Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#84. Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Chelsea tengah memandangi anak anak dan suaminya bermain di taman belakang rumah. Beralaskan kain tebal bermotif kotak kotak, dengan berbagai camilan yang dia buat untuk menemani family time .


Kedua tangannya menopang ke belakang tubuhnya, dengan kaki jenjang yang ia selonjorkan kedepan. Dia memperhatikan anak bungsunya yang berumur 5 tahun itu. Berparas tampan, dengan bola mata yang bulat, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, dan bibir yang mirip dengan Brian candunya.


Dalam ingatannya, anak inilah yang menemaninya saat koma, anak inilah yang membawanya kembali pada keluarganya.


Saat itu, kondisi anak mereka juga terbilang kritis, karena harus dikeluarkan saat usia kehamilan Chelsea baru menginjak 28 minggu. Namun, bayi mungil nan rapuh itu mampu bertahan, bahkan mengembalikan kesadaran ibunya.


Saat itu, saat pertama kali dia membuka mata, Brian yang lemah tak kuasa menahan haru. Sehingga dia terjatuh dan tak sadarkan diri. Betapa besar harapannya agar Chelsea, sang istri kembali di sisi nya. Betapa besar rasa cintanya hingga dia rela mengikutinya ke akhirat. Setetes air jatuh dari pelupuk.


Tuhan, persatukanlah kami hingga akhirat kelak. Do'anya sambil memejamkan mata.


cup


Brian mengecup mata Chelsea, lalu bibirnya sekilas. Dia mendudukkan pantatnya di kain kotak kotak itu, meraih kepala Chelsea agar bersandar di bahunya.


"Terima kasih" suara baritonnya sedikit bergetar. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya ini.


"Untuk apa?"


"Untuk kembali padaku" kepalanya menoleh pada Chelsea. Meraih dagu wanita itu, menatap matanya dalam.


Chelsea mengusap rahang kokoh itu, lalu bertanya "Apa saat itu... kau benar benar akan menjadikan anak kita yatim piatu?" kata katanya pelan namun mengandung ancaman. Brian gelagapan, sejurus kemudian Chelsea bangkit dan mencekik leher belakang Brian lalu mengguncangnya.


"Bilang kalo kamu berani, ayo bilang"


Brian tegelak lalu bangkit sambil menggendong Chelsea di punggungnya.


"C'mon kidos, let's fly" Brian merentangkan tangan lalu berlari kecil sambil menggendong Chelsea dalam punggungnya, menyuruh anak anaknya mengikuti apa yang mereka lakukan. Berlari kecil mengelilingi kain kotak kotak, meliuk liuk seolah naik pesawat. Tawa mereka diabadikan mama Carol yang terharu melihat pemandangan indah itu.

__ADS_1


😘


😘


😘


😘


Kecelakaan itu merenggut 2 nyawa. Selain Erik, Andrew adalah pengemudi mobil yang hendak menabraknya, namun berhasil diselamatkan Erik.


Andrew meninggal seketika. Sedangkan Cecil, yang menjadi otak pembunuhan itu sempat dirawat karena luka luka dari pecahan kaca, namun luka itu tak seberapa dibanding kejahatannya.


Meski Brian juga sempat mendapat sanksi karena mencelakai Cecil, namun hanya 6 bulan saja dia jalani. Sedangkan Cecil, dia dihukum seumur hidup karena pembunuhan berencana dan mengakibatkan nyawa 2 orang melayang. Setidaknya dia tidak dikejar kejar debt collector lagi, dan mendapat tempat tinggal.


Alexa kini berusia 25 tahun, dia tumbuh menjadi wanita dewasa yang disegani di kalangan karyawan kantor. Yups, dia bergabung dalam perusahaan sang dady dan menjabat sebagai Direktur Pemasaran. Dan itu atas persetujuan jajaran Direksi atas kemampuannya yang 2 tahun terakhir ini mampu menaikkan income dua kali lipat dibanding Direktur sebelumnya menjabat. Tentu saja sebelum sampai di titik ini, dia memulai dari karyawan biasa saat dia baru lulus dari sekolahnya. Saat baru bergabung selama 1 tahun, dia mengambil kelas karyawan untuk program sarjana dan pasca sarjana.


"Hai Wi, Pak Brian ada di tempat?" sapanya pada Dewi.


"Maaf, Bu Alexa. Bapak sedang kedatangan ibu Chelsea. Beliau bilang untuk tak diganggu"


Alexa memutar malas bola matanya "Ck.. kebiasaan ga tau tempat" gumamnya dalam hati.


"Ya sudah, tolong sampaikan pada bapak, kalau saya berangkat sendiri menemui client nya, ok?"


"Baik bu. Akan saya sampaikan"


Alexa melenggang pergi. Dia melirik jam tangan cantik yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah mepet. Keputusannya tepat jika pergi sendiri menemui client. Karena sudah dipastikan jika ibu negara sudah datang, maka CEO yang seorang budak cinta tak bisa kemana mana.


Alexa tiba di restoran yang sudah ditentukan untuk meeting dengan klien baru. Brian bersikeras untuk menemuinya bersama. Jiwa posessif daddy nya ternyata bukan hanya berlaku untuk sang momy. Apalagi melihat profil Direktur yang akan menemuinya kali ini. Pria matang, tampan, tinggi, dan satu lagi SINGLE.

__ADS_1


Haha..diusia Alexa yang tak lagi bocah, tentu saja dia juga memimpikan memiliki pasangan hidup. Ga mungkin juga kan dia terus terusan hidup dalam bayang bayang ke uwuan orang tuanya.


"Hmm... lumayan" kala Alexa melihat foto profil nya.


"Ibu Alexa? Maaf, saya terlambat" sapa seorang pria mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


"Tidak apa apa, Tuan Dennis. Saya juga baru sampai. Dan tolong panggil nama saja, saya belum setua itu"


Dennis tersenyum. Dia tak menyangka jika wanita yang ia lihat di foto profilnya ternyata orang yang supel. Sedangkan fotonya menunjukkan kesan kaku dan arogan. Ah ya, mungkin karena dia tertarik padanya? Dennis tipe laki laki yang narsis. Segala sesuatu selalu dihubungkan dengan ketampanan dirinya. Alexa bukannya tidak tahu, kesan awal tatapannya itu memudahkannya menilai seseorang. Yup, dia berguru pada master yang hebat. Sang Momy.


Negosiasi dan pembahasan kontrak berjalan dengan lancar. Seperti biasa, Alexa selalu berhasil menggiring klien baru, dan meraup keuntungan sebanyak banyaknya.


"Baiklah Tuan Darren, semoga kerja sama perusahaan kita berjalan lancar" dia mengulurkan tangan untuk berjabatan tanda pamit. Namun tangan Dennis menahannya.


"Apa kau masih ada acara lain, nona?" Alexa tau kemana arah pertanyaan itu. Dia berusaha melepas jabatan tangan mereka.


"Tentu saja masih ada meeting lain. Dan saya sedikit terlambat. Maaf tuan. Permisi" tegas Alexa yang langsung melengos pergi.


"Wanita yang menarik"


Chelsea tengah mengganti ban mobil Rubicon nya. Entah apa yang membuat ban jeep yang tebal itu tiba tiba oleng, yang ternyata ban nya ditembus sesuatu yang sangat panjang dan tajam.


"ck, dasar kurang kerjaan, nebarin paku ga kira kira" dumel Chelsea saat melihat paku asbes menancap sempurna pada ban nya.


Tak ada masalah baginya dalam menggandi onderdil mobil, bahkan ban sekalipun dengan model All Terrain /AT dengan bobot mencapai 25 kg itu tak membuatnya kepayahan. Hanya dress dan heels yang selalu membuatnya kepayahan. Seperti yang dikenakannya saat ini. Entah apa yang merasukinya hingga dia mengenakan pakaian mini tersebut, meski niatnya untuk menggoda suaminya sendiri.


ciiiit


"Perlu bantuan, nona? Chelsea? Kamu Chelsea kan?" ucap seorang pria yang menawarkan bantuan.

__ADS_1


__ADS_2