Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#83. Bawa Aku Bersama Mu


__ADS_3

Brian berada dalam hamparan savana. Sejauh mata memandang, tak ada satupun bangunan dan manusia menemaninya. Dia berjalan tanpa lelah, bahkan saat kakinya lecet sekalipun, dia terus melangkah.


Breeemmmmm.....


Suara bleyeran mobil mendekat. Pantulan sinar matahari yang menerjang mobil mewah berwarna merah itu menyilaukan matanya. Sebelah tangannya terangkat sebatas matanya, menghalau silaunya pantulan sinar yang menerjang matanya.


Pintu mobil terbuka, tampak siluet seorang wanita keluar dari mobil, berjalan mendekat.


Sosok siluet itu bertubuh ramping, dengan rambut panjang sepinggang yang bergelombang, terurai melambai lambai tertiup hembusan angin sepoi sepoi.


Sungguh siluet yang cantik.


Tangannya menjulur kearahnya, dia menggenggamnya. Meski tak tampak jelas, dia tahu jika siluet itu tengah tersenyum padanya. Senyuman yang cantik dan hangat.


Tiba tiba, awan menghitam. Di ujung jalan yang tak berujung, tampak kilatan kilatan petir menyambar apapun yang dekat dengannya. Gemuruh angin menerjang tubuhnya, membuat tubuhnya beberapa kali hampir terhempas. Genggaman itu, masih menggenggamnya erat. Senyuman cantik nan hangat itu berubah menjadi seringai lebar yang menyeramkan, mendekatinya dengan cepat sambil berkata "BANGUN"


"HHHHH......" Brian terbangun dari mimpinya. Mimpi yang aneh. Namun, genggaman itu masih terasa hangat di telapak tangannya.


Dia membuka tangannya yang mengepal, namun dalam genggamannya itu terdapat name tag pasien yang berbentuk gelang bertuliskan "Ny. Chelsea"


"MOMY BANGUUN...." suara teriakan itu menyadarkannya dari lamunan. Teriakan dan tangisan dari anak gadisnya. Dia langsung mencabut infus yang menancap pada punggung tangannya. Darah segar menetes dari bekas jarum yang menancap. Dia tak peduli. Dengan langkah gontai dan terhuyung, dia melangkah kearah kamar istrinya.


"BANGUN MOMY, MOMY UDAH JANJI GA AKAN TINGGALIN LEXAA HAAAAAA..... LEXA GA SANGGUP KALO GA ADA MOMY.... PLEASE BANGUN MOOOOOM....."


"Sayang.... aku datang...." suaranya lirih dan lemah.


"Bawa aku bersamamu.... bawa aku.... " suara melengking dengan tempo cepat itu tak mau mereda.


"Aku... aku tak menginginkan anak itu... bawa aku bersamamu...... aku gak mau membesarkan anak itu tanpamu.... sayang... bawalah aku...... BAWALAH AKUU...... AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUAT ANAK ITU YATIM PIATU..... "


tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit............


"MOOOMYYYYYY......"


😫


😫


😫


😫


Beberapa tahun berlalu. Keluarga itu tak pernah sedikitpun melupakan tragedi memilukan itu.


Alexa terduduk dihadapan sebuah pusara. Kepalanya tertunduk. Kaca mata hitam bertengger di wajah blasterannya. Air matanya selalu lolos kala mengingat kejadian yang merenggut nyawa kesayangannya.

__ADS_1


"Hei... aku datang lagi... Apa kabarmu sayangku? apa kamu lapar? haus?" Dia lantas menaburkan kelopak bunga ke sepanjang gundukkan tanah, lalu menyiram sedikit air setelahnya.


"Kalau saja kamu masih ada. Kalau saja mobil itu tak menabrakmu. Mungkin saat ini... kita masih bisa bermain, bercanda, berbagi tawa. Kita juga masih bisa berbagi tempat tidur. Mungkin... mungkin kamu juga akan melahirkan anak anak yang mungil dan lucu lucu. Aku gak akan keberatan jika mereka merusak karpet. Tapi sepertinya... Tuhan lebih sayang padamu. Dan menginginkanmu disisi Nya. Kamu sudah sembuh, sayangku. Berbahagialah bersamaNya"


"Lexaaa.... lunch is ready, honey" panggil seorang wanita dari arah rumah.


"I'm coming, momy" Alexa menghapus jejak air matanya. Dia tak mau di ledek habis habisan oleh sang momy.


"Are you crying? C'mon honey, it's just a cat"


"No, I'm not"


"Yes, you are"


"No, momy. I said I'm not crying, okay. Stop bothering me"


"O really?" Chelsea menggelitik perut Alexa tanpa ampun, hingga mereka tersungkur di karpet ruang tengah hingga Alexa meneteskan air mata karena tak kuasa menahan geli.


"See? I told you, you're crying, baby"


"Momy, you're cheating" mereka tergelak.


"HONEY, I'M HOOOME..." teriak Brian sambil merentangkan kedua tangannya. Brian baru saja kembali dari Jepang mengurusi bisnis papa mertuanya.


"DADY.."


Pekik keduanya lalu berlomba berhambur ke pelukan hangat pria kesayangan mereka.


Untung saja tubuhnya cukup kekar digondeli dua wanita kesayangannya.


"Aku duluan" ucap Lexa.


"No. Ibu lebih utama" balas Chelsea.


"He's my dad"


"He's my husband"


"My dady"


"My husband"


"My dady"


"My husband"

__ADS_1


"My dady"


"My Bear"


"My hus.... he's yours" Alexa kalah. Dia pun harus rela melepas rangkulannya pada sang dady.


"Yess, he's mine. Indeed. You're mine" Chelsea langsung melingkarkan kedua kakinya di pinggang Brian, bak koala.


"Yeah, baby. I'm yours" Brian melepas tas kerja nya, dan melangkah membopong istrinya yang menempel erat, ke arah kamar mereka. Tanpa menghiraukan sekitarnya, Brian ******* habis bibir seksi istrinya sambil berjalan dan menaiki tangga.


"Where's Junior?" tanya Brian mengenai anak bungsunya yang bernama Harvey.


"Dia tidur sama Humvee" jawab Chelsea sambil melucuti dasi dan kemeja Brian.


"Anak itu. Sejak dari kandungan sampe sekarang hobinya bobo sama humvee"


"Dan aku tetep hobi bobo sama kamu" bisik seduktif Chelsea.


Merekapun meluapkan rasa rindu dengan kegiatan memandikan dan dimandikan ples ples.


Sebulan tak bertemu dan mereguk kenikmatan dunia, membuat mereka melepaskan hasrat yang selama ini tertahan. Tak cukup di kamar mandi, mereka mengulanginya lagi di atas ranjang. Tak ada kata lelah untuk yang satu ini. Jika saja perut mereka tak meronta ronta, mungkin seharian itu mereka habiskan untuk menebus percintaan yang tertunda.


😘


😘


😘


😘


Chelsea yang ditemani Brian, berdiri di depan pusara bertuliskan nama ERIK JULIARD. Pria itu, pria yang pernah ada di hidup Chelsea rela meregang nyawa untuknya. Jika saja saat itu dia tak mendorongnya, mungkin saat ini tubuh nya lah yang terbujur kaku di dalam tanah.


Kilatan ingatan saat itu melintas dalam kepalanya. Saat Erik tengah meregang nyawa, kata terakhir yang dia ucapkan adalah "maaf".


Dan saat dia tersadar, dia mendapati kabar bahwa pria itu telah pergi untuk selamanya.


Saat dalam keadaan koma, Chelsea ingat bahwa dia tengah bermain main dengan seorang bocah laki laki bermata bulat, bulu mata yang lentik, hidung mancung, dan pipi gembul.


Chelsea merasa betah bermain dengannya di padang rumput yang luas.


Dia tak ingin melepasnya, namun genggaman anak itu mengerat. Mata polos itu menatapnya datar, lalu berkata "momy pulanglah... mereka menunggumu..." Chelsea tak mau melepasnya, dia menangis, tak ingin berpisah darinya. Namun anak itu kembali tersenyum seraya berkata "I Love You, Momy" kemudian dia menghilang ditelan kabut.


"BAWALAH AKUU...... AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUAT ANAK ITU YATIM PIATU....."


"MOMYYYYYYYYYYY....."

__ADS_1


Teriakan teriakan itu membawanya kembali ke alam sadar, seketika membuka matanya.


Paramedis berlomba lomba menangani sadarnya Chelsea, memeriksa bagian bagian vital dari tubuhnya. Kepalanya menoleh pada 2 orang yang sangat dia sayangi dan tersenyum. Lalu Brian terjatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2