
Chelsea yang tengah menyenderkan tubuh dan kepalanya di tubuh Brian sambil memperhatikan sepasang pengantin tengah berdansa itu tak menyadari keberadaan Mario. Dia ikut menggerakan tubuhnya perlahan mengukuti alunan musik. Sebelah tangan Brian yang melingkar di perutnya ia genggam erat.
Brian mengecup pundak Chelsea yang terbuka. "Sayang, ada Mario"
Chelsea terkesiap "Oh, hai. Terimakasih sudah datang. Selamat menikmati menu makanannya. Ayo bear, aku juga mau dansa" Chelsea berusaha menjadi tuan rumah yang ramah. Namun ia juga tak mau memberinya kesempatan untuk merusak moment.
Akhirnya ditengah ballroom itu terdapat 2 pasangan yang saling menempel. Disusul oleh pasangan pasangan lain yang akhirnya ikut bergabung.
Lagi lagi Mario kehilangan kesempatan mendekati Chelsea.
"Mario, gimana ini? Rencanaku gagal lagi. Kamu bantuin kek, rebut ceweknya" kesal Lisa sambil menghentak hentakkan heels nya. Dilihatnya Lisa tengah menenteng kain yang warna dan ukurannya sama dengan taplak meja yang ada di ballroom itu.
Mario memutar bola matanya malas. Kenapa dia harus menjebak perasaannya sendiri dengan gadis ini?
Jika dulu gadis ini bersikap manja dan menyebalkan tak pernah ia anggap masalah, tapi sekarang entah kenapa Mario merasa jengah dengan tingkahnya yang childish.
"Dari pada rebut ceweknya, mending rebut ibu mertuanya" celetuk Mario.
"Apa kamu bilang?"
"Sudah selesai? aku pulang. Terserah kalau kau masih mau mempermalukan dirimu sendiri disini" tanpa menunggu reaksi Lisa, Mario melangkahkan kakinya keluar dari ballroom. Dia akan menyusun rencana untuk bisa merebut istri kliennya itu.
Brian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Chelsea, bagian bawah tubuh mereka menempel, dengan kening yang juga saling menempel. Brian tak merasa kesulitan kala harus menunduk mensejajarkan keningnya dengan kening Chelsea. Kebetulan Chelsea cukup tinggi. Mereka bergerak mengikuti irama lagu
"Kamu selalu punya cara yang mengagumkan dalam menghindari para hidung belang" ungkapnya takjub.
"Aku tak punya alasan untuk meladeni mereka, sayang"
"Aku dengar, dia pernah kewalahan gara gara ambulan. Apa itu salah satu mahakarya mu, sayang?"
Chelsea tergelak hingga kepalanya mendongak ke atas. Dia lalu mengecup bibir Brian sekilas.
__ADS_1
"Seandainya kau lihat ekspresinya saat itu, sayang" Brian gemas dengan tingkah jahil istrinya. Dia percaya Chelsea punya sejuta cara untuk mengusir para ular kadut saat mereka menggunakan seribu cara untuk menjeratnya. Tapi bukan berarti dia bisa berdiam diri bukan?
Di basement, Mario terus memikirkan cara menjerat Chelsea, hingga tiba di depan mobilnya. Dia hafal dengan mobil yang berada di sebelahnya. Dengan senyum liciknya, dia memikirkan sesuatu.
"Mom, Harvey pulang ya. Dh ngantuk"
"Momy kan udah pesenin kamar disini sayang"
"Enggak ah. Enakan di rumah sendiri"
Harvey langsung melengos pergi. Dia punya firasat lagi yang menuntunnya ke basement.
"Pake mobil momy ah. Dah malem ini, gak akan ada polisi kali ya" gumam Harvey. Harvey diam diam sudah mahir mengendarai mobil sport. Kelakuan teman somplak ibunya yang mengajarinya. Tentu saja Harvey senang. Kan dia bisa nganterin momy nya kalo lagi darurat. Semua yang dia lakukan bukan untuk kenakalan. Tapi demi sang momy. Dia sudah berjanji akan melindunginya.
Di base ment, terlihat seorang pria sedang kesal di depan mobil momy nya.
Othor gak dapet jatah dari mas bray😭
Pasalnya, saat sang pria mencoba membuka kap mobil dengan menyentuh The Spirit of Ecstasy, yaitu hiasan kap mobil dengan berbentuk patung wanita setinggi 3 inchi yang terbuat dari emas itu tiba tiba tertarik otomatis ke dalam mobil. Tentu saja semua itu sudah dirancang oleh Rolls Royce untuk menghindari dan mengamankan dari ancaman orang iseng dan pencuri.
Harvey mengamatinya dari jarak yang cukup dekat, namun dia tak menyadari ada yang mengawasinya.
"Ada yang bisa saya bantu, om? Apa yang akan anda lakukan dengan mobil momy?" Harvey menyapa Mario, dan kepalanya menuntun mata Mario pada CCTV yang terletak di tiang penyangga gedung.
"Eeeeh... kamu, i ini punya ibu kamu? ooh pantas, haha.. kukira ini milik temanku, pantas saja.. baiklah aku pergi dulu"
"Apa om gak akan menyampaikan sesuatu?"
"Apa? menyampaikan apa?"
__ADS_1
"Permintaan maaf, misalnya?" Harvey bersikap tenang kala berbicara dengan Mario yang usianya jauh di atasnya. Tangannya ia lipat di dada. Terlihat mengintimidasi dengan tatapannya. Sungguh keturunan yang kuat mewarisi aura dingin kedua orang tuanya. Mario sendiri dibuat merinding dengan tatapan bocah di depannya. Dia kemudian merangsek maju meraih kerah kemeja putih Harvey.
"Hei bocah songong. Jangan macem. macem ya sama gue, gue pastiin lo gak bakalan bisa apa apa kalau gue berhasil rebut momy lo dari Brian, a a a ah..."
Harvey dengan cekatan menepis dan memiting tangan Mario ke belakang tubuhnya.
"Coba saja kalau bisa. Aku pastikan nyawamu melayang sebelum hal itu terjadi. Kamu belum mengenal ibuku dengan baik rupanya" bisiknya di telinga Mario. Lalu mendorongnya menjauh.
"Jangan kira dady dan momy gak tau tentang niat busuk mu itu, tuan" Harvey tersenyum miring lalu masuk ke mobil Chelsea dan melaju.
"Sialan.." kesal Mario menyugar kasar rambutnya.
Harvey tentu saja menghubungi pihak hotel melalui asisten ayahnya dan menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Pihak keamanan hotel pun memeriksa rekaman CCTV, yang Harvey kesal adalah kenapa saat itu tak ada security yang menghampiri? apa mereka juga tengah asik berpesta? kenapa harus ada laporan dulu baru mereka bergerak? apa cctv itu hanya pajangan yang dibiarkan menggantung? ingatkan dia untuk meng komplain habis habisan pihak hotel. Sekarang yang ada di pikirannya hanya TIDUR.
Resepsi akhirnya selesai jam 11 malam. Para anggota keluarga dan tamu yang datang dari luar kota dan luar negeri di pesankan kamar di hotel itu.
Brian tentu saja mendapat laporan tentang rekaman di basement. Dia bangga dengan anaknya, Harvey, yang mulai beranjak dewasa. Dia mencerna dan mengantisipasi setiap pergerakan mencurigakan. Berdasarkan pengalaman pahit yang pernah mereka lalui, anak itu tak mau mengabaikan hal kecil lagi. Mario akhirnya diturunkan posisi jabatannya, sehingga yang kini berhadapan dengan perusahaan Brian adalah penggantinya.
Alexa dan Elroy tengah duduk bersandar di ranjang king size hotel itu. Mereka sudah membersihkan diri. Kecanggungan di ruangan itu sangat terasa. Gugup. Terlebih Elroy yang tidak pernah menyentuh wanita, tak tahu harus berbuat apa terlebih dahulu. Dia bahkan tak pernah menonton tayangan 21+ demi keperjakaannya.
"Apa.. kamu lelah? tanya nya pada Alexa yang sedari tadi menundukkan kepalanya sambil memilin selimut. Alexa menjawab dengan anggukkan.
"Baiklah, kita.. kita tidur saja.. masih bayak waktu untuk kita-" ucapannya terhenti kala Alexa dengan cepat merebahkan diri lalu menutup tubuhnya dengan selimut hingga kepala.
"Selamat istirahat" cicitnya dibalik selimut.
Elroy tersenyum dengan tingkah istri nya ini. Kemana larinya si galak? Lalu Elroy memberanikan diri mendekati istrinya yang tidur membelakanginya.
"Tidak baik tidur memunggungi suami" bisiknya di telinga yang tertutup selimut.
KENCENGIN JEMPOL SAMA KOMEN NYA, HADIAHNYA DITUNGGU BANGET🤭
__ADS_1