
"Dad!!!" Panggil thaya dengan suara agak keras,dia sungguh tak Terima keputusan daddy nya itu.
"Ada apa beby,daddy hanya ingin yang terbaik untuk mu."
"Dad...ayya mohon jangan lagi."
"Apa sayang?"
"Jangan mengulangi kesalahan daddy lagi,ayya nggak mau dijodohkan dad,cukup dulu daddy memisahkan ayya dengan orang yang ayya sayang,tapi sekarang jangan lagi."
Uno tercekat melihat putrinya itu mengeluarkan air matanya,dia juga belum memutuskan,hanya saja anak dari teman bisnisnya itu naksir dengan thaya dan dia yang meminta papa nya untuk dijodohkan dengan dirinya.
"Kamu tenang,dia baru bertanya,daddy belum memutuskan apa-apa,daddy taunya kamu masih sendiri dan daddy ingin mencoba mencari kan kamu nak,maafin daddy jika kamu tak menyukai ini." Mereka masih didalam mobil dan belum jauh dari apartemen thaya.
"Stop." Ucapnya
"Sayang...kamu marah sama daddy,nggak papa kalau nggak mau tapi temani daddy,nggak enak udah janjian sama mereka makan malam."
"No dad...katakan saja ayya nggak enak badan,jika daddy katakan itu ayya nggak akan marah sama daddy." Thaya langsung turun dari mobil itu dan pergi jalan kaki untuk kembali ke apartemen nya.
"Lo dimana?" Thaya menghubungi livy sambil berjalan,daddy memanggil tidak di hiraukannya sampai daddy nya menyerah dan pergi sendiri dari pada putrinya marah lagi.
"Di rumah mau tidur,kenapa?" Terdengar suara livy seperti orang memang mengantuk berat.
"Tidur di apartemen gue aja,kak arsen ada disini."mata livy langsung segar,dia langsung mendudukkan tubuhnya.
" Lo dimana sekarang?"tanyanya cepat.
"Di luar...ya udah cepatan kesini sebelum gue dimakan dia lagi." Livy langsung mematikan panggilan itu dan langsung keluar untuk pergi ke apartemen thaya,dia tak ingin kecolongan lagi.
Orang tuanya bingung melihat dia berlari hanya mengenakan pakaian tidur celana pendek dan memakai sendal.
"Mau kemana?" Tanya gerry
"Mau tidur tempat ayya,pergi duluuuu..." Dia pun langsung pergi tanpa menunggu jawaban daddy nya,daddy hanya diam saja lalu masuk kembali ke dalam rumah.
"Loh...kok cepat pulang,terus kenapa wajahnya gitu?" Baru buka pintu arsen sudah memborong pertanyaan untuknya.
"Kalau ayya bilang kangen kakak percaya nggak?" Arsen langsung salting,dia melipat bibirnya kedalam agar thaya tak melihat dia yang sedang salting itu,padahal thaya sudah tau dan semakin ingin menggoda kakaknya itu.
__ADS_1
Dia mendekatkan wajahnya yang membuat arsen reflek menutup matanya.
"Pufttt...permisi,mau lewat...nggak muat." Katanya lalu menahan tawanya.
"Ayyaaaaaaaaaaa..." Ayya pun berlari yang dikejar arsen.
"Hah hah hah...capek banget." Ucap thaya setelah tadi bekejaran dengan arsen dan kini thaya duduk di lantai dengan bersandar disofa ruang tamu,sedangkan arsen duduk diatas sofa yang ayya duduki,sama dengan ayya arsen juga sedang mengatur nafasnya.
Huft...
"Udah makan belum?" Tanya thaya.
"Belum."
"Mau makan apa?"
"Makan kamu boleh?"
"Kalau habis gimana?"
"Ya udah nggak jadi,kalau habis kan kasian akunya." Mereka tertawa bersama lagi,rasanya kembali seperti dulu.
" Hm
" Sayang kamu."
(Hening)
"Ayy..." Panggil nya lagi
"Hm
"Cinta kamu." Arsen langsung melihat ke thaya yang hanya diam saja,perempuan itu kini tengah menadahkan kepalanya juga keatas jadi otomatis saat arsen melihat tadi dia langsung melihat ke wajah thaya.
Mereka masih diam,Sama-sama memperhatikan wajah satu sama lain,entah siapa yang memulai dulu kini mereka telah berciuman.
Ciuman yang awalnya lembut kini semakin memanas sampai arsen turun dari tempat duduknya untuk duduk di lantai bersama thaya.
Dia pun mengangkat tubuh thaya untuk duduk dipangkuan nya,thaya hanya mengikuti saja malahan sekarang dia sudah melingkar kan tangannya ke leher arsen.
__ADS_1
Dengan cara duduk sambil memeluk arsen,dada thaya bersatu dengan arsen membuat arsen dapat merasakan dada yang dulu pernah dia jelajahi dan berbagi karya lukisan indah disana.
Ughhhhtttt
Suara laknat itu keluar dengan tidak tau malu nya,tapi thaya tak peduli karna saat ini dia juga menginginkannya,arsen terus mencumbui leher thaya,bahkan dia sudah menyiptakan banyak stempel disana.
Aahhhhh kakkk
Arsen semakin belingsatan mendengar ******* thaya karna dia tengah memeras dada nya,bahkan kini tangannya sudah masuk kedalam dress thaya yang sepanjang pahanya dan otomatis membuat pakaian perempuan itu terangkat.
"Sayang...apa boleh?" Tanya arsen dengan suara yang sudah memberat menahan nafsunya.
"Tapi...
" Apa?"
Tok tok tok
Arsen langsung memandang pintu apartemen thaya dan lalu menoleh kembali ke thaya yang seperti tertawa tak enak.
"Jangan bilang kalau kamu panggil livy?"
"Heheheh." Arsen hanya bisa mengusap kasar wajahnya,tampaknya dia harus bermain dengan sabun.
Klak
"Lama banget bukanya,kalian ngapain aja sihhhh.... Aaaaaaaaa..." Livy langsung teriak saat melihat keadaan leher thaya yang banyak stempelnya,dia lupa tadi untuk menutupinya sampai livy melihatnya.
"KAK ARSENNNNNNN...MAU YA KEHILANGAN THAYA LAGI!!!?ucap livy marah menggebu,kakaknya itu ya.....aaaarggghhhh
" Ck... Berisik,ganggu aja."
"APA!!! GANGGUA DASAR MESUMMMMM...ANAK SIAPA SIH KAMU?"
"Anak daddynya gerry,kamu nggak tau ya gimana daddy muda dulu,ini fotokopian nya." Tunjuk nya diri sendiri merasa bangga.
"Udah ah...gue lapar,makan yuk." Ajak thaya seperti tidak terjadi apa-apa, marsen hanya ketawa malihat thaya begitu tapi tidak dengan livy,dia merasa shock.
"Apa-apa dia,telat dikit gue datang habis tuh dia nya." Ngoceh sendiri dibelakang kakaknya yang mengikuti thaya ke dapur untuk makan.
__ADS_1