Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#44. Kritis


__ADS_3

Brian menggandeng tangan Alexa yang mulai kedinginan karena ulah gadis itu yang nekat menerobos hujan. Untunglah Brian memakai mantel tebal, dan memakaikannya pada Alexa. Meskipun dia juga kedinginan karena hanya memakai kaos oblong berlengan pendek dan celana piyama yang tipis, setidaknya pakaiannya kering. Mereka terus berlari menyusuri koridor, mencari ruangan yang di informasikan Seto padanya melalui sambungan telpon saat berada di mobil.


Chelsea sudah dipindahkan ke ruangan VVIP. Diagnosa dokter mengatakan bahwa Chelsea mengalami Hypothermia.


Dia berada lama dalam guyuran hujan, lalu tak sadarkan diri. Yang lebih membuat Brian menyesal adalah, dia tak mencarinya dengan seksama. Chelsea ditemukan seorang penjaga taman hiburan, tergeletak di kursi taman hiburan. Itulah tempat pertama kalinya ia dekat dengannya, dan pertama kalinya bertemu dengan Alexa.


"Bertahanlah sayang, tolong bertahanlah" Brian menitikan air mata seraya merapalkan do'a. Pun dengan Alexa, gadis itu tak hentinya sesenggukan, air matanya membanjiri wajah blasterannya.


Tiba di depan pintu kamar VVIP, mereka berdua mengatur napas, lalu perlahan membuka kenop pintu. Wanita itu tampak lemah tak berdaya, berbaring di atas brankar dengan wajah yang pucat. Beberapa luka terdapat di sudut bibir dan pelipisnya. Alexa langsung merangsek memeluk tubuh Chelsea yang terbalut selimut tebal, dengan selang infus yang tertanam di sebelah punggung tangannya.


"Momy.... wake up mom.." cicit Alexa yang masih mempertahankan tangisnya. Ia menciumi wajah Chelsea, lalu tangannya yang terbebas dari infus ikut menjadi sasaran bibirnya yang basah karena air matanya yang tak bisa berhenti keluar. Alexa terus menempeli Chelsea, mengguncangnya pelan, berharap bisa mengembalikan kesadarannya. Dia ingin merasakan kembali pelukan hangat Chelsea.


Brian menuju sofa, dimana Seto duduk disana sedari awal. Menunggu anak dan ayah ini datang.


"Dari mana kau tahu kalo Chelsea masuk rumah sakit? tanya Brian yang ikut mendudukan pantat nya di sofa.


"Pihak rumah sakit yang menelfon, katanya mereka menemukan kartu nama bengkel atas nama saya di saku celananya" jawabnya sambil menatap Chelsea yang masih tak sadarkan diri. Dia tak menyangka akan ada hal tragis seperti ini. Wanita yang ia takuti, ternyata bisa lemah juga. Ia membayangkan saat memarahi dan menyalahkannya, betapa dia sangat ketakutan, tangan Seto bahkan mengepal kala itu, bukan karena marah, namun menahan tangannya yang bergetar karena sorot mata mengerikan dari Chelsea yang membuatnya tremor. Sungguh aura yang luar biasa, memang cocok dengan bos nya yang sama mengerikannya.


trek


trek


Brian menjentikkan jari di depan wajah Seto, karena orang ini tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Kenapa kamu menatap calon istri saya?" ucapnya sedikit mengeras. Dia tak suka jika ada laki laki lain yang memuja wanitanya.


Mata Seto mengerjap, ia kembali ke alam sadarnya.


"Eh.. b bos, bukan gitu, gada maksud apa apa sumpah, tadi saya ngelamun"


"Berani ngelamunin calon istri saya?"


"Bu bukan gitu, aduuuh... salah lagi kan. Saya cuma mikir, ternyata wonder woman juga bisa lemah. Saya pikir... tadi waktu saya marahin dia, dia bakal bales ngancurin bengkel. Abis tatapannya nyeremin nih cewek, beneran bos, sumpah, mana say berani sama cewe galak kek dia, bisa abis saya bos" cerocos Seto, tak mau bos nya sampai salah paham padanya. Dia masih betah hidup.


"DADY... SHE'S AWAKE.."


Chelsea terus mengunyah makanan yang disodorkan Brian padanya, lebih tepatnya, dipaksa. Sedangkan Alexa? gadis itu tidur di ranjang brankar yang ditempati Chelsea. Gadis itu tertidur pulas sembari tangannya memeluk posesif pinggang Chelsea. Saat ini posisi Chelsea setengah duduk karena harus makan, dan gadis itu kelelahan setelah semalaman menangis.

__ADS_1


"Udah kenyang ih"


"Harus habis, sayang. Biar cepet sembuh"


"Kamu juga makan, muka pucet gitu tar yang ada aku sembuh malah kamu yang sakit"


"Kan ada kamu yang rawatin"


"Enak aja. Ogah rawatin duda, tar malah dilecehin"


"Gapapa dilecehin kalo suka sama suka"


"Ngaco kamu"


Meski terus berdebat, Brian tak berhenti menyuapinya, dan Chelsea tak berhenti mengunyah karena asik mengomel.


"Habiiis... Kan laper kan?"


"Ck.... minta minuum"


"Istri dari hongkong"


Brian menggenggam tangan Chelsea yang tidak diinfus setelah menyimpan alat makan diatas nakas, lalu menciumnya dalam.


"Kamu... kalau ada apa apa, bilang sama aku. Jangan kamu simpen sendiri" ucapnya sendu, sesendu tatapan matanya.


"Aku udah dateng ke kantor kamu, tapi..."


"Kapan?"


" ........ Waktu Siska keluar dari ruangan kamu" Chelsea tertunduk mengingat percakapan di ruangan kantor Brian yang tak sengaja dia dengar.


"Apa yang kamu denger?"


"Aku bukan wanita baik baik" tangannya yang sedari tadi bertengger di punggung Alexa yang tidur menempel padanya ditarik.


"Maksud kamu... kamu ga marah kalo Siska dateng ke kantor?" Chelsea hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Ga niat buat salah paham gitu?"


"Ck... kamu ini maunya apa sih make nanya kek gitu, bukannya bersyukur aku ga salah paham"


"Bukan gitu, kirain kamu bakal cemburu dan salah paham karena Siska dateng ke kantor"


"Mana ada aku cemburu sama dia, sorry ya cewek kek gitu ga pantes di cemburuin"


"Gitu ya... berarti kalo dia sering dateng ke kantor aku buat makan siang bareng boleh dong?"


singgg....


Sorot mata Chelsea mematahkan nyali Brian.


"Berani?" ucap Chelsea datar


"ehe... seumpama sayang... kan kamu tau sendiri Siska itu orangnya gimana. Kalo nanti dia dateng lagi trus maksa ngajak makan siang gimana?"


"Ya terserah kamu, itu hak kamu. Tinggal pilih, digeret di rooftop pake crane gedung sebelah, atau mo nyisain 1 gigi? gampang kan?" ucapnya santai, namun mengintimidasi. Brian hanya bisa tersenyum kaku.


"Pilihannya ga ada yang enak ya"


"Aku tau... Lexa pasti salah paham. Sayangnya laki laki brengsek itu orang yang dia suka. Pake banget. Tapi.... mungkin cara aku malah nyakitin dia."


"Jadi kamu udah tau kalo orang itu brengsek? tau dari mana?"


"Dari tatapan matanya. Aku ga asing sama tatapan mata kek gitu. Aku orang yang ga gampang dimodusin, tapi justru mereka tambah penasaran. hhhh.... cape ngadepin cowok ga tau diri kek gitu."


"Iya sayang, iya.... orang cantik dan ganteng kek kita emang bikin dunia penasaran ya"


"Narsis..." Chelsea melempar kotak tisu yang untungnya terbuat dari kain ke arah Brian yang dibalas kekehan.


"Momy... maafin Lexa ya..." Alexa terbangun karena Chelsea bergerak gerak menimpali candaan Brian dan aksi lempar melempar tisu.


"Ga ada yang perlu dimaafin, sayang. Tapi lain kali, jangan pernah setengah setengah kalo nyari info. Momy lebih seneng kalo kamu langsung marahin momy" Chelsea mengusap pipi Alexa.


"Ciyee... udah ngaku momy..." ledek Brian yang dibalas cubitan maut di pipi.

__ADS_1


__ADS_2