
"Kaki Anda kenapa, Pak Aaron? Mengapa anda berjalan pincang?" tanya Reyhan saat melihat Aaron berjalan sambil mendesis.
Aaron pun langsung tersenyum tipis dan menahan rasa sakit di kakinya. Dia tidak ingin terlihat seperti orang yang lemah di depan calon kakak iparnya.
"Oh, tidak apa-apa, Pak Rey. Tadi sewaktu di toilet saya terpeleset saat berjalan tergesa-gesa." dusta Aaron agar Reyhan tidak mencurigainya.
Reyhan yang mendengar penjelasan dari koleganya hanya manggut-manggut, lalu mempersilahkan duduk kembali.
Aaron pun menyapu setiap sudut ruangan yang bernuansa serba putih tulang tersebut, dan dia pun langsung menyadari jika wanitanya sudah tidak ada di sana.
'Oh, ****! Ternyata dia sudah pergi dari sini. Lihat saja Audrey! Sejauh mana kamu akan menghindari ku.' batin Aaron.
"Em, sepertinya waktu untuk meeting sebentar lagi akan dimulai, Pak Aaron, Pak Tirta. Mari kita berpindah ke ruangan yang tadi saya perlihatkan sebelumnya!" pinta Faishal dengan sopan.
Aaron, Tirta dan Reyhan pun mengekori Faishal yang sudah lebih dulu berjalan. Setelah sampai dan semua orang berkumpul, akhirnya meeting itu pun langsung di mulai dan di pimpin langsung oleh Reyhan.
***
Satu jam telah berlalu, dan rapat pun telah usai. Akhirnya Aaron dan Tirta pun sangat puas dengan presentase yang dilakukan oleh Reyhan. Pria matang dengan sejuta pesonanya, membuat para wanita yang hadir di sana terpana.
Setelah rapat selesai, akhirnya Aaron dan Tirta pun langsung izin untuk diri kepada sang Wakil Direktur dan Asisten pribadinya, yaitu Reyhan dan Faishal.
Kepergian kedua pria matang itu, langsung mengalihkan pandangan Reyhan kepada Faishal.
Sedangkan Faishal yang menyadari bahwa saudara laki-lakinya, akan memberikan tugas kembali kepadanya, hanya bisa pasrah dan mendengus.
"Ada apa lagi, Kak Rey? Jangan memberikan tatapan itu lagi kepadaku! Aku benci dengan tatapan mata tajam elangmu, yang seperti hendak menerkam ku." keluh Faishal sambil mendengus kesal.
Reyhan yang mendengar keluhan adiknya laki-lakinya, kini semakin memberikan tatapan tajam sambil tersenyum smirk.
__ADS_1
"Kamu memang sudah pandai menebak sesuatu ternyata, Fai. Tidak sia-sia aku sering memberikan pelatihan mental kepadamu." cetus Reyhan dengan santainya.
"Katakanlah, Kak Rey! Bukankah Anda tidak suka berbasa-basi?" sindir Faishal sambil mencebikkan bibirnya.
Reyhan yang merasa sangat gemas dengan tingkah Adik laki-lakinya, kini masih bersikap santai dan sedikit menguji kesabarannya.
Sedangkan Faishal yang sudah hafal dengan perangai seorang Reyhan, hanya menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut.
"Ikuti aku! Kita bicarakan ini di ruanganku saja. Karena aku tidak ingin CCTV yang berada di ruangan ini ikut merekam pembicaraan pribadi kita." ujar Reyhan, yang kemudian langsung bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke ruangan kesayangannya itu.
Faishal pun kembali mendengus kesal, baru saja dia ingin sedikit bersantai dengan menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut. Sang Wakil Direktur pun langsung memberikan perintah, dan dia pun mau tidak mau harus mengikutinya.
"Apa-apaan ini?! Tadi saat aku sudah bersiap, dia malah bersantai. Tetapi saat aku ingin bersantai sejenak, dia justru memberikan perintah. Untung saja dia kakakku, kalau bukan pasti sudah.... Huft?! sabar Fai, sabar!' gumam Faishal sambil menggerutu.
Saat ini jaraknya dengan Reyhan memang sedikit jauh, jadi Reyhan tidak akan mendengar suara Faishal yang sedang menggerutu.
"Percepat langkah mu, Fai! Jangan berjalan lamban seperti siput!" titah Reyhan saat melihat sang adik masih tertinggal jauh di belakangnya.
Ceklek!
Setelah tiba di ruangan tersebut. Akhirnya Reyhan dan Faishal pun langsung duduk di sofa, untuk membicarakan tentang bagaimana langkah yang harus dilakukan.
"Fai?" panggil Reyhan dengan suara lembut.
"Iya, Kak Rey." sahut Faishal dengan santai.
"Apa kamu juga memikirkan hal yang sama dengan ku saat ini?" tanya Reyhan sambil menatap lekat wajah adik laki-lakinya.
Faishal pun langsung mengernyitkan dahinya, karena dia tidak tau apa yang dimaksud oleh kakaknya.
__ADS_1
"Maksud Kak Rey?" tanya Faishal yang masih merasa kebingungan.
"Ckk! Ternyata otakmu masih sama lambannya dengan pergerakan mu, Fai." maki Reyhan.
"Apa kamu tidak menyadari bahwa Audrey seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari kita, sejak kedatangan Pak Aaron dan asisten pribadinya itu? Bahkan, beberapa saat setelahnya dia seperti menghindari pria itu, dengan alasan mencari angin segar. Apakah kamu tidak menaruh curiga kepada adik perempuan kita?" cecar Reyhan yang memberikan tatapan tajam kembali kepada Faishal.
Faishal yang sedang menimbang-nimbang ucapan kakaknya, kini langsung memikirkan hal yang sama dengannya.
"Kamu benar, Kak Rey. Bahkan setelah kepergian Audrey, Pak Aaron juga ikut keluar dari ruangan ini dengan berasalan menjawab panggilan dari kliennya 'kan?" ucap Faishal dengan sedikit ragu.
"Ternyata kamu langsung tanggap juga dengan ucapan ku, Fai. Dan apakah kamu menyadari sesuatu?" tanya Reyhan yang ingin menguji seberapa peka dia kepada adik perempuan mereka.
"Em, sepertinya tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Kak Rey. Memang ada yang aneh ya?" ucap Faishal dengan santai.
Reyhan yang mendengar ucapan Faishal, kini langsung merasa geram dengan ketidakpekaan nya kepada Audrey.
"Dasar Bodooh! Kamu memang Kakak yang tidak pernah peka kepada adik perempuan kita, Fai. Apakah kamu tidak menyadari, saat Audrey tiba-tiba kembali ke ruangan ini untuk mengambil tasnya, dan langsung ingin kembali pulang ke rumah? Dan setelah kepergian Audrey, Pak Aaron datang dengan kaki sebelahnya yang pincang, dengan berasalan terpeleset di dalam kamar mandi? Apakah kamu tidak mencurigai sesuatu, Faishal Raka Wijaya?" cecar Reyhan yang merasa sangat geram.
Faishal yang mendengar ucapan Reyhan, masih mencerna setiap kata dari pria matang tersebut. Setelah berhasil menyatukan kedua alasan dari dua orang yang berbeda, akhirnya dia pun juga menyadarinya.
"Astaga! Kamu benar, Kak Rey. Apakah Audrey memang sengaja menghindari Pak Aaron? Atau jangan-jangan Pak Aaron adalah........" Faishal yang tidak berani melanjutkan ucapannya, kini hanya menatap Reyhan yang memberikan tatapan tajam mematikan kepadanya.
"Ayah dari putri Audrey, atau lebih tepatnya Ayah kandung dari Kimberly. Tetapi ini baru dugaan kita, Fai. Dan untuk lebih jelasnya, kamu harus melakukan penyelidikan kepadanya. Jika perlu, kamu harus mendapatkan sesuatu dari pria itu, seperti sehelai rambutnya atau apapun itu. Agar kita bisa mencocokkan dengan Kimberly kecil kita." tegas Reyhan.
Faishal yang kini juga berantusias untuk menyelidiki tentang kasus yang menimpa adik perempuannya, kini langsung melakukan perundingan dengan Reyhan.
"Jadi setelah kamu mendapatkan semua itu, kita harus bergerak cepat agar bisa mendapatkan semua jawaban yang jelas dan pasti. Dan nanti jika dia memang terbukti sebagai pelaku itu, maka aku sendiri yang akan memberikan perhitungan kepada pria badjingan itu!" geram Reyhan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Dengan cepat Faishal langsung keluar dari ruangan itu, dan segera mengambil benda pipih dari sakunya.
__ADS_1
"Halo?"