
Suara ban berdecit menjadi lantunan lagu merdu di telinga Chelsea. Sesuatu dalam dirinya bergejolak kala membayangkan melakukan kegiatan extreme tersebut.
Brian tak pernah membiarkan Chelsea lepas dari genggamannya. Namun dia melupakan Alexa yang tadinya bersama mereka sambil dikelilingi teman temannya. Namun entah bagai mana, Alexa terseret seret penonton yang akhirnya terpisah jauh dari mereka.
Fokus mereka hanya pada 2 kendaraan mewah yang berlomba memacu dan unjuk ketangguhan dan keterampilan pengemudi.
Saat tengah asik melihat pertunjukkan, Chelsea merasa ada yang aneh dengan pemandangannya. Dia melirik dan mencari ke sekitar dengan sudut matanya, tak menemukannya.
"Bear... kamu lihat Lexa?"
"Lexa? mana?"
"ish... aku nanya, kamu liat Lexa ga?
Menyadari pertanyaan istrinya, sontak membuat Brian ikut mengedarkan pandangannya, mencari sosok anak gadisnya yang hampir tidak pernah keluar malam. Inilah yang dia takutkan.
"Tunggu disini sayang. Aku akan kembali" Brian memutuskan untuk berkeliling mencari Alexa. Mungkin dia kembali ke tempat jajanan, Atau mungkin dia ke mini market terdekat untuk membeli minuman.
"Dady...." terdengar teriakan samar, tapi tak dilihatnya keberadaan anaknya. Perasaannya menyuruhnya agar kembali ke tempat istrinya menunggu. Akhirnya dengan tergesa dia kembali ke tempatnya meninggalkan istrinya.
Frustasi. Rasa itu menyerangnya kembali. Rasa mual yang tak pernah dia rasakan lagi beberapa minggu ini.
breeeeemmm....
Suara bleyeran mengatensinya. Sosok itu, sosok yang sangat dia kenal tengah memasuki mobil sport mewah berwarna merah dengan mimik yang dingin dan menahan kesal.
Brian segera berlari menerjang beberapa penonton yang bersorak sorai.
Chelsea mulai menjalankan mobil yang ia gunakan untuk menerima tantangan. Namun ada yang aneh dengan caranya menyetir. Seperti seorang amatir yang baru belajar mobil. Suara riuh sorak yang menyuruhnya untuk turun menggema di langit Jakarta. Chelsea keluar dari mobil, lalu berjalan dengan flat shoes nya ke arah mobil lawan.
Kaca mobil diturunkan sang lawan yang tersenyum. Senyuman kemenangan yang menjijikan.
__ADS_1
"Ganti mobil" tegas Chelsea pada si pengemudi yang tak lain adalah Andrew.
"What? bilang aja kamu ga bisa pake nya. Aku kurang baik apaan coba? Ku kasih mobil terbaik buat kamu. Kenapa mau yang buluk kek gini?"
Chelsea tersenyum sinis.
"Mobil terbaikmu bukan seleraku"
"Bilang saja kalau kau mau menyerah dan kabur, jadi milih mobil rongsok ini biar ga dituntut. Iya kan?"
"hhh... bilang aja kamu takut kalah sama mobil rongsok ini"
Andrew serba salah dengan keadaan. Pasalnya, dia sudah mengutak atik mobil yang dia pinjamkan pada Chelsea untuk menerima tantangannya. Mencelakakannya, lebih tepatnya.
Tapi dorongan para pendukungnya untuk menerima tantangan Chelsea membuatnya merasa cemas. Susah menelan saliva.
Akhirnya, demi nama baiknya dia menyetujui permintaan penonton. Andrew melangkah perlahan ke arah mobil sport mewah. Rasa ragu melanda. Antara gengsi dan keselamatan mengganggu nya.
Kedua mobil itu bersiap di garis start, seseorang didepan mereka memberikan aba aba dengan mengangkat tinggi kain berwarna merah. Bleyeran mesin mendominasi riuh nya suara sorak sorai penonton.
Ketika kain merah itu dijatuhkan, keringat dingin mulai mengucur di pelipis, pandangan fokus pada kain merah. Saat kain itu meyentuh tanah, suara decitan ban tak bisa dihindari. Kedua kendaraan sport itu melesat membelah sunyinya malam ibu kota.
Ketegangan tak bisa terelakkan. Chelsea dengan santai dan lihainya mengendalikan kuda besi berkecepatan 186 km/h. Sedangkan Andrew, dia sangat tahu akhirnya akan setragis apa.
Chelsea memepet kendaraan Andrew ketika dilihatnya hampir sampai di persimpangan tempat awal mereka melakukan start. Chelsea menghitung perkiraan jarak memperlambat laju mobil Andrew. Dia membanting stir lalu memindahkan persneleng. Secepat kilat kini posisi mobil Chelsea bukan bergerak maju, namun mundur, mensejajarkan dengan mobil yang Andrew kendarai. Menambah kecepatannya sehingga kini posisinya saling berhadapan dengan mobil Andrew.
Chelsea menginjak rem sehingga menahan laju mobil Andrew yang menempel pada mobil Chelsea. Lambat laun, laju mobil sport Andrew akhirnya perlahan melambat dan berhenti.
Atraksi mengagumkan itu tak lepas dari perhatian para penonton balap liar. Kembali suara riuh tepuk tangan dan siulan terdengar.
Chelsea keluar dari mobil lalu mendekati Andrew yang tengah mengatur nafasnya.
__ADS_1
Bugghh....
Hantaman tinju Chelsea tepat mengenai wajah samping Andrew. Merontokkan beberapa giginya. Darah mengucur melalui hidung mancungnya yang kembali bergeser. Para penonton sontak terkejut dengan aksi bar bar wanita tangguh ini.
"PENGECUT. LEPASIN ALEXA" Auman Chelsea menggema membuat riuh orang orang yang hadir di sana seketika hening.
"I iya" Andrew akhirnya memerintahkan kaki tangannya untuk melepaskan Alexa yang di kurung dalam salah satu mobil milik mereka.
Chelsea menghempaskan kerah kaos Andrew yang kini berwarna merah karena kucuran darah dari hidungnya.
Tiba tiba Brian datang dan menarik keluar Andrew melalui celah jendela, lalu melayangkan tinju nya pada wajah tampan yang hidungnya sudah bergeser karena ulah Chelsea.
Bugghh....
"Sudah ku bilang UNTUK MENJAUH DARI PUTRIKU. DASAR BRENGSEK" Brian menghempaskan tubuh Andrew yang mengaduh kesakitan hingga terhuyung.
Bugghhh...
Andrew terkapar, karena 3 tinju yang ia terima dari tiga orang yang berbeda.
"Anjing lo, gue males temenan sama pengecut kayak lo" Roy menambah komplit penderitaannya. Rasa nyeri di buku buku tangannya tak seberapa dibandingkan rasa khawatirnya kala gadis pujaannya disekap Andrew.
"Lexa... Alexa.. tunggu..." panggil Roy pada Alexa yang tengah digiring kedua orang tuanya menuju mobil mereka.
"Mau apa lo?" Chelsea waspada. Benar kata Alexa, aura momy nya membuat lututnya bergetar.
"Eh.. anu.. itu... kamu ga papa kan?" tanyanya langsung terbata.
"Ga papa" Alexa langsung berbalik. Terlihat jejak air mata di pipinya. Ekspresi ketakutan masih tampak di wajahnya.
"Ijinkan aku lebih dekat denganmu Lex" gumamnya sendu.
__ADS_1