
Tap...
Tap...
Tap...
Setelah beberapa saat berdebat dengan keluarganya. Tiba-tiba Audrey dikejutkan dengan kedatangan salah satu pembantu di keluarga Wijaya, yang selalu dia tugaskan untuk menjaga putrinya.
"Nyo-Nyonya?" panggil Fani dengan raut wajah yang sedang kebingungan.
Reyhan yang masih berdiri sambil menatap tajam ke arah adik perempuannya, kini beralih kepada sosok gadis yang selalu saja membuat dia tidak nyaman.
Audrey yang melihat sorot kekhawatiran dari Fani, kini langsung menghampiri gadis itu tanpa menghiraukan Kakak sulungnya.
"Ada apa, Fan? Mengapa kamu berlarian seperti ini?" tanya Audrey.
Fani yang sedikit merasa takut dan canggung kepada putra sulung keluarga Wijaya, kini hanya bisa menundukkan kepalanya sambil memberikan kabar yang tidak baik.
__ADS_1
"I-itu, Nyonya. Nona Kimberly badannya panas sekali. Dan saat saya cek, ternyata panasnya hampir 40°C." jelas Fani.
Saat mendengar ucapan dari Fani, semua orang yang berada di sana langsung berlari dan menyusul wanita muda itu.
Sesampainya di dalam kamar yang bernuansa serba merah muda itu, Audrey langsung menghampiri putrinya. Namun, belum juga dia sampai di tepi ranjang itu, wanita muda itu justru dikejutkan dengan ucapan putrinya.
"Dad-daddy? Dad-daddy? Cimmy ingin dipeluk sama daddy! Kemarilah, dad! Jangan pernah tinggalkan Cimmy lagi!" ucap Kimberly dengan mata yang terpejam.
Audrey yang mendengar ucapan putrinya, sesaat kemudian langsung tertegun dan terpaku di tempat. Bahkan untuk menggerakkan kakinya pun terasa sangat berat.
Reyhan dan Riki yang sempat mendengar ucapan dari gadis kecilnya. Mereka pun ikut tertegun dan saling beradu pandang.
Ketiga orang dewasa yang masih bergeming di tempat, seakan enggan untuk menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya itu.
"Cepat! Kalian harus membawanya pergi ke Rumah Sakit!" titah Rosa kepada Reyhan dan Faishal.
Faishal yang sejak tadi berdiri di samping Ibunya, kini langsung bergerak dengan cepat dan segera menggendong tubuh mungil itu.
__ADS_1
"Tunggu, Kak! Aku tau apa yang menyebabkan Cimmy bisa seperti ini. Dan semua ini ada kaitannya dengan pria itu." cetus Audrey.
Faishal yang sudah berada di ambang pintu, seketika langsung menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya kembali ke arah wanita muda itu.
"Apa maksudmu, Drey? Mengapa kamu mengatakan hal itu lagi di saat situasi sedang genting seperti ini?" tanya Rosa sambil memandangi ketiga orang dewasa itu secara bergantian.
Reyhan yang masih belum bisa menerima keputusan dari Audrey, kini hanya menarik lengan adik laki-lakinya agar kembali berjalan dan segera membawa gadis kecil mereka.
"Cepat, kita harus segera membawa Cimmy pergi ke Rumah Sakit! Dan jangan kalian hiraukan ucapan wanita itu!" titah Reyhan dengan tegas.
Faishal dan Rosa pun langsung mengikuti langkah kaki panjang Reyhan, tanpa menghiraukan ucapan dan panggilan dari Audrey.
Saat ini yang mereka pikirkan adalah kesehatan gadis kecil itu, dan mereka juga tidak ingin melihat sosok yang mereka cintai sakit seperti ini.
"Daddy?" panggil Kimberly.
Faishal, Rosa dan Reyhan pun masih bergeming tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Entah mereka hanya berpura-pura tidak mengetahui atau justru menulikan pendengaran mereka.
__ADS_1
'Astaga! Ternyata Cimmy bisa seperti ini karena pria itu.' batin Rosa.
'Ya Tuhan, mengapa gadis manis ini harus mengalami tekanan batin seperti ini?' gumam Faishal dalam hati.