Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#102. Siapa Menghancurkan Siapa?


__ADS_3

SEBELUM NULIS PART INI, OTHOR MEWEK MEWEK DULU BEIBZ😢


BAGI YANG GAK MAU LANJUT MANGGA BERHENTI BACA. JANGAN SAMPE PENASARAN KELANJUTANNYA. HARAP BIJAK YA KAWAN, NAMANYA JUGA HIBURAN, GA MELULU KETAWA KETIWI. SELALU ADA HIKMAH DIBALIK PERISTIWA😉


Seminggu berlalu, mereka sudah diperbolehkan pulang. Chelsea yang tak berhenti menangisi Alexa yang tak sadarkan diri selama 3 hari pun ikut di rawat. Harvey mengalami gegar otak ringan karena pukulan di kepalanya. Dan Alexa, dia mengalami trauma mendalam. Dia sempat sadar, namun kemudian dia kembali drop. Chelsea tak kuasa menahan diri melihat kondisi anak gadisnya seperti itu. Ibu mana yang tak terluka melihat penderitaan anaknya.


Anton menderita cedera parah di bagian alat vitalnya. Parahnya, bagian itu harus di amputasi, karena mengalami pendarahan dalam yang hebat. Dan Hendri, menderita luka di kepala yang cukup berat karena hantaman linggis yang telak mendarat di kepalanya. Setelah masa perawatan selesai, mereka dihukum penjara selama 10 tahun untuk Hendri, dan 15 tahun untuk Anton. Bukti yang memberatkan mereka sangatlah kuat. Selain kesaksian korban, juga rekaman CCTV yang berada di dalam kantor, yang bisa terekam jelas kegiatan yang ada di depan kantor. Karena kantor bengkel dan front liner hanya dibatasi kaca. Sedangkan untuk audionya dari rekaman panggilan video yang dilakukan Brian dan Harvey. Meski dalam rekaman video call itu gambar hanya memperlihatkan langit langit bengkel, namun suara aktifitas mereka terekam jelas.


Check mate


Di rumah, Brian pikir akan memudahkan mereka dalam melakukan perawatan pada Alexa, karena rumah adalah tempat ternyaman dan terhangat bagi mereka.


Namun hasilnya tetap sama. Selama 3 hari di rumah, Alexa mengurung diri di dalam kamar. Dia tidak mau makan ataupun minum. Dia bahkan tidak merespon Chelsea kala Chelsea membujuk dan bercerita kepadanya dibatasi pintu kayu yang kokoh. Chelsea selalu berakhir dengan terisak. Namun tak ada kata lelah dan menyerah baginya. Setiap saat, Chelsea akan mengetuk pintu Alexa dan bertanya apapun.


Di dalam kamar, tatapan Alexa selalu kosong. Ketukan dan panggilan dari pintu kamarnya seolah tak terdengar. Dia terus menatap luar jendela kamar. Sesekali air matanya menggenang dan jatuh. Tubuhnya menjadi kurus kering, bibirnya pucat dan pecah pecah. Dia kotor, itu yang dia pikirkan. Kotor, mungkin ini adalah karma dari ibu kandungnya, yang selama ini terngiang dalam ingatannya. Kotor, menjijikan. Laki laki mana yang mau menerima wanita kotor sepertinya. Otak nya terus memutar pikiran itu.


"Lexa, honey.. makan ya sayang, momy bikinin makanan kesukaan kamu, sayang. Yuk, Momy suapin. Nanti kamu gentian suapin momy ya. Sayang... tolong buka... jangan hukum dirimu sendiri sayang... tolong buka... biarkan.. biarkan momy memelukmu sayang... momy rindu....hik... tolong buka...."


Chelsea menangis dalam diam. Harvey dan Brian selalu mendampinginya. Memberinya kekuatan. Meski tak berkata apa apa.


"Sayang, Lexa... ya udah.. kalo kamu gak mau makan... momy juga gak makan.. momy gak mau makan kalo gak kamu suapin. Karena kita satu jiwa.

__ADS_1


Chelsea kemudian berbalik duduk menyandar pada pintu yang masih setia dikunci dari dalam.


"Kamu tau, sayang? Kamu adalah awal dari hidup baru momy. Teman wanita pertama momy. Sahabat wanita pertama momy. Anak perempuan pertama momy. Alasan pertama momy menerima dady bear. Momy gak sanggup kalo gak ketemu kamu sehari aja. Chelsea mengatakan itu sambil sesenggukan. Tanpa Brian dan Harvey ketahui, Chelsea memang sudah beberapa hari ini tidak makan. Dia selalu mengurusi kebutuhan anggota keluarganya. Tangannya yang mengepal menahan kram yang kini melanda tubuhnya. Hingga akhirnya tubuhnya kejang kejang, membuat Brian dan Harvey panik.


"Sayang.. kamu kenapa..."


"Momy... momy sadarlah mom.."


"Harvey kamu buka pintu mobil, cepat hubungi dokter Elsa. Dady langsung bawa momy kesana"


Dengan terisak, Harvey menuruti perintah Brian. Mulutnya tak berhenti merapalkan do'a untuk keselamatan ibunya.


"Kak... Kakak jahat... kakak gak sayang sama momy... momy gak mau makan kalo gak ada kakak.. momy gak ceria lagi... kakak jahat... kakak udah renggut momy dari Harvey. Kakak tau? Harvey iri sama kakak..hik... begitu banyak kenangan yang udah kakak buat sama momy... tapi kakak kayak gini sama momy... keluar kak, bujuk momy, hibur momy, momy juga manusia, bisa lemah, kek sekarang... KAK.... KAK LEXA KELUAAAR.... DENGER GA? AKU GAK RELA KALO MOMY KENAPA NAPA GARA GARA KAKAK... ITU MOMY HARVEY.. BUKAN MOMY KAK LEXA...HIK... TAPI KENAPA MOMY LEBIH SAYANG SAMA KAKAK.... KENAPA KAKAK GAK SAYANG SAMA MOMY.. JANGAN AMBIL MOMY HARVEY KAK... AKU BENCI KAKAAAAK..." Harvey tergugu setelah berteriak meluapkan emosinya yang ia pendam selama ini. "AKU BAKAL AMBIL MOMY DARI KAKAK, AKU BERSUMPAH BAKALAN BAWA MOMY PERGI JAUH DARI KAKAK, KAKAK DENGER?" Harvey pun pergi menjauh dari kamar Lexa. Dia merasa sia sia berbicara dengan pintu.


Harvey membanting pintu. Meluapkan emosinya dengan menangis di kamarnya sekencang kencangnya. Dia meraung. Tak ada yang menginginkan kejadian seperti ini. Hanya satu hal yang pasti dia lakukan. Dia benar benar bertekad membawa momy nya pergi dari rumah. Dari pada harus melihatnya sakit seperti ini.


"MOM.." suara Lexa menggema di ruang tengah, memanggil ibunya.


"MOMY... momy.. jangan pergi please... jangan pergi... jangan bawa momy ku..."


bruk

__ADS_1


Harvey menjatuhkan kopernya dan koper Chelsea.


"Ngapain kakak keluar? udah sana masuk lagi. Ga usah keluar lagi sekalian. Terus aja lamunin yang gak berguna. Biar Harvey yang urus momy" Harvey melangkah membawa koper koper itu, mangabaikan rintihan Alexa yang menghiba.


"Kamu gak ngerasain penderitaan kakak huuuu.... kakak kotor.. kakak... udah gak punya masa depan.... kakak...."


"Siapa yang peduli sama kakak? siapa yang mau mikirin masa depan kakak? apa kakak tau? momy jawabannya. Cuma momy yang peduli sama kakak, momy yang mikirin masa depan kakak. Momy lah masa depan kakak. Tapi apa kakak peduli sama momy? Apa kakak tau betapa hancurnya momy harus nyaksiin hal itu? Apa kakak bisa jadi masa depannya momy? Kakak malah udah ngancurin momy, kakak nyakitin momy, dan dia adalah momy Harvey" Harvey mendesis mengatakan semua itu, lalu dia melangkah pergi naik taxi.


Alexa tertegun. Dia tertampar dengan perkataan adiknya.


Harvey benar, gak ada yang peduli sama dia dan masa depannya selain momy dan dady nya. Kenapa dia menutup hal itu? Kenapa dia memikirkan orang yang gak mau nerima keadaan dia?


tok


tok


"Alexa... kamu ga papa? maaf aku baru bisa dateng, pesawatnya delay ja-"


"Elroy...huuu....." Alexa langsung berhambur memeluk Elroy, merasa lega masih ada satu orang lagi yang peduli dan sayang padanya. Rasa bersalahnya pada keluarganya bertambah besar.


"Sssshhhh.... it's okay... I'm here.."

__ADS_1


"Gue udah nyakitin momy, Roy huuuuu...


Momy.. aku harus ketemu momy... anter gue, Roy.. gue harus minta maaf sama momy... gue gak mau momy dibawa pergi..."


__ADS_2