Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#94. Poor Harvey


__ADS_3

Chelsea terengah di dada bidang Brian. Sekilas dia merasa ada yang mengawasi. Dilihatnya sekilas, tak ada siapapun di kamarnya.


degg


"Bear...hhh... apa kamu tadi ga ngunci pintu?"


Chelsea segera meraih selimut tipis yang bisa ia gapai dengan cepat, dan membungkuskan pada tubuh polosnya. Tak lupa dia juga menutupi tubuh polos suaminya. Lalu turun dan melangkah ke arah pintu kamar ternyata..... tak mengunci? Dibukanya pintu itu, lalu dia melirik ke kiri dan kanan lorong depan kamarnya. Tak ada tanda tanda kehidupan. Dia lantas kembali menutup pintu, lalu menguncinya. Apa dia salah lihat?


"Perasaan tadi liat sekelebat bayangan deh. Masa kucing? tinggi? paling juga art yang liat. Bodo amat kalo dia mupeng. Suruh cari pelampiasan aja" Chelsea mengedikkan bahu. Diliriknya jam dinding. Sebentar lagi jam bubaran sekolah Harvey. Masih ada waktu 1 ronde lagi. Pikirnya tersenyum jahil.


Benar saja. Dilihatnya tongkat sang suami kembali menantang, dia kembali melompat dan menerjang, seraya memekik.


Sementara di luar lorong, tepatnya di belokan menuju tangga. Tengah tertegun bocah yang sudah tak bocah lagi. Harvey masih tertegun melihat pemandangan yang belum seharusnya dia lihat. Namun karena program akselerasi sialan itu, setidaknya dia sudah mempelajari pelajaran biologi tentang alat reproduksi manusia. Namanya tugas berbasis teknologi, jika ada yang tak dimengerti, ya tanya si sakti mbah gugel. Dan yang keluar adalah tampilan dua satu ples ples. (hayooooo emak emak, pada tau gak anak anaknya sercingin apa?)


Harvey langsung lari ke arah kamarnya dan menguncinya. Dia langsung memindahkan video itu ke laptop dan menghapus yang ada di ponselnya. Bisa gawat kalo temen temen nya ngutak atik ponselnya.


Dia memasang head set pada laptopnya, dan memutar ulang. Matanya membulat, wajahnya memerah, sesuatu pada dirinya bangkit. Dia merasa aneh dengan tubuhnya sendiri. Terasa menyiksanya. Dia langsung mematikan tayangan ples ples itu. Lalu berguling guling di tempat tidurnya.


"aaaaaaa....... sakiiiit" Harvey mengerang sambil memegang adiknya yang baru bisa bangun, dia merasa aneh dengan tubuhnya sendiri. Terasa sakit.


"Kesian dady...... disiksa momy terus kek gitu" gumamnya lirih sambil menahan sakit. Ngilu😬


Beberapa hari berlalu, aktivitas pagi mereka selalu sama. Sarapan bersama, diselingi candaan dan tawa. Namun ada yang berbeda. Harvey memang irit bicara, namun tak seperti akhir akhir ini. Wajahnya yang memerah, lalu selalu menunduk kala sang momy menatap dan mengajaknya bicara. Chelsea pikir anak bujangnya ini sedang sakit, dia mengecek suhu dengan menempelkan punggung tangannya pada kening Harvey. Namun Harvey langsung menepisnya. Nafasnya tak beraturan. Dia langsung pergi meninggalkan meja makan, dan berangkat dengan supir ke sekolah.


"Harvey... Harvey...." seruan Chelsea tak digubrisnya.


"Bear.... apa kamu perhatiin sikap Harvey sedikit aneh akhir akhir ini?"


"Justru aku juga mau tanya sama kamu, honey"


"Dia bahkan kemarin minta maaf"

__ADS_1


"Minta maaf? emang dia punya salah apa?"


"Dia bilang ga akan bikin dady dihukum momy lagi. Gitu katanya. Trus...." Brian menjeda, mengingat sikap anak bujangnya kemarin malam.


"Terus? kebiasaan deh... jangan suka gantung gantungin cerita bisa gak sih?" Chelsea tampak tak sabar mendengar kelanjutan cerita Brian, namun yang ditunggu hanya melirik ke atas, berfikir apa yang membuat Harvey berkata seperti itu.


"Cieeeeee..... nungguin yaaaa" jahil Brian.


plak


Chelsea menampar lengan atas Brian.


"Bear iiiiih... jangan becanda... ga lucu tau..."


"Sayang sayang dulu dong, sakit niih panas sayang, masa beruang kesayangan dipukulin. Nanti ga beruang lagi" keluhnya sok sok-an merajuk, menbuat Chelsea gemas.


"Nanti jadi apa? hmm?" Chelsea balas menggodanya, mengelus elus rahang turun ke dada suaminya.


"Mom, ada yang-" lagi lagi Harvey melihat tayangan itu. Poor Harvey🤦🏻‍♀️


Setiap malam, Harvey selalu mengerang kesakitan. Karena tidak mau terdengar oleh kedua orang tuanya, dia menelungkupkan wajahnya kala mengerang. Dia tak mau membuat kedua orang tuanya khawatir. Ingin rasanya dia berlari pada pelukan ibunya kala merasakan sakit, seperti yang selalu dia lakukan saat masih kecil.


Harvey memang di manja, tapi sesuai porsi. Chelsea menghujaninya dengan cinta dan kasih sayang, namun tegas dalam peraturan.


Tak ada yang disembunyikan Harvey selama ini. Dia selalu membicarakan keluhannya. Tapi tidak untuk kali ini. Dia merasa malu untuk membicarakannya pada sang momy.


Anehnya, jantungnya tiba tiba berdebar kencang kala melihat momynya, wajahnya memerah seperti terbakar matahari. Lidahnya kelu. Dan refleknya selalu berlari menghindari momynya. Chelsea menyadari keanehan itu. Dia merasa kehilangan sosok anaknya yang pendiam namun ceria didekatnya.


"Harvey... HARVEY Mc KENZIE" panggilan Chelsea meninggi kala kembali mendapati anaknya berbalik menghindarinya saat tak sengaja berpapasan di tangga.


Harvey menegang, masih memunggunginya, namun terdiam mematung karena seruan momy nya. Jika momy sudah mengeluarkan auman, tak ada yang berani membantahnya.

__ADS_1


"Lihat momy nak" titah Chelsea pelan. Posisinya saat ini adalah Chelsea berada di titian tangga atas, hendak turun ke bawah. Sedangkan Harvey sebaliknya.


"LIHAT MOMY SAAT KAMU DIAJAK BERBICARA" lagi, auman itu menggetarkan jiwanya.


Perlahan Harvey membalikkan badannya. Namun tak berani menatap mata ibunya. Dia terus menunduk. Menahan gejolak yang akan membuatnya tersiksa.


"Look me in the eyes, honey" Chelsea kembali melembut, dia tak mau kasar pada anaknya.


"I Can't, mom. I'm sorry... so sorry..." tiba tiba Harvey terisak.


"Apa kamu membenciku?" tanya Chelsea tiba tiba. Tapi itu yang dipikirkannya selama Harvey menghindarinya. Jika dia berbuat salah, dia ingin tahu, dimana letak kesalahannya. Agar bisa memperbaikinya.


Namun pertanyaan itu membuat Harvey sontak menegakkan kepalanya, lalu menggeleng cepat, dan kembali menunduk. Masih terisak, Chelsea mencoba mendekat perlahan.


"Stop, momy... stay right there. Don't move closer, okay" ucapannya terasa pedih di hatinya. Baru kali ini Harvey menyembunyikan sesuatu darinya. Dia merasa dikhianati. Sakit rasanya dijauhi anak sendiri. Saat dijauhi Alexa saja terasa sakit. Apalagi ini, darah dagingnya sendiri. Melihat Harvey yang mematung, sambil tergugu, membuat sesak didadanya. Ingin merengkuhnya, tapi tak bisa.


"Okay. Fine. I'll leave you alone" final Chelsea. dia bergerak ke samping dan melangkah turun. Membawa rasa pedih di hatinya.


sreettt


gedebrukk


Harvey terkejut dengan suara benturan itu. Dia menoleh ke belakang. Dilihatnya momy sudah tak sadarkan diri.


"MOMYYY......" Harvey sontak menghambur turun, mengangkat tubuh bagian atas momy nya, memeluknya sambil menepuk nepuk pipinya.


"Mom... wake up mom... please..." terlihat darah mengalir dari sela sela kakinya.


"MOMYYYY... HELP... SOME BODY.. HEEELP...."


Harvey terus tergugu. Momy nya sudah sadar. Tapi tak mau menemuinya.

__ADS_1


HAYOOO KUCING APA YANG TINGGI?


__ADS_2