
"Saya memaklumi karna kalian mungki pengantin baru jadi wajar kalau kalian terlalu bersemangat sampai tidak menyayangi kesehatan sang wanita,lain kali untuk tuan jangan terlalu keras ke wanitanya." Ucap dokter ambigu membuat athaya yang tadi tidak paham kini tengah menunduk,sedangkan pria yang membawanya tadi menatapnya kembali,ingin dia bertanya tapi merasa tidak ada hak disana dia pun memilih untuk diam.
"Maafkan saya,karna saya anda jadi di tuduh sembarangan oleh dokter tadi." Ucap athaya pelan dengan masih menundukkan kepalanya,dia sangat malu dan sedih bersamaan,entah apa yang dipikirkan pria itu saat ini,dia juga tak memperdulikannya.
"Tidak apa-apa,lagian saya juga tidak merasa melakukan itu jadi tidak ada alasan saya untuk marah." jawab pria itu dengan tenang,tapi sebenarnya dia sangat penasaran apa yang menyebabkan gadis muda ini seperti ini.
"Sebaiknya kamu makan dulu dan terus minum obat." Ucap pria itu lagi sambil melangkah ke troli makanan yang dibawakan suster tadi lalu membuka semua obat yang harus dimakan oleh athaya.
"Tidak apa-apa,saya bisa mengerjakannya sendiri,terimakasih telah menolong saya,saya sudah bisa ditinggalkan sendiri."
"Enggak papa,saya lagi luang biar saya membantu kamu."
Pria itu pu langsung mengambil piring yang berisi bubur itu dan berencana menyiapkan athaya.
"Ehm om,biarkan saya saja yang menyuapnya,saya masih mampu kok." Ucap thaya takut-takut tapi mencoba memberanikan diri.
"Biar saya saja,dan kamu panggil saya apa tadi?" Tanya pria itu dengan dahi berkerut, dia bukannya tak mendengar tapi telinganya merasa aneh dipanggil seperti iti,apakah dia sangat tua maka dipanggil om oleh gadis dihadapannya ini.
"Ha...?" Athaya tak paham maksud pria itu.
"Siapa namamu?" Tanya pria itu karena dia tak tau nama gadis itu, yang dia tau hanya kalau gadis itu telah melewati sesuatu yang tidak baik, dan dia akan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.
"Athaya."
"Baiklah, cepatlah makan dan segera istirahat kembali,saya akan melanjutkan pekerjaan saya." Ucap pria itu sambil menyuapi athaya.
"Jika om sibuk,om bisa kembali untuk bekerja,saya bisa mengurus diri sendiri dan nanti saya akan menghubungi keluarga saya."
"Daren... Panggil saya daren,saya tidak setua itu kamu panggil om." Ketus dare merasa kesal lagi-lagi thaya memanggilnya dengan om,memang umur daren diatas thaya tapi dengan wajahnya itu tak menampik kalau pria itu masih muda.
"Aaaaah terserah deh...kenapa harus diributkan." Tiba-tiba athaya berteriakbuat daren kaget, padahal awalnya gadis itu tampak seperti lugu dan lembut tapi kenapa sekarang seperti itu.
Athaya pun mengambil alih makanan ditangan daren dan menghabiskan cepat-cepat,bukannya merasa jijik, daren malah merasa thaya sangat imut dengan pipi yang menggembung akibat makanan yang penuh dalam mulutnya.
"Kamu sangat imut kayak gini."
Uhuk uhuk...
Daren cepat-cepat memberikan air minum ke thaya,gadis itu kesedakan mendengar ucapn daren barusan dengan senyuman yang membuat Athaya salah tingkah.
__ADS_1
"Kalau dilihat dia ini sangat tampan,apalagi suaranya yang hunski...." Batin thaya dan tiba-tiba dia lang berteriak membuat daren kaget.
Aaaarrrggggghh "apa-apaan sih." teriaknya.
"Kamu kenapa?" Panik daren.
"Enggak papa." Datar athaya,daren merasa heran dengan gadis itu yang seperti cuaca selalu berubah-ubah.
Setelah minum obat yang diberikan daren athaya bukannya tidur,dia hanya duduk termenung dibrangkarnya.
"Apa yang harus gue lakukan sekarang?" pikirnya mengingat kembali kejadian yang menyakiti perasaan nya itu,tiba-tiba dia menangis kembali,daren yang tadi sudah kalo bekerja dari laptopnya kini mengalihkan pandangannya ke athaya,dia mendengar gadis itu sepertinya sedang menangis,dan benar saja...athaya kini menutup kepalanya dengan selimut dengan badan bergetar.
Daren langsung memeluk tubuh athaya,dia tidak tau apa yang terjadi dengan gadis itu,yang dia tahu kalau sekarang ini pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja,athaya pun tak menolak pelukan itu karna mang itu yang dia butuhkan saat ini.
Sudah 4 hari hilangnya athaya dan sudah sampai ditelinga ana dan gerry,kini pasangan itu tengah menatap ke anak laki-laki nya itu dengan raut wajah yang sudah merah,mereka sudah mendengar penjelasan livy yang dipaksa mommy nya untuk mengatakan keberadaan athaya tapi livy tidak tau dan malah menceritakan kejadian sebenarnya.
Plak... Plak...
"Kamu keterlaluan arsen, apa yang kamu lakukan itu sudah jelas salah,kami tidak pernah mengajari mu seperti itu,jawab mommy kemana thaya sekarang,kenapa ar... Kenapa kamu lakukan itu sama adik kamu." Ucap anna dengan keras,dia menggoyang-goyangkan bahu anaknya itu untuk mendengar penjelasan arsen.
"Dia bukan adik arsen mom,arsen melakukan itu supaya ayya tidak akan pergi dari arsen walau pun harus daddy menghalangi nya." Jawab arsen tak kalah keras ke anna,bukan maksudnya untuk melawan wanita yang melahirkan nya itu,tapi dia harus tegas sekarang,dia tak mau harus terus mengalah dengan perasaan nya.
Plak...
"KENAPA...KENAPA HARUS KAMI YANG MENANGGUNG PERMASALAHAN KALIAN,KENAPA HARUS ARSEN DAD YANG MELEPASKAN ATHAYA,ARSEN CINTA SAMA THAYA DAD,KENAPA...KENAPA HARUS ARSEN..." teriak arsen mengeluarkan semua amarahnya,dia sudah cukup lama untuk bertahan permintaan daddy nya yang ingin dia menganggap thaya adiknya,tapi dia sangat sulit,perasaan nya semakin tumbuh tampa bisa dicegah,apalagi ketika dia mendengar sendiri ucapan daddy nya dengan thaya malam itu dimana daddynya menyuruh thaya tetap menganggapnya sebagai kakak sendiri dan melupakan perasaannya.
Gerry terdiam kaku,ada perasaan bersalah para dirinya,benar...ini semua salah nya,dia yang membuat arsen melakukan itu pada thaya,sedangkan ana dari tadi sudah menangis mendengar ucapan anaknya itu.
"Kamu benar...daddy yang salah,benar... Ini salah daddy....daddy yang membuat thaya menderita seperti ini." Ucap gerry pelan dengan wajah masih shock,air matanya tiba-tiba mengalir, ana yang melihat itu langsung memeluk suaminya.
"Ini salah ki an...aku yang membuat thaya jadi begini,aku yang membuat anak kita menderita." Ucapnya bergetar,arsen pun sudah tak sanggup menahan tubuhnya,dia menangis tersujud dilantai,dia sungguh menyesal telah menyakiti thaya.
Sedangkan di bandara tampak seorang pria yang tampak diikuti beberapa orang berpakaian jas hitam mengikuti langkah tuannya,mereka pun langsung menaiki mobil yang sudah menjemputnya dan pergi ke rumah sakit dimana anaknya berada.
"Terima kasih kak,beberapa hari ini menjaga thaya." Ucap thaya tulus ke daren yang kini ikut membantu nya membereskan pakaiannya yang dibelikan oleh daren selama dirumah sakit.
"Hm....jadi sekarang kamu akan kembali kemana?"
"Thaya akan kembali ke apartemen thaya lagi,udah lama thaya tidak masuk kesekolah."
__ADS_1
"Apa kami tidak takut kalau cowok itu akan pergi ke tempat kamu lagi." Tanya daren karna dia sudah tau semua cerita athaya,thaya sudah menjelaskan kejadian sebenarnya,dan beberapa hari ini membuat hubungan mereka semakin dekat,thaya sudah menganggap daren sebagai kakaknya sendiri.
Thaya juga sudah tahu kalau daren adalah seorang CEO diperusahaan besar dinegara itu,dan dia juga memiliki beberapa perusahaan besar dinegara lain,walaupun masih muda,daren adalah orang hebat yang sangat berpengaruh di Indonesia ini, makanya saat pertama kalo melihat daren athaya memperhatikan nya karna dia mengenal wajah pria itu.
"Tenang saja kak,thaya akan ganti sandi apartemen itu dan meminta keamanan ketat disana."
"Sombong...kamu kira itu punya kamu." Ejek daren sambil mengacak rambut thaya.
"Belum....tapi entar."ucap Athaya sambil cengengesan.
Brak...
" Oh my god. "Daren dan thaya berjengit kaget mendengar pintu didobrak kuat,dan tampak seorang pria yang berjalan cepat kerarahnya membuat mata athaya ingin keluar.,tapi athaya langsung memasang wajah datarnya melihat pria itu.
Daren yang melihat perubahan thaya merasa terkejut dengan thaya,"uno Jackson?"batin daren melihat pria itu kini memeluk athaya.
"Kenapa tidak mengabarkan daddy nak,im so scared...oh my god,daddy akan beri perhitungan dengan dia kamu tenang saja." Uno mengelus punggung putri nya itu dengan sayang tapi terhenti menyadari pelukannya tidak dibalas thaya.
"Tidak perlu,aku tidak apa-apa." Jawab thaya dingin dengan menatap datar kedepan,uno sangat terkejut dengan perubahan athaya,dia pun melepaskan pelukannya dan melihat kewajah athaya.
Deg
Jantung uno berdetak keras melihat tatapan itu,tatapan yang tak pernah ia lihat sebelum nya dimata anaknya.
"Sayang." Lirih uno memegang wajah athaya,air matanya oun mengalir,dia sadar ini juga kesalahan nta,jika saja dia tidak memiliki perasaan dengan ana lai pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi,tapi sekarang...
"I'm sorry,ini salah daddy...daddy janji tidak akan membuatmu jauh dari Thomas lagi,dan daddy janji tidak akan mengganggu mommy ana lagi,kamu sekarang bisa dekat dengan kak Thomas mu lagi.
" Tak perlu,ayo...aku ingin pulang."ajak thaya tanpa melihat kearah daddy nya.
Tapi langkah nya tiba-tiba terhenti saat baru sadar ada daren disana,"sekali lagi Terima kasih kak,suatu saat aku akan membayar kebaikan kakak."ucapnya dan langsung meninggalkan daren disana.
"Ah...ternyata dia anak dari seorang Jackson,pantasan dia kembali ke apartemen itu dan ingin mengubah nya seperti apartemen itu miliknya sendiri,ternyata memang benar.
Uno yang baru sadar ada orang lain disana seakan terkejut melihat daren." Tuan nicholas...apakah anda yang sudah menyelamatkan anak saya?"tanya uno sambil mengangkat tangan ingin menjabat tangan daren.
"Hm...baiklah saya pergi dulu." Setelah menjabat tangan daren langsung keluar dari sana untuk menyusul uno tanpa memperdulikan uno yang sedang menatap heran kepada nya.
"Thaya..." Panggil daren mencekal tangan athaya yang sudah ingin masuk ke mobil.
__ADS_1
"Ada apa kak?"
"Hubungi kakak kalau sudah sampai apartemen,nomor kakak sudah kakak simpan ke Hp kamu." Kata daren,karna dua hari dirumah sakit athaya sempat meminjam ponsel pria itu untuk sekedar bermain,dan tak lama daren membelikannya ponsel baru,padahal thaya masih bisa beli sendiri.