
Bengkel semakin hari semakin ramai pelanggan. Pasalnya, pelanggan yang mayoritas laki laki itu hanya ingin melihat, bahkan berkenalan dengan salah satu montir paling cantik se ibu kota.
Alexa selalu datang ke bengkel ibunya setiap pulang sekolah. Tentu saja bersama Elroy. Meski tak sesuai jurusan yang diambil, Alexa memang hobi dengan otomotif. Salahkan sang dady yang lebih banyak meluangkan waktu untuk mobil mobilnya dibanding anak semata wayangnya. Dan kini semenjak kehadiran sang momy, Lexa lebih bersemangat lagi. Chelsea mengajarkannya segala sesuatu yang belum Lexa ketahui dan kuasai.
Jangan tanya dengan tingkah Komar yang selalu tebar pesona pada ibu dan anak ini. Tapi tak pernah berhasil. Elroy semakin yakin dengan hatinya jika gadis pujaannya ini bukanlah gadis sembarangan seperti yang dituturkan Andrew dahulu kala. Alexa dan Andrew dilahirkan dari rahim yang sama, tapi sifat mereka jauh berbeda.
"Honey, momy ke kantor dady dulu ya. Kamu jangan sampe telat makan. Tuh momy dah siapin di meja kantor. Kamu juga El, paksa Lexa makan. Dia kalo lagi ngulik mobil harus diseret kalo makan"
"Ok. Mom" teriak Lexa di kolong mobil.
Elroy bertugas menjadi asisten Lexa, setidaknya Lexa tidak didekati pegawai montir lain yang selalu melirik padanya dan berusaha mencuri kesempatan untuk dekat dengannya.
Chelsea berjalan keluar gerbang bengkel. Dia teringat pada suaminya yang menginginkan rujak uleg pengkolan. Chelsea menyuruh sang supir untuk menunggunya didepan bengkel, karena kalau mengikutinya ke pengkolan, sudah dipastikan akan membuat kemacetan.
Chelsea memesan 2 porsi, 1 untuknya dengan tingkat kepedasan yang terbilang irit, dan 1 porsi lagi dengan tingkat kepedasan yang nauzubillah. Selagi masih menunggu pesanan siap, Brian menelponnya. Chelsea tersenyum kala melihat nama suaminya yang menelpon.
"Ya ampun, beruangku ga sabaran banget sih" gumamnya.
"iya sayaang, aku lagi beli rujak dulu, tunggu seben-"
"Kamu di luar bengkel?" potong Brian, suaranya terdengar aneh.
"iya. Tadinya mau lang-"
"Cepat masuk lagi ke bengkel" titahnya tegas. Tak seperti biasanya. Apa dia membentaknya? Chelsea paling ga suka kalo dibentak, terlebih oleh suaminya sendiri. Matanya berkaca kaca.
"Bear, aku tau kamu cemburuan, tapi masa sama mamang-"
"CEPAT MASUK"
CIIIIIIIIIT
"Awaaaas...." seruan orang orang disekitar.
BRAKK
"SAYANG..... CHELSEA....JAWAB AKU..."
"Ha..halo... m mas.. maaf.. mbak mbaknya kecelakaan..."
__ADS_1
Brian langsung terhuyung mendengar kabar itu. Kakinya melemas. Dunia serasa kiamat mendengar kabar mengerikan itu. Tersadar dari keterkejutannya, dia mempercepat larinya menuju lobby, karena sang supir ia tugaskan menjemput istrinya dia meminjam motor bebek satpam, dan memacunya, tanpa menghiraukan teriakan satpam agar memakai helm.
"Bertahanlah, sayang.... jangan tinggalin kita..hik... kamu kuat... kamu harus bertahan..." tangisnya pecah sambil memacu motor bebek jadul satpam. Air matanya menghalangi pandangannya, membuatnya berkali kali hampir menyerempet pejalan kaki. Brian memacu motor jadul itu di trotoar karena jalanan macet parah.
Flash back on
Perasaan gelisah menguasai hati dan fikirannya. Namun pekerjaan yang menumpuk membuatnya mengesampingkan perasaan tak jelasnya itu. Sebentar lagi adalah waktu istirahat, dia tak sabar untuk segera menemui istri tercinta.
"Pak, ada yang ingin- nona..maaf nona, anda tidak boleh..."
brakk
"B, kamu harus nolongin aku. Aku udah ga punya apa apa, bahkan tempat tinggal pun aku tak punya. Tolong ijinin aku tinggal di tempatmu ya, tolong lah. Aku dikejar kejar debt colector. Aku ga tau harus lari kemana lagi. Tolonglah"
Cecil langsung menghambur masuk tanpa mengindahkan peringatan sekertarisnya. Brian hanya memijat keningnya. Merasa jengah dengan kehadiran Cecil yang selalu tak ia duga. Ingatkan dia untuk memasang pemindai sidik jari di pintu lobby, agar memilah orang yang bisa masuk atau yang tidak bisa masuk. Karena ternyata percuma dia mempekerjakan 10 security jika tidak bisa menangani benalu semacam ini.
"Kenapa harus aku? pergilah pada para gundik mu. Kau pasti punya cara untuk merayu mereka. Atau kau bisa merayu para debt colector itu dengan tubuhmu" tanggapannya datar sambil membereskan dokumen yang telah selesai ditandatangani, dan menyusunnya kembali.
"Kamu... kamu pikir aku wanita murahan seperti istrimu itu?" sarkasnya membuat nya berhasil mencuri perhatian Brian.
Brian melangkah mendekat dengan sorot mata tajam. Tatapannya itu tak pernah ia lihat selama mengenalnya. Tatapan seperti monster yang siap mencabik cabiknya.
"Satu satunya wanita murahan disini hanyalah kamu"
Brian menekan jari jari kokohnya di leher Cecil.
"Dan aku pastikan, sedikit saja kamu dan tangan kotormu ini menyentuh keluargaku, kamu akan berharap tak pernah bertemu denganku"
Bukannya takut atau gemetar, Cecil malah tersenyum miring, Brian heran dengan tanggapan dari Cecil. Tak ada rasa terintimidasi darinya.
Cecil kemudian mengangkat sebelah tangannya yang memegang ponsel.
"Lakukan sekarang" perintahnya pada seseorang diseberang sana melalui ponselnya.
Brian terkesiap dengan kata kata itu. Apa maksudnya? Apa wanita ini memang benar benar berniat berbuat sesuatu pada keluarganya? Tanpa sadar, cekalannya melonggar, namun masih bercokol di leher Cecil. Memberikan ruang padanya sehingga membuatnya berbicara sedikit leluasa.
"Seperti katamu, aku tak akan menyentuhnya" senyuman miring yang tipis itu berubah menjadi seringai lebar yang mengerikan.
"Biar orang lain yang melakukannya. Hahahahaha......" tawa iblisnya menggema setelah selesai dengan kalimatnya.
__ADS_1
Brian langsung teringat istrinya. Dia melempar asal tubuh Cecil yang lebih kecil darinya ke sembarang arah, membuat tubuh mungil itu terjatuh di atas meja kaca dan pecah.
prang
Serpihan serpihan kecil menembus tubuh mungil itu, namun tak menggoyahkan hati dan pikiran Brian yang terus tertuju pada istrinya.
"Dewi, panggil ambulan kesini" titahnya pada sekertarisnya. Namun dia langsung menerjang keluar dari ruangan. Lari sekencang mungkin ke arah lift sambil berusaha menelfon istrinya.
Panggilan berlangsung, lift yang dia pencet tak kunjung terbuka pintunya, membuatnya memutuskan untuk turun menggunakan tangga darurat.
Terdengar panggilannya diangkat sang istri yang katanya sedang membeli rujak.
"Kamu diluar bengkel?"
"............"
"Cepat masuk lagi ke bengkel"
"............"
"CEPAT MASUK" sungguh, bukan keinginannya membentak istrinya, dia tau Chelsea membenci bentakkan. Tapi rasa panik yang menderanya membuatnya reflek melakukan hal itu.
terdengar suara decitan ban dan suara latar teriakkan orang orang diseberang sana.
CIIIIIIIT....
"Awaaaaas......"
brakkk
Langkahnya terhenti di titian tangga terakhir. Menajamkan pendengarannya.
"SAYANG..... CHELSEA....JAWAB AKU..." teriaknya kala tak mendengar suara indah itu lagi.
"Ha..halo... m mas.. maaf.. mbak mbaknya kecelakaan..." seseorang menjawab telfon yang masih tersambung padanya dan berada dalam genggaman istrinya yang tak sadarkan diri.
Flash back off
Tinggal beberapa meter lagi ia sampai di persimpangan. Namun karena adanya kecelakaan, membuat jalanan tak menyisakan celah untuk melajukan kendaraan mereka. Suara klakson saling bersahutan. Brian lompat dari motor jadul itu dan berlari sekuat tenaga ke arah kerumunan.
__ADS_1
"CHELSEA..... MINGGIR SEMUAAA... "
MAAP YA BEIBZ, OTHOR LAGI NAHAN NYESEK😢