Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#47. Alasan Kuat


__ADS_3

"Ayo cepat sayang, jangan bikin mama nunggu lama" Brian tak menggubrisnya dan segera menggiring keduanya kearah kasir untuk membayar.


"Kamu kenal sama wanita tadi?" tanya Chelsea saat berada dalam lift.


"Harusnya sih engga"


"Tapi panggilannya..." Chelsea bukan orang bodoh. Dia langsung bisa menebak dalam hatinya, mengingat warna matanya yang sama dengan Alexa, dan perubahan air muka keduanya saat bersirobok. Tapi dia memilih diam, menunggu hingga Brian sendiri yang bercerita padanya. Mungkin saat ini dia sedang menelaah hatinya.


Mereka tiba di pintu unit apartemen Brian, sepanjang perjalanan dari super market hingga ke lantai atas tempat unit nya berada Brian tak bersuara. Hanya menjawab pertanyaan Chelsea seperlunya dan terkadang terlihat enggan membahas. Alexa memperhatikan perubahan sikap ayahnya dan dia tidak suka.


"Lexa my sweet baby girl, how are you darling" sambut Mama Brian saat mereka memasuki apartemen.


"Granny, I miss you so much. mmmuach"


"Hello Chelsea, apa kabarmu sayang?"


"Baik Ma, kabar Mama gimana,sehat?


"Sehat dong, sayang. Apalagi sekarang kalian mau resmi, uhh Mama sehat banget"


" BB keatas dulu Ma"


"Ya, sayang. Jangan lupa telpon penghulunya" teriak Mama saat Brian menaiki tangga.


"Kalian ga berantem kan?" tanya Mama yang juga merasa aneh dengan ekspresi sang anak yang murung.

__ADS_1


"Tau tuh, dady. Kek liat hantu masa lalu" jawab Alexa sarkas.


"Lexa..."tegur Chelsea pelan.


"Emang bener kok mom. Lexa juga merhatiin ko perubahan sikap dady waktu ketemu perempuan tadi. Jangan bilang kalo momy ga tau ya." Chelsea terdiam.


"Perempuan? siapa?" tanya Mama Carol bingung.


"Adalah granny. Tadi di bawah ga sengaja ketemu karena insiden. Eh dady langsung kek gitu. Tebak Lexa sih, mungkin dia mantan dady. Ibu Lexa mungkin?" tebaknya enteng. Tak ada sedikitpun rasa sedih, marah, atau bahkan terharu.


"Kamu itu kalo ngomong jangan asal" sergah mama Carol.


"My god, Granny... Lexa tuh ga bodoh. Lexa pernah ko liat foto ibu kandung Lexa waktu dady mabuk dipeluk peluk fotonya sambil nangis. Cih... perempuan kek gitu ditangisin" kesal Lexa.


Mama Carol tak percaya Chelsea akan berpendapat seperti itu. Mengingat nasib sahabatnya yang kehilangan anaknya karena diculik, apakah dia juga akan berpikiran seperti Chelsea?


"I'm sorry, momy. Lexa cuma ga mau pisah dari momy" Lexa mendekati Chelsea dan memeluknya erat. Mama Carol memperhatikan Lexa cucunya. Benar kata Brian anaknya, Lexa tergila gila pada wanita ini. Memang ketulusannya terasa juga olehnya.


"Udah udah, sekarang momy mau masak dulu. Mau bantu?"


"Mau" Lexa menengadahkan wajahnya dan tersenyum karena tingginya masih dibawah Chelsea.


"Kamu bisa masak, sayang?"


"Hanya menu sederhana Ma"

__ADS_1


"Itu luar biasa, sayang. Mama aja selalu ngandelin asisten"


"Kalau Chelsea ga bisa masak, Chelsea kelaperan dong Ma, mana kalo beli jadi kan mahal, mana dapetnya sedikit" Chelsea tak segan menceritakan perihal kebiasaannya, dan itu yang Mama Carol sukai. Apa adanya.


"Pantesan BB klepek klepek sama kamu" Mama terkikik mengingat selama ini rekor jomblo Brian dipatahkan oleh wanita setrong kek Chelsea.


"Apaan sih Ma"


"Ciyeee... Momy malu malu haha.. mukanya kek tomat tuh mom"


"Stop it" Chelsea melempar tomat kearah Lexa yang bisa ia tangkap sambil mempertahankan tawanya.


Mereka tak sadar interaksi hangat mereka menciptakan lengkungan dibibir seseorang yang memperhatikan dari lantai 2.


ting


tong


Bel pintu berbunyi. Brian turun saat sudah membersihkan diri dan berganti baju.


"Aku yang buka" teriaknya agar penghuni dapur tenang dan melanjutkan kegiatan mereka. Perut Brian memang sudah mulai meronta ronta.


clek


"Hai B.."

__ADS_1


__ADS_2