Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#77. Berkumpul Kembali


__ADS_3

KHUSUS PART INI HANYA MEMBAHAS TENTANG BEATRICE YA BEIBZ. MAAF KALO AGAK NGEBOSENIN, TAPI HARUS ADA


PANTENGIN TEROOS😘


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN HADIAH👌🏻😉


Seminggu berlalu


ting


tong


Bel pintu berbunyi di pagi yang dingin. Kedua laki laki berbeda generasi itu menatap penuh harap pada pintu kokoh berwarna putih dengan ukiran di sisi pintu setinggi 3meter.


jeglek


Pintu terbuka, seorang pria tua berseragam hitam putih menyambut kedatangan sang majikan yang telah lama tak kembali.


"Selamat datang kembali, tuan besar, tuan muda" sapa si kepala pelayan membungkukkan sedikit badannya yang telah habis dimakan usia.


fuhh


Helaan nafas terdengar dari mulut laki laki yang dipanggil 'Tuan Besar' saat melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah megah yang dulu adalah surganya bersama keluarga kecilnya. Bayangan kenangan di tiap sudut ruangan kembali hadir kala dia da sang istri awal menikah, hingga buah cinta mereka tumbuh di perut istrinya. Waktu yang singkat itu tak bisa terhapus dari ingatannya begitu saja. Hingga kemalangan datang menghampiri dan memporak poranda kan keluarga mereka.


Teriakan, raungan, dan tangisan menyelimuti rumah megah ini. Keceriaan berubah menjadi suram.


Betapa dia sangat merindukan istrinya. Namun ego nya menahannya untuk menemani hari harinya yang sepi.


"Dimana nyonya mu?" tanya nya sambil mengedarkan pandangan. Tata ruang dan warna cat masih sama. Bahkan perabot rumah pun masih sama. Terawat dengan baik.


"Nyonya masih di kamarnya tuan. Apa perlu saya bangunkan?" tawar nya.


"Biar s-"


"Al... itukah kamu?" suara bergetar seorang wanita yang berasal dari lantai 2 memotong perkataannya pada kepala pelayan. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah suara yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


"Betty..." panggilnya lirih. Menahan sesak yang menekan tenggorokannya.


"Kamu pulang? huuuuu...." laki laki yang dengan panggilan Al langsung berlari ke arah wanita yang sangat dicintainya. Menaiki undakkan tangga lebar yang melingkar ke lantai 2 tanpa ragu. Langsung memeluk kasar Betty yang tergugu karena haru.


"Akhirnya kamu pulang huuuuuu...... syukurlah huuuu.... kenapa lama sekali..."


Betty tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia memeluk erat tubuh suaminya yang hangat. Albert menghujani seluruh wajah dan puncak kepalanya dengan ciuman. Air matanya tak terbendung lagi.


Laki laki muda yang datang bersamanya hanya terdiam haru memperhatikan kedua orang tuanya yang terpisah cukup lama karena ego masing masing itu saling meluapkan rasa rindu.


Pemandangan seperti ini, rasa seperti ini terasa tidak asing baginya akhir akhir ini.


"El... sini sayang, kamu gak mau peluk mami? kamu ga kangen mami?" panggilnya sambil merentangkan sebelah tangannya, sedang tangan yang lain masih memeluk erat suaminya.


El pun mendekat dan bergabung dengan mereka.


'Hangat' Rasa ini membuatnya menitikan air mata.


"Aku menemukannya, sayang. Aku telah menemukannya" disela sela pelukannya, Betty tak sabar memberi kabar membahagiakan ini pada suami dan anak angkatnya. El adalah anak yang Albert adopsi sewaktu masih bayi. Hal itu dilakukannya untuk menghibur istrinya yang menderita depresi berat karena kehilangan anaknya yang baru lahir. Tapi usahanya tak membuat kondisi Betty membaik. Dia kerap kali membiarkan baby El menangis karena lapar. Tatapannya seringkali terlihat kosong. Padahal saat itu beberapa tahun telah berlalu semenjak tragedi penculikkan.


Sedangkan wanita ini, memilih bertahan dengan bergantung pada harapannya yang besar untuk menemukan putri mereka yang hilang.


Intermezo : judulnya tetep Montir Jandaku ya gais, ga akan berubah jadi Putri Yang Hilang🤭


"Apa katamu?" tanya Albert tak percaya dengan pendegarannya.


"Aku telah menemukannya, sayang. Putri kita yang hilang, kakakmu El. Aku telah menemukannya...." tangis haru dan syukur kembali pecah dari ketiganya. Akhirnya keluarga mereka kembali utuh. Dan mereka bisa berkumpul kembali.


Pagi itu merupakan pagi terindah di sepanjang hidup mereka. Sarapan pagi dan obrolan hangat yang mengalir, serasa bagaikan mimpi bagi ketiganya.


" El, dimana tempat tinggalmu selama ini? kenapa ga kesini?"


"Papi membelikan apartemen deket sekolah, Mi. Kalau dari sini terlalu jauh"


"Pindahlah kesini mulai sekarang, sayang. Kita berkumpul lagi. Besok, kita akan menemui kakak mu. Dia pasti seneng, seperti halnya kita"

__ADS_1


"Apa kamu sudah mengenalnya, sayang?" tanya Albert.


"Ya, Tuhan mempertemukan kita di tempat yang tak terduga. Apa kamu tau sahabatku waktu di England?"


"Brown? Caroline Brown? Apa hubungannya dengan dia?"


"Putri kita adalah menantunya, sayang. Kita besanan sama dia. Mami seneng banget" Betty kembali menangis haru.


"Maafkan aku, sayang. Maaf kalo aku tidak bersabar dan memiliki keyakinan kuat seperti dirimu. Aku.. aku malu karena meninggalkanmu sendiri di hari hari tersulit mu. Maaf kalo aku tak ada saat kamu membutuhkan ku yang seharusnya menguatkanmu. Maaf kalo aku pernah menyerah pada kita. Maaf..." ucapannya terhenti kala dia tak bisa menahan isakkannya.


"Sudahlah, sayang. Yang penting sekarang kita bisa berkumpul lagi" Betty mengusap dan mengecup punggung tangan yang mulai menampakkan kerutan halus.


"Apa kamu tau, sayang? Berita lain yang membahagiakan adalah, sebentar lagi kita akan punya cucu"


"Cucu? benarkah?" mereka saling berpelukan. Lagi lagi El merasa tak asing dengan kondisi seperti ini. Kemesraan sepasang suami istri yang menjadi cita citanya. Seketika pikirannya tertuju pada gadis pujaannya.


Tak terasa, sang surya menampakkan kegagahannya. Tibalah waktunya makan siang.


"Tuan, nyonya, tuan muda, makanan sudah siap" lapor asisten yang menginterupsi obrolan mereka.


tring


tring


Notifikasi pesan dari ponsel El berbunyi. El tak mau merusak momen yang mengharu biru ini. Dia memilih mengabaikan pesan itu.


"Apa kau tak mau menjawab pesan itu, sayang?"


"Nanti aja, Mi. Palingan juga temen yang ngajakin hang out"


"Apa kamu sudah punya pacar?"


El membatu, tangan yang memegang sendok berisi makanan dan siap untuk masuk ke mulutnya melayang di udara kala pertanyaan memalukan itu akhirnya dia dapatkan. Selama ini dia selalu mengejek teman jomblonya kala mereka bercerita bahwa mereka mendapat pertanyaan seperti ini.


"Mampus, kena karma gue" dia menggeleng lemah, menampilkan senyum kaku.

__ADS_1


__ADS_2