Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#103. Life Is Never Flat


__ADS_3

Alexa makan dengan tergesa, banyaknya menu kesukaannya membuat matanya mengembun. Betapa dia telah menyia nyiakan momy nya yang menyayangi dan memperhatikannya tanpa syarat, seperti seorang ibu kandung.


Dia terisak mengingat sikapnya yang tega mengabaikan ibunya. makanan yang dia kunyah pun sulit dia telan. Dia harus memukul dadanya berulang agar makanan itu turun.


"Pelan pelan, gada yang mo ngerebut makanan kamu" Elroy menyodorkan air minum yang langsung ditenggak Alexa setengahnya, lalu melanjutkan makan lagi. Mulutnya penuh dengan makanan, air matanya tak bisa berhenti menetes, namun dia tetap mengunyah. Dia tak mau menyia nyiakan makanan yang dengan susah payah dibuat dengan cinta ibunya.


Elroy menyeka sudut bibir Alexa yang belepotan, sebelah tangannya dia gunakan sebagai penyangga kepalanya. Menonton gadis pujaannya yang tengah bertransformasi menjadi anak kecil ini mengunyah dan menelan makanannya sendiri dengan lahap.


Alexa meliriknya dengan sudut matanya. "Elo mau?" tawarnya pada Elroy yang kemudian tersenyum dengan tawarannya itu.


"Emang boleh?"


"Enggak. Ini semua punya gue. Momy bikin ini semua buat gue. Cinta yang ada dalam makanan ini buat gue..." Alexa terisak, lalu tergugu. Kepalanya ia telungkupkan di meja.


"Iya, buat lo semua. Makanya jadi anak jangan botol"


Alexa mengangkat kepalanya. Ia pikir dia salah dengar.


"hah? botol?"


"iya. Bodoh dan tolol. Kalo gue jadi elu, ga akan sedikitpun gue sia sia in momy elu"


plak


Alexa menampar tangan Elroy. "Sa ae" dia melanjutkan makannya.


Akhirnya Alexa benar benar menghabiskan beberapa menu yang sudah Chelsea buat, hingga tak bersisa.


Elroy memindainya dari atas, lalu berjongkok memperhatikan bagian bawah kursi makan yang Alexa duduki.


"Napa sih lu?" tanya Alexa terheran dengan kelakuan paman jadi jadiannya ini.


"Lari kemana tuh makanan sebanyak itu?"


byurr


Air minum yang tengah Alexa seruput menyembur karena tak percaya sama kelakuan Elroy.


"Sialan lu, kirain nyari apaan. Ntar malem kalo mo nyari di wese. Udah buruan, gue ga sabar pen ketemu momy"


Alexa menarik Elroy yang tengah membereskan meja makan.


"Beresin dulu bentar. Yang makan siapa, yang beresin siapa?"

__ADS_1


"Udah nanti aja sama si mbok"


"Nanti dimarahin kak Chelsea loh"


"Bawel ah, darurat nih. MBOOOOK... TOLONG BERESIN MEJA MAKAN YAA.. udah cepetan, lo laki tapi kek siput deh ah heran"


"Lah, gue lagi yang disalahin. Dasar cewe. Mahabenarrrrr"


Alexa tergesa melangkah memasuki lobby rumah sakit tempat ibunya dirawat. Dia menyusuri koridor, melihat nomer kamar satu per satu di tiap pintu. Dia mendapat info dari asisten rumah yang ikut mengantarkan Chelsea ke rumah sakit.


srettt


Pintu kamar rawat di bukanya. Namun kondisi ruangan rapi. Tak seperti ada yang menempati. Dia kembali melihat nomer kamar yang menempel pada pintu. Memastikan dia tidak salah kamar. Namun nomor nya sama dengan yang diinformasikan.


Dia kemudian bertanya pada perawat yang kebetulan melewati mereka.


"Suster, maaf pasien disini kemana?"


"Ooh, nyonya Chelsea? dia dibawa pergi oleh anak laki lakinya. Padahal dokter belum membolehkannya pulang"


"Apa?pergi kemana?"


"Maaf nona. Kalau itu saya tidak tahu. Permisi"


"Salah gue, ini semua salah gue.... tapi kenapa momy harus dibawa pergi...." Alexa menangis lirih. Roy mengusap bahunya,menguatkannya.


Alexa tiba tiba teringat supir ayahnya.


"Pak Ino, bapak lagi sama momy ga?"


"Eh, iya non. Ini bapak lagi nganter nyonya sama den harpi"


"Kemana pak? kasih saya alamatnya pak. Sekarang" perintah Alexa tegas.


"Waduh non, gimana ya..."


"Cepet bilang sama aku Pak"


" hhhh.... ya udah, non dateng aja ke  Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Kec. Pademangan, Jakarta Utara. Jangan lama lama ya non. Nanti keburu ditinggal nyonya"


deg


Alexa segera menyeret Elroy keluar dari rumah sakit, dan menyuruhnya melajukan mobil dengan cepat ke alamat yang di sebutkan Pak Ino.

__ADS_1


"Cepetan napa, ih. Lelet"


"Ya ampun, ni betina. ini udah 80km/h oneeeng"


"Cemen lu mah, kalah sama momy"


"Iya iyaaa, momy lu the best lah. Eh kemana tadi alamatnya?"


"Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Pademangan"


"Hah? ancol?"


"huuh keoooong, cepetan napa, jan banyak nanya"


"Ngapain kak Chelsea ke Ancol? main pasir? Kalo mo pergi kenapa ga ke bandara aja?"


"Berisik lu, udah sana minggir. Gue yang nyetir"


"E e e e eh..... iya iya gak nanya lagi deh"


Tiba di lokasi


"Ini.. Roy.. lu gak salah kan? ngapain-"


"Nih liat map. Alamat yang elu sebutin tuh ya taman hiburan ini"


Mata Alexa berkaca kaca. Dia teringat dengan pertemuan awalnya dengan Chelsea di tempat ini. Mata yang berkaca kaca itu memindai sekitar, mencari keberadaan wanita yang sangat disayanginya. Terlihat dari kejauhan, seorang wanita berambut panjang tengah berlari ke arahnya, namun sempat tersandung, dan untungnya tak terjatuh, membuat orang orang yang berada di belakangnya terlihat terkejut.


"Momy..." ucapnya lirih. Alexa pun ikut berlari mendekati Chelsea dan langsung memeluknya. Menangis sejadi jadinya, Meninta maaf padanya. Chelsea menghujani ciuman di wajahnya.


Di rumah sakit


Chelsea sudah sadar, depresi dan kelelahan membuat otot dan syarafnya menegang. Namun saat ini, dia tengah tersenyum. Senyum yang mampu melelehkan bongkahan es batu. Dia tengah disuapi Harvey yang meneteskan air mata bahagia. Bahagia melihat senyum itu kembali terbit. Membuat dunianya hangat. Sebelumnya Harvey dan Brian berebut ingin menyuapi Chelsea. Padahal Chelsea menolak untuk disuapi. Sampai akhirnya Harvey merajuk hingga menangis, berkata jika Chelsea tak adil padanya. Tadi dirumah dia bilang ingin disuapi Alexa, tapi kenapa sama Harvey gak mau? Chelsea tersenyum saat itu. Dia beruntung anak anaknya berebut untuk mengurusinya. Bahkan suaminya pun tak mau kalah.


Sambil menonton tayangan yang berasal dari ponsel Brian, Chelsea makan dengan lahap.


Brian terharu melihatnya seperti ini. Anaknya, Alexa. Yang terlahir bukan dari rahimnya, begitu dicintai dan mencintainya. Brian mengecupi puncak kepala Chelsea. Matanya berkaca kaca.


Kehidupan, sungguh tak ada yang sempurna. Butuh noda untuk menghiasi kertas putih, lalu sedikit kreatifitas dan imajinasi, maka noda itu akan merubah kertas putih menjadi lukisan yang indah. Tidak ada yang datar di dunia ini, selalu ada gelombang, jalan berkelok, berbatu, berbukit dan jurang yang curam. (* kata keripik aja life is never flat🤭😉)


"Ayam nya harv..." Chelsea terus meminta anaknya menjejalkan makanan yang Brian beli atas permintaan Chelsea. Chelsea bersemangat melihat Alexa menghabiskan makanan yang ia masak, melalui tayangan CCTV rumah melalui sambungan ponsel suaminya.


Harvey menelpon pamannya, Elroy untuk menemani kakaknya. Dia terpaksa mengatakan hal itu agar kakaknya tersadar dari dunia suram yang tengah melingkupinya. Padahal dia sendiri tak tega melihat kondisi kakaknya yang tengah terpuruk.

__ADS_1


__ADS_2