Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
72. Dasar perusuh!


__ADS_3

"Apa? Ada apa ini sebenarnya, Yah? Mengapa kalian membuat acara tanpa memberitahu ku? Apakah aku di sini sudah tidak dianggap dan dianak tirikan?" cecar seorang pria yang baru saja memasuki ruang keluarga.


Riki pun kini hanya menghela napas panjang, saat melihat sosok yang datang di saat waktu yang tidak tepat. Pria paruh baya itu yakin, jika masalah ini sudah di dengar olehnya. Pasti kabar ini akan langsung sampai di telinga putri kesayangan mereka.


"Apakah kamu sudah tidak memiliki sikap sopan santun, Fai? Sehingga masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam." sindir Riki kepada putra keduanya.


Seseorang yang baru saja datang adalah Faishal. Pria yang selalu merasa sangat dibedakan dari kedua saudaranya. Padahal sebenarnya orangtua mereka sedikitpun tidak pernah membedakan antara satu dengan yang lainnya.


"Duduklah jika kamu ingin mengetahui tentang pembahasan kami. Dan aku harap kamu tidak membuat kekacauan setelah mengetahuinya." tegas Reyhan dengan tatapan mata tajam.


Faishal yang mendapatkan tatapan itu, kini langsung mengedikkan bahu tanpa sedikitpun merasa takut kepada kakaknya.


Pria itu memang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Kakaknya, tetapi di saat ada hal yang sangat serius dia juga bisa untuk mengimbanginya.

__ADS_1


"Em... Aku tidak berjanji ya, Kak? Tapi kalau semua untuk kebaikan kita semua, aku bisa untuk mempertimbangkannya." ucap Faishal dengan santai.


"Dasar perusuh!" gerutu Reyhan.


Faishal pun langsung terkekeh, saat mendengar Kakaknya yang selalu menggerutu akibat dari kejahilannya.


"Tidak perlu menghiraukan ucapan dia, Rey. Biarkan saja dia seperti itu, bukankah itu sudah menjadi kebiasaannya?" ujar Rosa sambil mengusap lembut lengan putra sulungnya.


"Jadi kamu sudah yakin akan menikahi Fani malam ini juga? Apakah ini tidak terburu-buru, Rey? Em.. maksud Ayah, apakah tidak sebaiknya kita menyusun rencana untuk membuat acara Ijab Qobul dan resepsi seperti adik perempuan mu?" tanya Rosa dengan hati-hati.


Sejujurnya pria itu belum memikirkan tentang acara resepsi yang akan dia selenggarakan. Karena dia pun juga belum menanyakan perihal tentang acara ini kepada calon istrinya.


Fani yang sejak tadi duduk di samping Reyhan, kini hanya menundukkan kepalanya sambil meremaas bajunya menggunakan satu tangannya.

__ADS_1


"Jadi menurut mu bagaimana, Fan? Apakah kamu tidak ingin membuat acara yang meriah untuk acara resepsi kalian?" tanya Rosa kepada calon menantunya.


Wanita paruh baya itu kini menyadari, jika Fani masih enggan untuk membuka suaranya dan mengutarakan pendapat tentang pernikahan dadakan mereka.


"Biarkan aku yang akan mengurus semuanya nanti, Bu. Yang terpenting sekarang, kami SAH secara agama dan negara. Masalah resepsi, nanti kalian akan terima beres saja. Iya 'kan, Fai?" ujar Reyhan sambil menatap tajam ke arah adik laki-lakinya.


Faishal yang sejak awal sudah memiliki firasat yang kurang baik. Kini hanya bisa pasrah sambil menganggukkan kepalanya dengan rasa terpaksa.


"Baiklah. Terserah kamu saja lah, Kak. Menolak juga percuma saja. Pasti ujung-ujungnya akan ada ancaman yang akan kamu katakan kepadaku." ucap Faishal sambil mencebikkan bibirnya.


Sepasang suami-istri itu pun langsung tertawa lepas, saat mendengar jawaban dari putra kedua mereka. Sejak awal sudah mereka duga, jika Reyhan akan melibatkan adik laki-lakinya untuk mempersiapkan segalanya.


"Nasib-nasib jadi jomblo. Setelah adiknya menikah, kini gantian Kakaknya yang menikah. Terus akunya kapan?" gerutu Faishal.

__ADS_1


__ADS_2