran ku di rumah ini sama sekali tidak diharapkan oleh kedua kakakku." racau Audrey.
Faishal yang melihat luka diantara Kakak beradik itu, kini merasa kebingungan untuk menjelaskan semuanya kepada adik perempuannya.
"Baiklah. Kalian tenang saja. Dengan diamnya dan pengusiran ini, aku sangat yakin dengan posisiku saat ini. Terimakasih." ucap Audrey.
Kini wanita muda itu langsung melenggang pergi dari kamar Reyhan. Sedangkan Reyhan kini hanya bisa menahan rasa sakit yang mulai menggerogoti hatinya.
Benar-benar sungguh sakit sekali, di saat kita melihat orang yang kita cintai mengeluarkan buliran-buliran bening itu. Tetapi kita tidak bisa menyentuh untuk menghapus buliran bening tersebut.
"Kak Rey? Are you okay?" tanya Faishal saat berada di samping Reyhan.
__ADS_1
Reyhan pun hanya bisa menghela napas panjang sambil tersenyum getir ke arah Faishal. Sejujurnya pria yang hendak menikah itu belum sepenuhnya bisa merelakan wanita kedua yang menjadi pengisi hatinya, setelah Ibunya.
.
.
"Sayang, kamu kenapa? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Aaron saat melihat istrinya sedang sesegukan.
Wanita muda itu pun langsung menganggukkan kepalanya, dan langsung berhambur ke dalam pelukannya.
Aaron yang belum mengerti dengan situasi yang sedang mereka hadapi, kini langsung memeluk erat tubuh mungil istrinya agar bisa sedikit membantu untuk meredakan tangisnya.
"Baiklah. Tetapi kita harus berpamitan kepada Ayah dan Ibu dulu ya? Karena saat ini Cimmy juga sedang bersama dengan mereka." ucap Aaron dan langsung mendapatkan anggukan dari istrinya.
Sepasang suami-istri paruh baya itu pun langsung menyadari kehadiran menantu, dan putrinya yang menghampiri mereka. Tetapi mereka juga sangat terkejut saat melihat putri kesayangan mereka, saat ini menangis sesenggukan saat berada di samping suaminya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Sayang? Apakah Kakakmu yang telah membuatmu seperti ini?" tanya Rosa dengan tatapan penuh selidik.
Audrey yang tidak ingin memperkeruh suasana dan membuat acara menjadi kacau, kini wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Bu. Hanya saja aku merasa sedikit pusing dan lelah saja. Dan aku kemari juga ingin berpamitan kepada kalian, untuk membawa Cimmy pulang ke rumah." ucap Audrey dengan suara parau.
Riki yang masih belum bisa mempercayai ucapan Audrey, kini masih bergeming dan menatap lekat wajah putri kesayangannya.
Audrey yang mengerti dengan tatapan dari sang Ayah, dengan cepat wanita muda itu langsung memeluk dan mencium lembut pipi pria paruh baya itu.
"Semoga acaranya lancar, Yah, Bu. Kami permisi dulu. Assalamu'alaikum?" ucap Aaron dan Audrey secara bersamaan.
Kimberly yang sejak tadi hanya diam, kini langsung mengikuti langkah kaki kedua orangtuanya. Meskipun sebenarnya gadis itu masih ingin berada di sana, dan ingin menyaksikan pamannya menikah dengan pengasuhnya.
Sesampainya di mobil, Aaron masih bergeming dan menyandarkan kepalanya di bangku mobilnya. Dia sengaja melakukannya agar istrinya membuka suaranya terlebih dahulu, dan menceritakan tentang kejadian yang membuatnya menangis.
__ADS_1
"Apakah kamu akan terus-menerus memendamnya sendirian? Dan apakah kamu sudah tidak membutuhkanku untuk membagi masalahmu?" cecar Aaron.