Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#43. Menemukannya


__ADS_3

Di ruang kerjanya, Brian terus mengulang memutar rekaman video dari CCTV bengkelnya, sesekali ia bergumam 'sayang... kamu dimana?'


tok


tok


"Yes dady, kata bi iyem dady manggil Lexa?"


"Duduklah, honey" Brian lantas memberikan gadget lipatnya pada Lexa.


"Apa ini?"


"Just play it" titahnya untuk menonton rekaman video salinan yang dia punya. Belum sampai beres Lexa menonton, dia langsung melemparnya kembali ke meja kerja Brian.


"I don't need this" matanya berkaca kaca, suaranya tercekat saat menonton sampai saat Andrew seolah hendak mencium Chelsea yang memang dia sudah saksikan secara live.


"Jangan setengah setengah, lihat sampai habis, atau kamu akan menyesal karena sudah menuduhnya buruk" titahnya tegas, tak ingin dibantah. Alexa paling takut jika sang ayah sudah dalam mode tegas, meski tidak membentak.

__ADS_1


Lexa kemudian mengulang memutar video dari awal. Dia terkejut dengan kejadian setelahnya. Dengan mulut menganga yang ia tutupi, mata berkaca kaca itu berhasil meloloskan air. Rasa sesak di tenggorokan menekannya, membuatnya susah untuk menelan saliva. Betapa ia menyesal telah berpikiran buruk pada wanita yang ia idolakan. Isakan keluar dari mulutnya. Lexa terus memutar ulang video itu. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk idolanya, meminta maaf padanya, mengatakan padanya bahwa dia sangat sangat menyayanginya.


Lexa kemudian meremas ponsel lipat ayahnya, dan mendekapnya erat sambil menangis tersedu, kepalanya tertunduk, menyesali kelakuannya yang kekanakan, dibutakan oleh cinta, sehingga menyakiti orang yang mencintainya.


"Jangan pernah deketin anak gue lagi, atau lo bakal berharap ga pernah dilahirin ke dunia"


Ancaman yang dilayangkan Chelsea terhadap Andrew terekam jelas di otaknya. Bayangannya saat menghajar habis laki laki bejat yang hendak melecehkan wanita idamannya, membuatnya sangat sangat merindukannya.


"Dimana dia sekarang, dady... Lexa mau ketemu..."


"I don't know.... I can't find her..."


"Cari dia dady.... please.... I want her back... I want her back..." pintanya pilu.


Brian bangkit dan mengelus kepalanya, memeluknya sambil sesekali mencium kepalanya. Tangis Alexa semakin kencang dipelukan Brian. Betapa gadis ini sangat menyayanginya. Baru menemukan sosok seorang ibu yang cocok dengannya, tapi harus kehilangannya lagi.


"Jangan hawatir sweety, dady akan terus cari momy"

__ADS_1


Waktu berlalu, ceria mentari kembali murung. Dibarengi dengan tenggelamnya, disambut oleh kegelapan malam yang dingin, sedingin hati 2 insan yang terlelap tidur di sofa ruang tegah nan megah. Suara deringan mengusik kenyamanan tidur mereka yang terbalut selimut tebal, karena diluar tengah turun hujan deras.


Brian meraih ponsel yang terjatuh ke karpet bulu, ia melihat jam sekilas, waktu menunjukkan pukul 9 malam.


"Halo"


"Halo, bos, bisa ke rumah sakit sekarang? Chelsea... Chelsea masuk UGD"


"Apa? dimana?"


"......"


"Baik, saya kesana"


Brian bergegas mengambil kunci mobil dan mantel tebal, tanpa mengganti pakaiannya, dia segera masuk ke mobil. Gerakannya terhenti kala mendengar teriakan Alexa, karena hujan masih turun lebat, jadi dia harus berteriak agar terdengar oleh ayahnya.


"Honey, we found her"

__ADS_1


Alexa segera menerobos hujan dan berlari ke arah mobil ayahnya yang hendak melaju.


__ADS_2