
"Bolehkah aku bergabung?" pinta Mario menghiba.
"Ya, karena kau sudah disini, silahkan bergabung. Tapi maaf jika keluarga kami tidak seperti keluarga yang lain"
"It's okay. Aku akan berusaha menikmatinya"
Akhirnya Brian membawa Mario ke area belakang rumah mereka. Chelsea dan kedua anaknya terlihat tengah tergelak bersama, menertawakan nasib salah satunya yang penuh akan coretan lipstik di wajahnya.
Chelsea yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos indies terlihat seperti remaja menuju dewasa, dengan rambut panjang yang ia gulung ke atas hingga menampilkan leher jenjang, dan juntaian rambut yang tak ikut terikat melambai lambai nakal tertiup angin semilir. Wajah yang natural tanpa polesan make up menampilkan kecantikan alaminya.
"Sayang, ada yang mau bergabung. Ga apa apa kan, sesekali?" ijin Brian pada ketiga anggota keluarganya. Chelsea yang sontak melirik pada seruan suaminya seketika merubah ekspresinya. Dan itu diperhatikan oleh Brian.
Apa dia salah mengijinkan kliennya ikut bergabung dalam acara sederhana keluarga kecilnya? batin Brian.
"Maaf jika saya mengganggu waktu kebersamaan kalian. Silahkan diteruskan"
"Aku bikin cemilan dulu. Kalian mau dibikinin apa?" Chelsea langsung bangkit dan berjalan ke arah dapur. Disusul anak gadisnya, Alexa.
Harvey diam di tempat menemani sang dady. Dia yakin ada sesuatu dengan tamu satu ini melihat perubahan ekspresi sang ibu.
"Kalian tadi main apa? kok muka nya di coreng coreng gitu?" tanya Mario ber basa basi.
"Main jeplak kartu" jawab Harvey.
"Kenapabisa nyasar ke daerah sini, Yo? setauku ke arah sini gak ada tujuan wisata liburan, bukan jalur ke Bandung pula, dan gak ada hotel dekat sini. Interogasi Brian yang memang merasa aneh dengan alasan Mario.
"Ehm iya sih. Sebenernya aku sengaja kesini. Temen temenku pada liburan ke Bandung sama keluarganya. Kebetulan juga orang yang sudah janjian sama aku membatalkan makan malam secara sepihak. Ya sudah, dari pada aku menghabiskan malam sendirian, aku teringat padamu. Siapa tahu kamu dan keluarga gak ke luar kota seperti yang lain. Ternyata benar" jelasnya panjang lebar.
"Iya, kebetulan kita gak pergi. Karena seminggu ini waktuku full di kantor. Jadi lelah rasanya kalo harus berkendara ke luar kota.
"Harvey, kata momy bantu pasangin galon ke dispenser" pinta Alexa yang menyampaikan pesan ibunya pada adiknya, Harvey.
__ADS_1
"Oke, kak"
"Itu, bukankah..." tanya Mario yang baru menyadari Alexa ternyata bagian dari keluarga Brian.
"Iya, itu Alexa, putriku" jawab Brian yang sudah tau arah pertanyaan Mario.
"Apa kau serius? kupikir dia hanya karyawan mu"
"Aku yang memberi aturan agar bersikap professional. Dia bisa bermanja padaku saat di rumah, tapi dia adalah bawahanku di kantor. Dia bahkan memulai karirnya dari karyawan biasa, dan berada di posisinya sekarang karena kinerjanya" jelas Brian panjang lebar.
"Tapi.. istrimu itu, tampak masih sangat muda untuk wanita yang telah memiliki anak seumuran Alexa" tampak binar kagum pada matanya. Dan Brian tidak suka.
"Dia adalah ibu sambungnya. Tapi dia bertindak melebihi ibu kandungnya. Aku bersyukur bertemu dengannya. Dia bahkan rela mati untuknya. Sama sepertiku yang rela mati untuk istriku" ungkapannya membuat bulu kuduk merinding.
"Daaaad.... makanan sudah siap" seru Harvey dari arah dalam.
"Ayo, bukankah makan malam mu dibatalkan?"
"Tentu saja ini adalah makan malam ke dua kami. Kami biasanya tak menerima tamu pada saat seperti ini. Karena kamu sudah ada di sini, nikmatilah menu seadanya"
Akhirnya mereka makan malam untuk yang ke dua kalinya. Seperti biasa, suasana makan malam mereka selalu hangat. Chelsea dan Brian yang selalu mengumbar kemesraan tak ayal selalu mendapat protesan dari Harvey.
Mario menilai pada setiap momen, Chelsea lah yang membuat suasana menjadi berwarna dan hangat. Alexa juga ceria, namun Chelsea lah yang berperan banyak dalam keceriaan rumah ini. Benar kata Brian. Chelsea adalah semesta rumah ini. Betapa bahagianya memiliki seseorang sepertinya. Jika saja dia bisa memilikinya.
Waktu sudah sangat larut. Namun Mario terlihat enggan untuk pulang.
"Sayang, aku sudah ngantuk. Segeralah menyusul setelah kau mengantarkannya pulang" usir halus Chelsea sambil menyandarkan badannya pada Brian dengan kepala mendongak dan tangannya membuat pola di dada bidang Brian.
"Baiklah, kamu duluan sayang. Aku akan mengantarkannya ke depan"
Tanpa berpamitan pada Mario, Chelsea melenggang naik ke kamarnya. Disusul anak anaknya yang juga ikut masuk ke kamar Chelsea.
__ADS_1
"Kalian.. tidur ber empat?" tanya Mario terheran.
"Tentu saja tidak. Istriku itu selalu punya ritual sebelum tidur pada anak anak. Dia tak mau mengabaikan dan mengesampingkan anak anak. Meski sudah dewasa, seperti Alexa, dia menganggapnya anak kecil dan memanjakannya sebelum tidur. Untuk itulah mereka sangat mencintainya" Baiklah, ayo ku antar sampai depan"
"Ah, iya. Terimakasih atas makan malamnya. Apa aku boleh datang dan bergabung lagi kapan kapan?" pinta Mario berharap mendapat kesempatan bertemu lagi dan lebih dekat dengan Chelsea.
"Aku rasa istriku tidak suka diganggu waktu kami untuk berkumpul. Maaf, bro"
"Ah, ya. Aku mengerti. Maaf sekali lagi sudah mengganggu waktu kalian. Baiklah, aku pergi. Selamat berakhir pekan" Mario pun melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Brian yang hangat. Entah bagaimana lagi caranya bisa mendapatkan perhatian Chelsea. Tampaknya wanita itu bukanlah wanita yang mudah didekati. Pikirnya yang merasa tertantang untuk bisa merebutnya. Dia bahkan melupakan obsesinya memiliki Lisa yang selama ini dikejarnya. Padahal usianya dengan Chelsea lumayan jauh. Namun tak menyurutkan ketertarikannya.
"Sudah pulang?" tanya Chelsea yang sudah bersiap dengan kostum tempurnya.
ceklek
Brian mengunci pintu. Bisa dipastikan malam ini akan terus siaga.
"Sudah, sayang. Sebentar" Brian masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki. Kemudian dia melepas semua kain yang menempel di tubuhnya. Katanya takut virus Mario menempel dan ikut kegiatan mereka🤦🏻♀️
Dia keluar dalam keadaan polos yang langsung membuat Chelsea terbakar dan juga melepas jubah perangnya.
Kini dia memakai kostum tak kasat mata yang membuat pedang tumpul itu bangkit bersiaga, menerobos pertahanan lawan yang lembab dan gelap.
Chelsea menyambutnya tanpa turun dari arena pergulatan. Sentuhan sentuhan ringan membangkitkan gelora pertarungan yang sengit. Brian menahannya sekuat tenaga, menyimpannya dahulu sebelum menyerangnya membabi buta.
Disela sela sentuhan itulah saatnya mereka mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan.
"Tadi pagi, aku menolongnya karena dia mabuk. Lalu mengantarkannya karena katanya ada jadwal meeting. Dan akan berterimakasih padaku saat bertemu lagi. Dia megajakku makan malam. Tapi aku gak dateng. hhhh..." pedang tumpul itu menembus pertahanan Chelsea.
PANAS TEROOS
KAPAN BERES NYA🤦🏻♀️
__ADS_1