
Keesokan harinya...
"Dimana istrimu, Boy? Mengapa dia tidak ikut turun?" tanya Reza saat melihat putra semata wayangnya datang seorang diri.
Aaron yang sedang merasa bahagia kini langsung memberikan senyuman lebar kepada sang Ayah yang masih menatapnya penuh keheranan.
"Istriku masih tidur, Dad. Karena jam tiga tadi kita baru tidur." sahut Aaron tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Reza pun seketika terperangah saat mendengar jawaban dari putranya. Dia tidak mengira ternyata mantan Cassanova sepertinya masih memiliki stamina yang prima.
"Jangan kaget, Dad! Bukankah aku ini juga menurun darimu? Jadi jangan heran jika aku bisa setangguh itu untuk mencetak gol berkali-kali." timpal Aaron lagi.
"Halah! Paling juga sekali tancap langsung keluar itu. Jadi kamu mintanya berkali-kali 'kan?" sewot Reza.
Ameera yang baru saja keluar dari kamarnya, kini langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka untuk mencari menantu kesayangannya.
"Jangan mencari menantu kesayangan kamu, Sayang! ManCas ini sudah menggempurnya hingga pagi. Dan bisa dipastikan jika dia akan bangun siang nanti karena ulah dia tuh." celetuk Reza sambil mengarahkan dagunya kepada Aaron.
Aaron yang masih bersikap seperti biasa, kini hanya menaik-turunkan alisnya disertai dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Pantas saja sejak pagi sang mentari cahayanya sudah sangat cerah sekali. Jadi di sini sedang ada seseorang yang sedang bahagia tak terkira." sindir Ameera sambil menghempaskan bokongnya di samping suaminya.
Karena mood Aaron pagi ini sangat baik jadi dia sama sekali tidak merasa tersinggung, bahkan dia merasa bangga karena bisa melumpuhkan pertahanan istri tercinta.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, dan Aaron langsung bergegas untuk pergi ke kantor untuk melakukan meeting dengan klien luar negerinya.
"Baiklah, Mom, Dad. Aku berangkat dulu ya? Titip istriku. Jika nanti dia bangun, tolong minta Bi Sari untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar. Karena aku yakin jika istriku merasa sangat kelelahan." ujar Aaron setelah mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Sepasang suami-istri paruh baya itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Melihat putranya yang sedang berada di puncak kebahagiaan, membuat mereka ikut merasakannya.
"Semoga saja mereka selalu dilimpahkan kebahagiaan ya, Dad. Dan setelah ini aku juga berharap mendapatkan kabar baik dari mereka." harap Ameera setelah putranya menghilang di balik pintu.
"InsyaALLAH, Sayang. Percayalah! Sekuat apapun badai yang menerjang kehidupan mereka. Jika mereka memiliki pondasi yang kokoh, yaitu komitmen dan kesetiaan. Aku pastikan mereka akan selalu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Dan tentang kabar baik itu, kita juga harus mendo'akan mereka juga agar bisa mendapatkan rejeki itu kembali." timpal Reza dengan seulas senyum.
Apa yang dikatakan oleh Reza saat ini adalah salah satu dari sekian banyaknya badai yang hampir menggoyahkan komitmen mereka. Bahkan beberapa kali kesalahpahaman sering terjadi kepada pasangan suami-istri itu.
"Iya, Dad. Aku juga berharap jika mereka bisa sekuat kita. Bahkan kamu yang sudah sepuh seperti ini saja, masih banyak gadis centil yang mencoba untuk menggodamu. Untung saja imanmu kuat." sindir Ameera secara halus.
Seketika bibir pria itu langsung mengerucut karena sindiran itu terus saja dilontarkan oleh istrinya, karena kesalahpahaman beberapa kali yang tanpa sengaja.
"Sudah dong, Sayang. Itu kan cuma kesalahpahaman saja. Kan aku juga sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Jadi tolonglah, jangan diungkit terus!" rengek Reza dengan raut wajah yang memelas.
Wanita itu pun akhirnya mengalah dan hanya menghela napas panjang. Sejujurnya dia juga tidak ingin membuat suasana menjadi rumit karena perdebatan sepele.
"Baiklah. Tetapi hari ini kamu harus menebus semuanya dengan harga mahal. Dan aku yakin kamu pasti sudah mengerti apa maksudku, Dad." ucap Ameera sambil menyunggingkan senyuman manis.
Ameera yang sudah sangat hafal bagaimana perangai suaminya yang menginginkan imbalan lebih dulu sebelum mengikuti keinginannya.
Bahkan di sepanjang perjalanan menuju ke kamar. Wanita itu masih mengerucutkan bibirnya karena tubuhnya masih sangat lelah akibat tempur semalaman.
"Kebiasaan deh. Padahal semalaman Daddy sudah membuat tubuhku seperti remuk. Dan pagi ini juga masih menginginkannya lagi. Dasar, tua-tua keladi!" ketus Ameera saat berada di dalam kamar.
"Ayolah, Sayang! Sekali saja. Dan setelah itu aku akan menemanimu kemanapun kamu mau. Aku janji tidak akan mengeluh lagi." ujar Reza.
Percuma saja jika Ameera menolaknya. Karena jika sudah seperti ini pria itu bisa membuat seorang Ameera terbuai, dengan sentuhan-sentuhan lembut dari pria yang berstatus sebagai suaminya.
__ADS_1
Dan benar saja, baru beberapa menit Ameera bersikap ketus kepada suaminya. Kini semua itu berbanding terbalik saat pria itu memegang kendali permainan panas di pagi hari ini.
"Ught, Honey! Hurry up don't play me like this I really want something more. Aaahh...." racau Ameera sambil menekan punggung suaminya yang saat ini masih berada di pangkal pahanya.
Reza yang selalu berhasil mengendalikan istrinya, kini langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, Sayang. Apapun yang kamu inginkan, pasti akan selalu aku penuhi." timpal Reza yang mulai memasukkan senjata pamungkasnya ke dalam lorong pengaman milik Istrinya.
Pagi itu rutinitas olahraga mereka beralih ke dalam kamar. Padahal sebelumnya mereka selalu jalan-jalan pagi untuk menikmati udara pagi yang segar saat berada di negara tetangga.
Akhirnya sepasang suami-istri itu menikmati mandi peluhnya, meskipun di dalam ruangan itu ada AC yang menyala. Tetapi itu sama sekali tidak berfungsi, karena keringat mereka saling bercucuran saat melakukan olahraga panas tersebut.
Suara lenguhan kembali terdengar saat Reza meraup pucuk merah jambu milik istrinya yang saat ini sudah menegang. Bahkan saat Ameera meracau, Reza selalu menghentaknya hingga akhirnya pelepasan itu terjadi.
"Aaahh.... Sayaaaaggg..."
Kedua orang itu pun akhirnya selesai melakukan rutinitas olahraga panas mereka. Napas mereka yang saling memburu, kini telah menjadi saksi bisu jika permainan telah usai.
"Kamu memang selalu bisa memuaskan aku, Sayang. I love you so much, Baby?" puji Reza disertai ciuman lembut di bibir ranum istrinya.
"I love you more." sahut Ameera.
"Bisakah kita tidur sebentar, Dad? Tubuhku sangat merasa lelah sekali." pinta Ameera.
Apa yang baru saja di dengar oleh Reza, sukses membuat senyumannya kembali mengembang. Karena jika sudah seperti ini dia bisa melakukan apapun, apalagi tubuh mereka masih sama-sama polos.
"Baiklah, Sayang. Kamu bisa melakukan apapun sesukamu." ucap Reza.
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian, Ameera sudah terlelap di dalam mimpinya. Sedangkan Reza kini justru kembali kelimpungan karena senjatanya kembali turn-on, saat benda kenyal istrinya kembali menempel tubuhnya yang masih polos.
"Shitt! Dasar, senjata mesum!" umpat Reza.