
Seminggu berlalu, namun Chelsea masih berkabung atas sepeninggal Dennis. Dia selalu menyendiri dan melamun. Entah apa yang dilamunkan. Dan Brian mulai merasa kesepian. Dia merasa kehilangan sosok istrinya yang ceria, penyayang dan jahil itu. Raga nya tak memancarkan kehangatan lagi. Hanya dingin yang ia rasakan.
Berkali kali Brian mencoba menghiburnya untuk bangkit dan melanjutkan hidup, namun seperti Chelsea tak ada disana.
"Sayang... aku kangen.." Brian mengecupi pundak Chelsea dipembaringannya yang memunggunginya. Tangan Brian tak hentinya mengusap lengannya.
Lagi lagi Chelsea seolah tak mempunyai jiwa. Tak ada tanggapan maupun ekspresi. Suram. Itu yang Brian rasakan.
Dia mencoba membujuknya lagi.
"Sayang.. peluk aku.. liat aku.. suamimu..." Brian membalikan pundak Chelsea agar berbalik menghadapnya. Namun Chelsea seolah menolak.
"Apa aku ini tak ada artinya untukmu? Apa aku salah, mencarimu? Ataukah aku harus mati agar mendapat perhatianmu?"
deg
Chelsea tiba tiba berbalik dan memelototinya.
"Jangan ngaco kalo ngomong"
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar mendapat perhatianmu? Aku masih hidup, sayang. Aku kangen sama kamu"
"Kamu gak akan ngerti perasaanku" Chelsea kembali berbalik membelakanginya.
"Lalu apa kamu ngerti perasaanku? Kamu ada, tapi kamu gak ada. Kamu dekat, tapi kamu jauh. Kamu bisa kusentuh, tapi hatimu kosong. Yang sudah pergi biarlah pergi. Relakan. Ini yang terbaik untuknya"
"Tau apa kamu yang apa yang terbaik untuknya?" perkataan Chelsea meninggi.
Brian cukup terkejut dengan reaksinya.
"Sayang, sudah ya. Jangan seperti ini. Look at me, baby. I'm here. With you. I'll never gonna leave you anymore" ciuman Brian dihindari Chelsea. Brian mulai merasa kesal.
"Apa kamu baru tersadar kalo kamu mencintainya?" tanya Brian akhirnya. Pertanyaan yang memenuhi otak Brian seminggu ini karena Chelsea tak kunjung berpijak pada kenyataan.
"Apa kamu bilang? atas dasar apa?" Chelsea kembali mengeluarkan suara tinggi.
"Aku cuma butuh waktu. Please ngertiin aku. Aku lagi kehilangan. Bukan waktunya kamu cemburu sama yang udah gak ada" lanjut Chelsea.
__ADS_1
"Sampai kapan? aku tanya sekali lagi. Siapa dia sampai kamu mengabaikan suami dan anakmu? cinta pertamamu? kasih tak sampaimu? Dia mungkin sahabat mu, tapi bukan sahabatku. Jika saja dia adalah kerabatmu, mungkin akan kubiarkan kamu berkabung semaumu, sayang. Gimana aku gak ngerasa cemburu coba? Aku ngerti dengan keterpurukanmu. Seandainya waktu bisa kuhentikan, akan kuhentikan waktu untukmu agar kamu bisa bebas menggunakannya. Tapi waktu terus berjalan. Ada anak yang harus kamu urus, kamu sayangi. Ada suami yang juga butuh perhatianmu, yang butuh tempat melepas lelah. Anak anak butuh kamu. Aku butuh kamu. Aku butuh pelukanmu, kasih sayangmu. Aku rindu ceriamu, kejahilanmu. Aku seperti gak kenal kamu lagi, sayang. Tolong kembalilah seperti dulu" bujuk Brian.
"Kalo kamu gak terima aku yang sekarang, kamu bisa menjauh dan tinggalin aku"
deg
"Jadi gitu. Sekarang aku tau. Ternyata yang aku pikirin benar adanya. Kamu baru sadar kalo kamu mencintainya. Aku ngerti" Brian bangkit lalu beranjak.
"Aku bawa anak anak. Aku gak mau mereka tumbuh bersama orang tanpa jiwa" Brian keluar dari kamar membawa sejuta kekecewaan. Sumpah, bukan ini yang dia inginkan. Ekspresi Brian berubah dingin. Traumanya kembali menghampiri. Trauma karena ditinggalkan sang istri yang sangat dicintai.
Malam itu Brian benar benar pergi membawa anak anak serta bersamanya. Dia ingin memberikan Chelsea waktu sebanyak yang dia mau. Dia lelah. Dia tak mau menyia nyiakan waktu demi anak anaknya. Kini ia bertekad akan hidup untuk anak anaknya.
"Chlesea... Chelsea... bangun sayang..."
Chelsea membuka matanya. Dia melihat Dennis tengah berdiri mengenakan kemeja putih bersih, tengah menatapnya lembut.
"Dennis.. Dennis maafkan aku.. maafkan aku dan.. terima kasih" ucap Chelsea sambil menitikan air mata. Dennis tampak tersenyum padanya. Senyum yang menenangkan. Kemudian dia berbalik dan melangkah pergi, menghilang menuju cahaya.
"Dennis..."
"Bear.. bear.. kamu dimana? disini gelap bear.. jemput aku.. bear..." suara itu tak terdengar lagi. Chelsea gugup dan panik dalam kegelapan sendirian.
"Bear... bear... jangan pergi... kembalilah.. beeeaar..." Chelsea langsung terduduk dari tidurnya. Nafasnya terengah engah. Diperhatikan dia berada dalam kamarnya yang gelap. Waktu menunjukan pukul 4 dini hari. Tenggorokannya terasa kering, ia pun kebawah untuk mengambil minum.
"Kenapa mimpi itu datang lagi? mimpi yang sama sebelum aku menyusul dady bear ke - bear?" gumamnya dalam hati dan menyadari sesuatu.
"Bear..." Chelsea memanggil Brian dan mencarinya di seluruh ruangan yang ada di mansion. Lalu muncullah seorang asisten rumah tangga yang terbangun karena terkejut dengan suara Chelsea.
"Ada yang bisa saya bantu, nyonya? apa nyonya mau makan?"
"Tuan ... apa kau melihat tuan mu?" tanya Chelsea tanpa menghiraukan tawaran sang art.
"Tuan bukannya pergi ya nyonya, tadi malam sama anak anak?" jawabnya terheran.
"Pergi? kemana?"
"Saya kurang tau, nyonya. Tuan cuma nyuruh saya nyaiapin baju baju non Shelly sama den Axel"
__ADS_1
"Ya udah, kamu boleh tidur lagi"
"Baik nyonya"
"Paling juga ke mama Carol. Besok anak anak kan sekolah" Chelsea kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya.
Tapi dia tak bisa tidur lagi. Badannya terus bergerak. Balik kanan, balik kiri, terlentang, lalu duduk. Dia merasa lain. Sepi. Hampa. Terabaikan.
"Kenapa dady bear pergi gak bilang?" Chelsea lalu meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Mati. Kenapa dia lupa men charge ponselnya? Butuh 5 menit agar ponselnya terisi penuh. Lalu dia menyalakan tombol 'on', dan melihat tak ada panggilan masuk ataupun pesan masuk. Terakhir dia menghubungi Brian adalah saat di tempat Alexa.
Dia mencoba menghubunginya, namun ponselnya tak aktif. Lalu dia menghubungi mama Carol. Tapi dia urungkan niatnya. Dia takut mama menanyakan apa ada masalah dengan hubungan mereka karena Chelsea tak tau Brian dan anak anak kemana.
Lalu sekelebat potongan percakapan terakhir mereka menghampirinya. Dan dia terkejut. Tak percaya dengan apa yang telah dia lakukan.
"Bear.. kamu bener bener ninggalin aku?" lirihnya. Hatinya terasa perih mengingat jika dia benar benar ditinggalkan Brian. Lalu Chelsea menangis tergugu. Dia merasa bodoh. Dia sendiri tak mengerti kenapa melakukan hal itu pada keluarganya. Dia berniat mendatangi sekolah anak anak besok pagi.
Seorang guru mengahampiri Chelsea.
"Mama Shelly, apa ada yang ketinggalan?" tanya nya tiba tiba membuat Chelsea bingung dengan pertanyaannya.
"Maksud ibu?"
"Bukankah Shelly dan Axel sudah dipindahkan sekolahnya ya mam? Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu lagi?" lanjutnya sedikit bingung dengan kebingungan Chelsea. Othor juga jadi ikutan bingungš¤
"Pindah?" batinnya.
"Oh, ga ada apa apa. Saya cuma mau menyampaikan rasa terimakasih saya karena sudah direpotkan dengan anak anak saya. Maaf jika kepindahan anak saya mendadak. Baiklah, saya permisi dulu ya bu"
Chelsea benar benar buntu harus bagaimana dengan situasi sekarang. Beruang lucunya itu pasti merajuk padanya.
Chelsea merasa hopeless. Akhirnya memutuskan mendatangi kantor Brian.
Seperti biasa, kedatangannya lebih menakutkan dibandingkan tim audit dan Presiden Direktur.
"Dewi, panggilkan bos mu" perintahnya pada sang sekertaris.
"Tapi, bapak sudah berangkat bu"
__ADS_1