
"Momyy....." teriak lirih Alexa.
"Ou my God.. what in the world are you doing? It's... Amazing darling..." ucap sang desainer terpikir ide brilian dengan robekan panjang gaun itu.
"Haah..." Alexa dan Chelsea melongo tak percaya. Kala Chelsea tengah bersiap siap untuk diberikan ceramah panjang kali lebar kali tinggi.
Mereka pun segera menyelesaikan fitting dengan tanpa suara lagi. Bak jangkrik terinjak, suasana menjadi hening. Pasalnya Chelsea tak pernah merasa sekhawatir ini. Sungguh baru kali ini dia merasa bodoh dalam bertingkah. Padahal sang desainer dan Alexa berupaya menghiburnya. Mungkin karena efek kehamilannya yang membuat mood nya seketika ambyar.
"Please don't let your dad know. Yet. At least until the day" ucap Chelsea menghiba. Dia sangat menyukai gaunnya. Namun apa daya, karena ulahnya, dia harus menerima konsekuensinya. Karena waktu sudah mepet untuk membuat ulang.
Mereka kembali ke alam nya masing masing. Jadwal meeting Alexa tidak bisa ditunda dan diganti seenaknya. Karena bukan dia yang punya perusahaan. Dan Chelsea? dia tak cukup keberanian untuk menghadapi pertanyaan Brian. Dia tak pernah berbohong pada suaminya. Setidaknya dia memiliki waktu untuk sekedar menghela nafas.
Tiba waktu makan siang. Brian dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Dia tak mau membiarkan istrinya menunggu.
"Dewi, apa istri saya sudah datang?"
Brian tak sabar dengan masakan yang dibawa istrinya. Setiap hari menunya selalu berbeda.
Chelsea sangat tahu memanjakan lidah dan pusakanya.
"Belum, pak. Tapi... ada kurir yang mengantarkan ini" Dewi menyodorkan bungkusan kantong plastik yang isinya adalah kotak bekal. Ada secarik kertas di dalamnya, bertuliskan "Here's your lunch, my sexy bear ๐๐"
Brian melipat dahinya dalam. Tak biasanya istrinya melewatkan makan siang bersama. Dia merasa kehilangan.
Brian mencoba menelponnya, namun tak diangkat. Perasaannya campur aduk. Namun tiba tiba dia teringat dengan jadwal fitting dress hari ini bersama Alexa. Diapun merasa lebih tenang.
Brian melahap makanannya sampai habis. Namun rasa kehilangan itu tak bisa hilang. Dia sangat merindukan kehadiran istrinya di jam makan siang seperti ini. Ada rasa sesak yang menekan tenggorokannya. Tak pernah terbayangkan jika dia harus kehilangan istrinya. Baru tak makan siang bersama 1 kali ini saja dia tak bisa membendung rasa rindunya.
tok
tok
"Masuk"
__ADS_1
Alexa memasuki ruangan Brian, lalu menyodorkan dokumen yang harus dia tandatangani setelah approval budget.
"Mana sekertarismu? kenapa kamu yang kesini?"
"Dia lagi banyak kerjaan. Sekalian Lexa mau keluar"
Brian membaca proposal budget promo yang diminta oleh divisi promosi dan marketing. Setelah dirasa masuk akal dan sesuai, barulah Brian menandatangani proposal tanda menyetujui yang nantinya akan langsung di proses oleh divisi keuangan.
"Where's your mom?" sedari tadi Brian gatal ingin menanyakan Chelsea. Dia tak pernah absen dengan kehadiran istrinya di kantor. Benar benar merasa ada yang hilang. Tatapannya nya pun sendu dan mood nya terlihat buruk.
"Sekali gak makan siang bareng , gak akan kiamat kali, dad" Alexa mencoba mengalihkan perhatian dady nya. Padahal dia juga mati matian menahan diri untuk tak memberitahukan perihal tragedi gaun pada dady nya. Dia takut momy nya marah.
"Memang serasa mau kiamat bagi dady"
" ish ish iiiish, dah mau punya mantu masih aja bucinnya gak ketulungan. Nanti di rumah juga ketemu kan daaad" Alexa mencubit kedua pipi dady nya gemas.
"Momy kan vitaminnya dady. Dady lemes kalo gak ada momy"
Benar saja. Selain tidak bisa fokus, seharian ini dia mengamuk di kantor. Dewi yang mengetahui perangai bos nya hanya bisa diam menunduk. Mengheningkan cipta.
Sungguh besar efek yang diciptakan ibu negara. Yang tadinya dia merasa terintimidasi pada kehadirannya, kini dia berharap bahkan berdo'a agar sang pawang segera datang.
Sungguh, Brian tak bisa fokus. Dia menyerahkan pekerjaan hari ini pada sang asisten. Dia ingin segera menemui candunya. Sakao dia๐
Brian berlari keluar dari kantor. Bahkan lift yang ia tunggu untuk membuka pintunya serasa mengejeknya. Akhirnya dengan tidak sabar dia berlari menuruni tangga. Untung saja staminanya terjaga karena rajin olah raga pagi, siang, dan malam. *hayooo pada bayangin olah raga apaan๐๐คญ
Brian tak mau menunda hingga sore menjelang. Dia langsung menuju bengkel yang hanya berjarak 3 gedung dari gedung kantornya.
Gerbang bengkel itu sudah terlihat, jarak yang hanya tinggal beberapa langkah itu serasa ber mil mil jauhnya.
Dengan nafas yang tersengal sengal, Brian berhasil mencapai gerbang bengkel, namun dia tetap harus mencari keberadaan istrinya. Tapi...
"Mario?" lirihnya.
__ADS_1
Tampak mobil Mario tengah di utak atik oleh Komar yang sontak menyapa Brian dengan sapaan akrab, namun Brian segera memberikan kode padanya agar tak melakukan itu. Komar yang tahu akan kode itu pun mengurungkan niatnya untuk menyapa bos besar bengkel tempatnya bekerja.
"Bro, kau kesini juga? mobil mu.... bermasalah juga?" Mario terlihat mengedarkan pandangannya. Mencari mobil koleksi Brian yang tak ia ketahui.
Brian menduga, Mario belum mengetahui perihal keberadaan Chelsea di bengkel ini.
"Aku ada perlu dengan pemilik bengkel ini. Sudah dulu ya. Aku buru buru" Brian segera meninggalkan Mario yang terheran heran.
"Setahu ku, bos di bengkel ini adalah seorang wanita. Ada urusan apa dia dengan bos kalian?"
Komar tak mau ikut campur. Dia hanya mengedikkan bahu. Dia yakin Brian bersikap seperti itu lantaran ada sesuatu dengan laki laki ini yang pastinya menyangkut tentang Chelsea.
ceklek
Brian membuka pintu kantor, terdengar tangisan syahdu dari arah sofa. Dia mendekat perlahan, dan duduk di sebelah Chelsea yang tengah meringkuk di sofa dengan rambut panjangnya menutupi wajah.
Brian merasakan pilu mendengar tangisan istrinya ini. Kenapa dia menyembunyikan sesuatu darinya, hingga harus menahannya sendiri?
"Sayang.." Brian mengusap pipinya perlahan. Chelsea terlonjak kaget dan langsung beringsut duduk.
"Bear?" lirihnya, yang langsung mengusap kasar matanya.
"Kamu.. kamu ngapain disini?" tanya Chelsea sambil sesenggukan.
"Aku gak bisa kalo gak ada kamu, sayang" jawab Brian sendu.
Chelsea tak tau harus berbuat apa. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa jujur untuk saat ini.
"Kamu kenapa nangis? kamu ada masalah apa? biasanya kita gak pernah nyembunyiin apapun" Brian membujuk Chelsea sambil mengusap pipinya lembut.
"Tapi kan belum malem, bear" jawab polos Chelsea. Brian mengernyit, lalu tersenyum. Mengerti dengan apa yang dimaksud istrinya ini.
"Tapi kan siangnya kita *** *** juga"
__ADS_1