
Chelsea hampir tiba di bengkel. Ia tertahan oleh lampu lalu lintas yang merubah warnanya menjadi merah.
"Ni lampu punya masalah apa sih sama gue? perasaan dari tadi merah mulu tiap ketemu perempatan" Chelsea kesal, padahal jalanan lengang, namun dia tak mau melanggar peraturan.
bremmmm
Terdengar bleyeran mobil yang berhenti tepat di sebelahnya. Maybach. Chelsea hanya tersenyum miring.
" cih, nantangin ni chorro"
Chelsea membalas bleyerannya. Terlihat penantangnya menurunkan kaca mobilnya sehingga tampaklah sosok songong laki laki berparas bule berusia 25 tahunan. Chelsea pun menurunkan kaca mobilnya, diam diam dia menghitung waktu. Tampak wajah terkejut si penantang karena yang dia tantang adalah seorang wanita.
Chelsea bersiap memindahkan persneling nya, lalu melayangkan jari tengah ke arahnya, dan seketika melesat diikuti si penantang yang merasa terhina dengan sikap Chelsea. Dia menginjak dalam pedal gas, namun Chelsea mendadak membelokkan mobilnya ke bengkel, karena lokasi bengkel dengan stop-an itu hanya berjarak 100 meter-an. Ada rasa puas di hati Chelsea karena sudah mengerjai laki laki songong itu.
ciiiit
brakk
Terdengar decitan ban dan benturan dari kejauhan. Semua penghuni bengkel berhamburan keluar, mencari tahu apa yang terjadi. Namun Chelsea tak peduli. Dia melenggang masuk ke arah kantor bengkel untuk menyiapkan surat surat untuk persyaratan penjulaan properti.
Ya, Chelsea berniat menjual bengkel itu. Bayangan tragis malam itu terus menghantuinya kala berada di dalam bengkel. Dia ingin memindahkannya ke tempat yang lebih dekat dengan kantor Brian suaminya. Dan dia sudah selesai merenovasinya.
Terlihat Maybach hitam itu masuk ke pekarangan bengkel dengan kondisi bemper nya yang terlepas sebelah dari posisinya, dan kap mobil yang terlihat sedikit penyok. Si empunya keluar dengan kekesalan yang membuncah, namun dia sedikit menahannya. Dia terlihat celingukan mencari keberadaan seseorang.
Chelsea selesai dengan transaksinya. Dia menanda tangani surat penjualan properti di hadapan notaris dan pembeli nya. Dia bangkit dan menjabat tangan keduanya. Kini bengkel bersejarah itu sudah bukan miliknya lagi. Banyak kenangan manis yang ia tinggalkan disini. Sedih, Chelsea menitikan air mata, melepas rumah keduanya pada orang lain.
Namun apalah artinya, jika 1 kenangan mengerikan merusak ribuan kenangan manis yang sudah bersarang di tempat itu. Chelsea melepasnya. Harus melepasnya.
__ADS_1
"Hei, kamu" teriak laki laki berparas bule pemilik Maybach yang menabrak tiang listrik beton tak jauh dari bengkel, ke arah Chelsea sambil mengacungkan telunjuknya.
"Kau memanggilku?" tanya Chelsea dingin sambil memakai kaca matanya.
"Siapa lagi cewek kurang kerjaan yang sok sok an nantangin gue"
Chelsea menepis tangan yang menunjuk wajahnya. Dia kembali membuka kaca mata hitamnya.
"Yang kurang kerjaan siapa? Lagian siapa elu mesti gue tantangin segala?" Chelsea kemudian melirik pada kondisi nahas Maybach itu, lalu menertawakannya.
"Heh, lagian kalo ga bisa pake mobil orang jangan sok sok an pake nantangin" entah kenapa Chelsea tiba tiba berkata seperti itu. Feelingnya mengatakan jika mobil itu hanya pinjaman.
"Kamu.. kamu... tahu dari mana kalo ini bukan mobilku?"
"Heh, sudah ku duga. Elo gak akan semarah ini kalo ini adalah mobil lo sendiri" malas meladeni, dia segera masuk ke mobilnya dan segera meninggalkan bengkel yang penuh kenangan itu. Mengabaikan teriakan si bule jadi jadian itu. Muka nya aja bule, logat bicaranya kampungan abis. Gatau nemu dimana tuh muka.
Chelsea mengarahkan Rolls Royce nya ke kantor Brian. Bebannya terasa berat kala memakai mobil mewah itu. Bawaannya selalu ingin menancapkan gas dan melesatkannya. Namun jalanan ibu kota yang terbilang padat meski dalam kondisi lengang sekalipun tak membuatnya puas untuk memacu mobil sport itu. Kesal rasanya kala mengingat sang suami membelinya tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu. Meski mobil ini datang dengan pita besar berwarna merah dengan kartu kecil yang menempel di kaca depan mobil itu bertuliskan 'Happy Anniversary My Universe' membuatnya lemas terharu. Tetap saja suatu pemborosan. Baginya, tidak ada yang bisa menandingi Humvee nya. Namun mengingat betapa besar rasa cinta Brian padanya, dia selalu menahan kekesalan itu.
"Sedang meeting, bu. Sebentar saya panggilkan"
"Ga usah. Biarin aja dia selesein dulu. Saya mau istirahat sebentar. Selesai rapat, bilang saya nunggu di ruangan" perintahnya sambil berlalu dan masuk ke ruangan Brian.
Chelsea merebahkan diri di sofa, semalam ia tak bisa tidur karena terus memilih gedung tempat pernikahan anaknya, Alexa. Hari ini dia memakai celana cargo bertali dengan warna nude, dipadu dengan atasan indies yang membuatnya terlihat 10 tahun lebih muda.
Brian selesai dengan meetingnya, Dewi segera memberitahu perihal kedatangan sang ibu negara. Namun Brian masih asik berbicara dengan salah satu klien nya sambil membereskan dokumen. Melihat kedatangan Dewi, Brian langsung mengoper dokumen itu ke tangannya, dan menggiring sang klien ke ruangannya.
"Sudah ku bilang untuk melepaskannya, dia itu tidak menghargaimu, Yo"
__ADS_1
"Tapi aku gak bisa berenti mikirin dia. Aku udah coba buat buka hati aku buat cewek lain. Sempat berhasil. Tapi ga sengaja ketemu lagi, dan aku kembali berharap"
clek
Brian membuka pintu ruangannya. Klien nya yang bernama Mario itu terus meluapkan keluhannya pada Brian yang langsung duduk di kursi kerjanya.
"Siapa dia?" tanya Mario di sela sela curhatannya pada sosok wanita yang tengah tertidur pulas. Kakinya menjuntai sebelah ke lantai, sebelah tangannya berada diatas kepalanya, sedangkan satunya lagi berada di perut ratanya yang pakaiannya sedikit mengangkat tertarik tangannya, menampilkan pusaran pembuat badai.
"Ya ampun, sayangnya aku" ucap lirih Brian yang tatapannya menghangat kala melihat wanitanya terlelap. Dia pasti kelelahan setelah drama tadi malam tentang memilih gedung pernikahan anak mereka.
Brian membuka jas kerja nya, menyelimutkannya pada bagian perut dan dadanya. Kemudian kepalanya ia angkat dan ia taruh di pangkuannya. Mengusap rambutnya lembut.
"Dia istriku. Chelsea" mata Brian menatapnya lembut.
"Istrimu? hei, dia terlihat seperti adikmu" kelakarnya.
"Ngaco. Dia adalah semestaku"
"Hemmm bisa kulihat itu di matamu. Kamu beruntung, bro. Seandainya nasibku seperti mu"
"engh... bear... udah selesai rapatnya?"
Chelsea merenggangkan tubuhnya, kemudian berbalik menghadap Brian. Matanya masih terpejam, namun ia sadar sedang berada di pangkuan suaminya. Tangannya bergerilya mengusap pusaka Brian, dan itu disaksikan langsung oleh Mario yang terlihat menelan ludah.
Brian gelagapan. Tersenyum kaku pada Mario yang menampakkan ekspresi sulit untuk digambarkan.
"Sayang, ada orang lain disini" ucap Brian serak.
__ADS_1
"Engh.. suruh pergi aja. Kalo ga, aku yang pergi" masih belum ngumpul nyawanya, man teman😬
"Kalo gitu.. aku pergi dulu, bro. Kau lanjutkan saja" Mario langsung melesat keluar dan menutup pintu. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi juniornya yang tiba tiba migrain. Nyut nyutan😁✌️