Mengejar Cinta, Ibu Anakku!

Mengejar Cinta, Ibu Anakku!
90. Undangan Makan Malam


__ADS_3

"Kak, malam ini kita diundang oleh Ayah dan Ibu untuk makan malam bersama. Apakah Kak Aar bersedia untuk datang?" ujar Audrey dengan ragu-ragu.


Bukan tanpa sebab dia ragu untuk mengatakan hal itu kepada suaminya. Karena jika mereka diundang pasti Kakak sulung dan istrinya juga akan hadir di sana.


"Sayang, mengapa kamu harus menanyakan hal itu kepadaku? Bukankah seharusnya kita harus datang?" tanya Aaron sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya.


Audrey yang melihat tatapan penuh kasih sayang dari suaminya, seketika langsung mengembangkan senyumannya sehingga tanpa sadar dia langsung memeluk tubuh kekar suaminya.


Aaron yang mendapatkan serangan dadakan, akhirnya terjengkang di atas ranjang karena tidak ada persiapan untuk menyambut pelukan dadakan itu.


BUGH!


Audrey yang ikut terjengkang suaminya, saat ini posisinya berada tepat di atas tubuh suaminya.


Tatapan mata mereka pun seketika terkunci dan jarak diantara mereka pun sedikit terkikis.


Tok...


Tok...


Tok...


"Mom, Dad apa kalian di dalam?!" pekik Kimberly.


Akhirnya Audrey langsung tersadar dan langsung bangun dari atas tubuh suaminya.


'Astaghfirullah! Mengapa jantungku berdebar kencang sekali?' batin Audrey.


Dengan cepat Audrey langsung berjalan ke arah pintu. Sedangkan Aaron masih berada di posisi yang sama, karena saat ini aset pribadinya langsung bangun dan sedikit menyembul.


'Argh! Sial! Mengapa kamu langsung turn on segala sih, padahal aku belum bisa memanjakan mu? Dasar belut listrik!' gerutu Aaron.


Pria dewasa itu bergegas untuk ke kamar mandi untuk menidurkan kembali belutnya yang saat ini masih terbangun.

__ADS_1


"Ternyata sengatan listrik dari lembah sungai istriku sangat kuat sekali. Seandainya saja dia sudah siap, pasti aku langsung melahapnya tadi. Tapi sayangnya dia belum bisa sepenuhnya menerimaku." gumam Aaron saat berada di dalam kamar mandi.


Akhirnya pria dewasa itu memutuskan untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin di bawah shower.


"Semoga saja kamu tidak bangun lagi, sebelum istriku bisa memberikan semuanya kepadaku." harap Aaron.


Setelah berhasil menidurkan kembali belutnya, akhirnya Aaron bergegas ke walk in closet untuk berganti pakaian dengan baju santainya.


CEKLEK!


Baru saja pintu terbuka. Tiba-tiba gadis kecil itu berlari ke arah Aaron dan langsung memeluk tubuh pria dewasa itu.


"Daddy?" panggil Kimberly.


"Hay, Honey? Ada apa, hem?" tanya Aaron dengan suara lembut.


Audrey yang masih duduk di tepi ranjang, kini hanya menatap Ayah dan anak itu dengan seulas senyum.


"Daddy mandi lagi? Bukankah tadi juga sudah mandi?" tanya Kimberly dengan polosnya.


"Tidak apa-apa Sayang. Daddy hanya merasa sedikit gerah saja. Jadi Daddy memutuskan untuk mandi, agar putri kesayangan Daddy tidak kebauan saat memeluk Daddy." kilah Aaron.


Audrey yang masih merasa tidak enak hati karena kejadian itu, kini hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil meremaas kedua tangannya.


"Em, begitu. Terus kapan kita ke rumah Oma dan Opa? Aku sudah sangat merindukan mereka, Dad?" rengek Kimberly.


Aaron yang sedang berjalan sambil memeluk putrinya, kini hanya menatap istrinya untuk meminta bantuan agar bisa memberikan solusi kepadanya.


"Sabar ya, Sayang. Nanti sore kita akan ke rumah Oma dan Opa. Sekarang kita bersiap-siap dulu untuk jalan-jalan sebentar sebelum ke rumah mereka. Apa kamu setuju?" ujar Audrey yang mencoba untuk mengalihkan perhatian putrinya.


Setelah mendapatkan persetujuan dari putrinya. Akhirnya Aaron bisa bernapas lega dan mereka pun bersiap untuk keluar rumah untuk jalan-jalan.


Di sepanjang perjalanan gadis kecil itu terus saja menceritakan tentang kehidupan barunya setelah berkumpul bersama dengan kedua orangtuanya.

__ADS_1


Rasa bahagia kini terpancar dengan jelas dari sorot mata gadis berlesung pipi chubby itu. Dan semua itu juga membuat kedua orangtuanya turut merasakannya.


"Honey, bolehkah Daddy menanyakan sesuatu kepadamu?" tanya Aaron sambil mengemudikan mobilnya.


Ya, saat ini Aaron lebih memilih untuk berkemudi sendiri tanpa menggunakan sopir pribadi ataupun asisten pribadinya. Karena dia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya.


"Yes, Dad. Ada apa?" sahut Kimberly yang saat ini duduk di bangku belakang.


"Usia kamu kan sudah enam tahun. Jadi sudah waktunya kamu untuk sekolah dan Daddy ingin mendaftarkanmu di salah satu sekolah favorit. Apakah kamu mau?" ujar Aaron dengan penuh harap.


Kimberly yang belum terpikirkan untuk bersekolah, sejenak gadis itu terdiam dengan pikirannya sendiri.


"Apakah nanti teman-temanku akan bersikap baik kepadaku, Dad? Kan Daddy juga tau kalau aku belum punya teman sama sekali di Kota ini." cetus Kimberly setelah merenung beberapa saat.


"Sayang, apakah kamu tidak ingin bersikap seperti seorang pemberani? Em, misalnya kamu yang mencari teman atau mendekatinya lebih dulu agar saling mengenal? Bukankah lebih baik kita yang bersikap baik lebih dulu agar bisa menilai seseorang itu?" tanya Audrey yang melihat keraguan dari sorot mata putrinya.


Sejenak gadis manis itu kembali terdiam dan memikirkan kembali tentang pertanyaan yang diajukan oleh Ibunya.


'Benar kata Mommy. Sebaiknya aku lebih dulu bersikap baik agar bisa mendapatkan teman baru di lingkungan baru ini. Padahal sejujurnya aku ingin sekali kembali ke desa itu agar bisa bermain lagi dengan teman-teman ku. Sekarang apa kabar mereka ya? Apakah mereka juga merindukanku, sama sepertiku yang sedang merindukan mereka?' gumam Kimberly sambil menatap keluar jendela.


"Em... Baiklah, Mom. Tetapi aku punya satu syarat sebelum aku sekolah. Dan aku harap Mommy bisa mengabulkan syarat yang aku ajukan." pinta Kimberly dengan seulas senyum tipis.


Audrey yang belum mengetahui permintaan dari putrinya, mau tidak mau wanita muda itu langsung menganggukkan kepalanya setelah mendapatkan anggukan kecil dari suaminya.


"Baiklah. Tetapi Mommy harap syarat yang kamu ajukan tidak akan memberatkan kami, Sayang. Karena Mommy sudah sangat hafal, bagaimana permintaan ataupun syarat yang dulu kamu ajukan kepada Mommy." tegas Audrey.


Tanpa berpikir panjang, akhirnya Kimberly langsung menganggukkan kepalanya.


"Okey. Jadi syaratnya adalah sebelum aku masuk ke sekolah. Aku ingin kita pergi ke desa Nenek Ganda dan Kakek Trisno dan Mommy harus menuruti syarat ini. Please!" pinta Kimberly sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.


Seketika Audrey tertegun dengan syarat yang diajukan oleh putrinya. Wanita muda itu tidak menyangka jika putrinya akan meminta hal itu kepada mereka.


Aaron yang juga merasa penasaran dengan sepasang suami-isteri paruh baya itu, tanpa memikirkan tentang jarak dan waktu yang mereka tempuh. Akhirnya pria dewasa itu langsung mengiyakan permintaan dari putri kesayangannya.

__ADS_1


"Tentu saja, Honey. Apapun akan Daddy lakukan yang penting kamu selalu bahagia." cetus Aaron tanpa meminta persetujuan dari istrinya.


__ADS_2