Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#64. Menjenguk


__ADS_3

Mama Carol kewalahan dengan kondisi Brian yang sering muntah muntah.


Hari ini adalah hari sabtu, kantor libur saat week end. Mama menemani Brian di apartemennya. Brian tak mau tinggal di Mansion karena terasa sepi tak ada 2 wanita yang membuat hari harinya ceria.


Dokter Elsa yang memeriksa Brian mengatakan tak ada masalah dengan kesehatan fisik Brian. Dia menyarankan Brian memeriksakan kesehatan psikis nya. Karena permintaan Chelsea agar tidak memberitahukan dahulu kehamilannya yang saat ini menginjak minggu ke 3, Dokter Elsa mengurungkan niatnya. Chelsea beralasan ingin memberitahunya secara langsung sebagai kejutan.


Mama membenarkan ucapan sang dokter, karena hanya kehadiran Chelsea lah yang bisa menyembuhkannya, bahkan hanya melihatnya melalui foto, Brian akan baik baik saja.


"Sayang, kita hentikan saja rencana ini. Mama tak tega melihat kalian seperti ini"


Mama terisak, merasa bersalah telah menyampaikan berita mengejutkan itu. Memang hal ini dilakukan Brian demi kebaikan Chelsea, istrinya. Namun kondisi saat ini sangat tidak tepat menurutnya dalam menjalankan rencana mereka. Selain tidak ingin berlama lama membiarkan Siska nyaman dengan kebohongannya, Mama juga mengetahui kehamilan menantunya dari Alexa, cucu pertamanya. Itulah yang menyebabkan Brian selalu muntah muntah di awal kehamilan istrinya.


"Ga papa, ma. B masih kuat ko. B pengen cepet ngembaliin hak nya Chelsea"


"Ya ampun, anak mama. Kamu bener bener mencintai istrimu ya, sayang" ucap mama penuh haru.


"Banget ma. B cinta mati malahan sama Chelsea. Biarin B kek gini. Anggap aja proteksi B biar ga dideketin Siska terus" Brian berkata dengan lemas.


"Kamu bener bener ga bisa dideketin Siska? bukannya di buat buat?"


Brian menggeleng lemah "Engga, mah. B ga ngebuat buat. Gatau enek aja rasanya kalo dideketin Siska. Trus B ga bisa nahan buat ga muntahin dia"


"Ya ampun, cucu mama pinter banget" mama terkikik dengan penuturan anaknya.


"Hah? cucu mama? mana? Lexa pulang?" Brian celingukan meski tengah berbaring di sofa sambil memeluk fotonya bersama Chelsea saat berciuman di samping mobil Brian.


"Eh.. maksud mama anak mama. Mama ga sabar pengen dapet cucu lagi"


"B juga kangen Chelsea, Ma" setetes air menetes di sudut matanya. Lalu ia tertidur.


ting

__ADS_1


tong


Bel berbunyi, asisten rumah yang membukakan pintu.


"Nyonya, maaf ada tamu di depan"


"Siapa?"


"Katanya nyonya Beatrice, sama itu.. anu..."


"Kenapa?"


"Nyonya lihat sendiri deh, saya bingung gimana ngomongnya" asisten itu lantas pergi ke dapur untuk membuat minum dan membawa camilan sesuai perintah nyonya besar nya.


"Betty apa kabar?"


"Halo Carol, baik, kabarku baik?"


Mama sedikit tak percaya dengan penampilan Siska. Mulutnya bahkan betah untuk menganga.


"a... b baik, tante baik. BB lagi tidur. Dia lemes"


"Masih lemes? boleh saya tengok ke kamarnya tante?"


"Dia... ada di sofa. Tapi...." sebelum menuntaskan perkataannya, Siska sudah lebih dulu melesat ke arah ruang tengah.


"Ada apa dengan anak jadi jadianmu" tanya kesal Carol pada Betty sambil berbisik.


"Gatau, dia bilang dia gamau kena muntah BB lagi. Tapi sumpah, aku juga ga nyangka dia bakalan pake kek begituan. Malu banget jeng, mana disangka ditangkep satgas kopit lagi"


"Lagian udah tau dimuntahin BB terus, masih aja ngeyel. Gemes jadinya"

__ADS_1


"Eh jeng, emang BB sengaja muntahin Siska? ko bisa ?"


"Engga lah, dia emang alergi sama siska, coba aja perhatiin"


Akhirnya mereka memutuskan untuk mengintip Siska yang sedang mendekati Brian di ruang tengah dalam keadaan terlelap. Siska perlahan mendekati, hendak berjongkok, tapi dia urungkan, berkali kali menarik nafas, lalu menghembuskannya. Dia memutuskan berjongkok, lalu tangan yang terbungkus itu mencoba menyentuh pipi Brian. Namun tak ada reaksi.


"B..." dia sadar kalau mungkin suaranya tak dapat Brian dengar karena tertutup penutup wajah transparan. Ya, saat ini Siska mengenakan sejenis pakaian Pelindung Diri yang biasa digunakan para tenaga medis kala menghadapi pasien berpenyakit menular.


Dia sedikit membuka penutup wajahnya dari arah bawah.


"B..." masih tak ada pergerakan. Dia tersenyum, akhirnya membuka penutup kepalanya.


hoekk.... byurrrrr


"MAAMIIIII......?"


Muntahan Brian tepat mengenai wajahnya, dan masuk ke dalam pakaiannya melalui celah penghubung antara penutup kepala dan badan. Sehingga di dalam pakaian APD itu muntahan Brian menggenangi tubuh Siska.


"Ppfffttttt....."


Carol dan Betty terkikik melihat pemandangan miris di ruang tengah. Merasa puas dengan apa yang didapatkan Siska.


"Selamat ya jeng, akhirnya kamu akan jadi nenek" Carol memberitahukan Betty setelah dengan terpaksa meladeni drama tragis Siska yang menangis 'cantik' karena lagi lagi dipermalukan. Carol akhirnya memanggil asisten rumah untuk menuntunnya ke kamar mandi tamu yang berada di luar kamar, tepatnya disebelah dapur. Carol tak mau kamar tamu menjadi bau muntahan. Sedangkan Brian, dia terbiasa dengan kondisinya sekarang. Justru dia senang bisa menyiksa Siska seperti ini. Brian pun melenggang naik ke kamarnya di lantai 2.


"Benarkah?" Betty menutup mulutnya terkejut. Matanya berkaca kaca.


"Belum sempat menjadi ibu yang baik, malah langsung mau dapet cucu" Betty tergugu. Carol menepuk nepuk lembut punggung nya.


"Kapan... kapan aku bisa melihatnya? Aku ingi bertemu anakku..." tanyanya lirih. Carol menuliskan sesuatu di secarik kertas yang ada di meja dapur. Lalu melipatnya dan memberikannya tanpa sepengetahuan Siska, karena siska masih sibuk membersihkan diri di kamar mandi. Fuhhh... butuh sabun sebotol jumbo keknya tuh😷


"Datanglah ke alamat ini sendirian. Tapi aku sarankan, datanglah pada saat hari kerja, jam makan siang. Karena anak jadi jadianmu sedang sibuk mencari perhatian BB ku di kantor" Carol mengedipkan sebelah mata, sembari menyelipkan kertas kecil itu ke telapak tangan Betty. Betty tersenyum sumringah sambil mengusap jejak air matanya.

__ADS_1


__ADS_2