
Setelah bakda Isya, akhirnya Ijab Qobul pun terlaksana dengan lancar. Dengan satu tarikan napas saja, Aaron bisa melafalkannya dengan suara lantang.
Semua para saksi dan tamu undangan dengan serentak mengucapkan kata SAH untuk sepasang pengantin baru. Kimberly yang juga menjadi saksi pernikahan antara kedua orangtuanya, kini langsung mengembangkan senyumnya.
'Terimakasih Mom. Karena sudah rela berkorban untuk kebahagiaan Cimmy.' batin Kimberly.
Di saat seluruh keluarga dan tamu merasakan kebahagiaan atas pernikahan Aaron dan Audrey. Di lain sisi ada seorang pria yang sedang merasakan sebuah kehancuran, karena telah kehilangan sosok wanita yang dicintainya.
Siapa lagi pria itu kalau bukan Reyhan? Seorang Kakak yang seharusnya mendampingi adik perempuannya di saat pernikahannya, kini pria itu justru melenggang pergi sambil menahan gemuruh di dalam hatinya.
Pria itu pun langsung pergi dengan mengemudikan mobilnya. Di sepanjang perjalanan, Reyhan terus menambah kecepatan mobilnya hinggap melebihi batas maksimum.
"Brengseek! Ternyata sesakit ini, di saat kita tidak bisa memiliki wanita yang sangat kita cintai." maki Reyhan sambil memukul-mukul kemudinya.
Hanya satu tempat yang sering dia kunjungi akhir-akhir ini. Dimana lagi, kalau bukan bar? Tempat yang selalu menjadi pelampiasan atas sakit hatinya.
__ADS_1
.
.
Malam pun semakin larut, Reyhan yang sudah merasa sangat pusing. Kini memutuskan untuk keluar dari bar tersebut, dan bergegas untuk pulang ke rumah.
Di sepanjang perjalanan Reyhan terus saja meracau sambil menyebutkan nama Audrey. Saat ini pria dewasa itu belum bisa menerima kenyataan, jika adik perempuannya sudah menjadi milik orang lain.
"Kamu jahat, Drey! Kenapa kamu justru memilih badjingan itu, daripada aku, huh?! Apa kurangnya aku jika dibandingkan dengan si brengseek itu?" racau Reyhan di sepanjang perjalanan.
Tepat pukul sebelas malam, akhirnya Reyhan sampai dikediaman Wijaya. Dengan langkah sempoyongan pria itu berjalan dengan membawa satu botol bening di tangannya.
Saat memasuki rumah itu, Reyhan langsung membanting botol itu tepat di depan seorang gadis yang baru saja tiba di rumah tersebut.
"Astaghfirullah, Tuan Reyhan!" pekik gadis itu.
__ADS_1
Reyhan yang saat ini sudah mabuuk berat, kini melihat gadis itu seperti sosok adik perempuannya. Atau lebih tepatnya adalah wanita yang dicintainya.
Perlahan pria dewasa itu pun langsung menghampiri gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Sesaat gadis itu terdiam saat berada di dalam pelukan pria yang diam-diam dia cintai.
"Drey, akhirnya kamu kembali. Apakah kamu membatalkan pernikahan itu, dan memilih untuk menikah denganku? Hahaha...." racau Reyhan.
Gadis yang bernama Fani kini langsung tersadar, dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri dari pelukan Reyhan.
Setelah berhasil terlepas, Fani membawa tubuh kekar itu dengan susah payahnya. Setelah sampai di dalam kamar Reyhan, Fani langsung membaringkan tubuh kekar itu dan berniat langsung meninggalkannya.
Namun, saat gadis itu hendak membalikkan badannya. Tiba-tiba dengan gerakan cepat, Reyhan langsung menarik lengan Fani hingga bertabrakan dengan dada bidangnya.
"Akh! Tu-an, ini Saya Fani. Tolong lepaskan Saya!" pinta Fani dengan raut wajah yang memucat.
Fani pun menyadari jika saat ini Reyhan tidak bisa untuk berpikir jernih, karena pengaruh alkohol yang sangat kuat.
__ADS_1
"Diamlah, Sayang! Aku tau jika kamu juga mencintaiku 'kan?" racau Reyhan lagi.
Dengan seluruh tenaga yang masih tersisa, Fani mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan Reyhan. Saat ini gadis muda itu juga menyadari jika majikannya sudah hilang kendali.