Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#97. Anak Momy


__ADS_3

"Apa kamu mau ketemu momy? tanya Brian saat mereka berjalan di lorong menuju ruang rawat Chelsea.


"Tapi...Harvey takut dad. Gimana kalo..."


"Apa kamu gak takut sama dady? Momy mungkin adalah ibumu, tapi dia milik dady. Kamu berani merebut milik dady?"


Tatapan dinginnya membekukan sekitar mereka, membuat Harvey dengan cepat menggeleng. Sungguh pasangan yang serasi pikir Harvey.


"Cobalah, kamu ga akan tau kalo ga mencoba. Lagian, apa kamu tege menyakiti momy mu?"


Alis Harvey bertaut.


"Sikapmu yang menjauhinya melukainya. Sangat melukainya"


Mata Harvey berkaca kaca kala kata 'melukai' terucap dari bibir sang dady.


Dia tak pernah berniat melukainya. Tidak sekalipun. Semua karena tubuh sialannya yang tak terkontrol.


Tiba di depan ruang rawat ibunya, mereka berhenti sejenak. Terdapat jendela kecil di pintu ruangan itu, sehingga Harvey sedikitnya bisa mencoba mengontrol emosinya. Perlahan matanya mengarah pada tubuh ibunya yang tengah berbaring membelakangi pintu, terbungkus selimut sebatas pinggang. Lalu tubuh itu berbalik menghadap pintu, namun matanya masih terpejam. Harvey menitikan air mata, kala mengingat sosok ibunya yang tergeletak bersimbah darah. Dia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya kasar.


Dia lalu mengangguk pada sang dady, memberikannya aba aba agar mendampinginya masuk.


tok


tok


"Mom..my.. Momy, It's me.. Harvey.. Can I come in?" Harvey sedikit melongokkan kepalanya di pintu. Perlahan matanya melirik ke arahnya.


deg


Mata Chelsea melotot ke arahnya. Posisinya masih berbaring miring. Aura dingin terasa di kamar itu. Takut. Harvey merasa takut. Takut jika ibunya marah padanya. Takut jika ibunya menolaknya dan mengusirnya. Takut jika....


Harvey menilik pandangan Chelsea yang tajam, tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Dia bingung, apa dia harus mengurungkan niatnya? Namun sang dady mendorong kedua bahunya perlahan, menggiringnya masuk, mendekat pada brankar Chelsea. Namun Chelsea kembali memejamkan matanya.


"Mom..Momy... maafin Harvey, okay. Harvey.. Harvey ga ada maksud buat nyakitin momy. Harvey.. Harvey cuma lagi bingung sama diri Harvey sendiri. Harvey... Harvey sayang sama momy. Harvey janji, Harvey bakalan berusaha jadi anak yang lebih baik lagi buat momy. momy... momy jangan marah ya sama Harvey. Harvey ga sanggup kalo momy ngambek trus nyuekin Harvey. Harvey cuma... cuma malu sama momy..."

__ADS_1


Mata Chelsea sontak terbuka lebar. Malu? sejak kapan anak bujangnya ini malu padanya?


"Anak kita udah gede sayang" jelas Brian seraya mengedipkan sebelah matanya.


Pubertas. Bagaimana dia bisa melupakan hal itu? Dia tumbuh di lingkungan yang tidak sesuai dengan usianya.


"Ya ampun, anak momy. Mana mungkin Momy bisa marah sama kamu, sayang" Chelsea merentangkan tangannya, menyuruhnya untuk memeluknya. Tapi Harvey langsung menggeleng cepat.


"Kata dady, momy... momy cuma milik dady, Harvey ga boleh peluk momy. Nanti dady cemburu trus Harvey nanti dihajar dady" ucap polos Harvey.


"Bear?..." Chelsea menegur Brian dengan datar. Dan Brian hanya melihat ke langit langit kamar.


"BRIAN Mc KENZIE....." Chelsea mulai mengaum dan langsung membuat Brian lari ke luar kamar sambil berkata pada Harvey "Run for your life..." kata kata itu sedikit menggetarkan Harvey yang juga menyusul dady nya lari keluar kamar.


Chelsea memijat pelipisnya, ga ngerti sama kelakuan ayah dan anak itu. Namun senyum kembali terbit di bibirnya.


"Daaad.... dady licik ninggalin Harvey sendirian. Nanti kalo Harvey dicabik cabik momy gimana?" mereka tergelak bersama, menertawakan kekonyolan mereka sendiri. Setidaknya, Harvey melupakan perasaannya sejenak pada istrinya. Semoga dia bisa melupakannya, dan kembali hidup normal.


Sudah seminggu Chelsea keluar dari rumah sakit. Dan seminggu itu pula Harvey melakukan terapi seperti yang disarankan Brian. Untunglah dia anak yang penurut. Harvey pun mengikuti kegiatan ekskul di sekolahnya. Dia memilih beladiri. Selain untuk melindungi momy nya, juga melindungi dirinya sendiri dari bullying di sekolahnya. Posturnya mungkin tinggi untuk anak seusianya. Namun kepolosannya yang membuatnya di olok olok di sekolah. Tak masalah baginya jika mereka hanya meng olok olok nya, tapi jika menyangkut ibunya, dia akan memberontak.


Akhirnya, Chelsea diam diam mengawasi anaknya dari kejauhan. Terjawab sudah, mengapa perilaku anaknya seolah menjadi liar. Tadinya Chelsea merasa takut Harvey menjadi angkuh dan sombong karena mengikuti bela diri dan menggunakannya demi keuntungan pribadinya. Namun dia salah. Chelsea lupa jika Harvey selalu mengikuti didikannya.


Pembagian raport kelas X tinggal menghitung hari, undangan kepada para orang tua sudah disebar.


"Mom, dad..."


"hmm..."


"Siapa yang mau ngambil rapot aku?" tanya nya bimbang.


"Kamu maunya siapa, sayang?" Chelsea balik bertanya.


"Dady aja ya?" pintanya menghiba.


"Kenapa ga sama momy? biasanya sama momy" Brian menjawab dengan cuek. Chelsea memperhatikan ekspresi anaknya yang hanya menunduk.

__ADS_1


"Okay, baiklah. Biar momy yang ambil. Titik" tegas Chelsea yang langsung bangkit dan melangkah menuju dapur. Tidak bisa di bantah. Brian hanya mengedikkan bahu. Dia percaya istrinya punya sesuatu.


"Dad please... sama dady aja" bisik Harvey membujuk dady nya.


"Jika ibu negara sudah bersabda maka..."


"Tidak bisa dibantah, I know" lanjut Harvey yang kemudian melangkah lunglai ke kamarnya. Chelsea terkikik melihat tingkah anaknya.


Hari pembagian raport tiba. Chelsea berdandan ala kadarnya. Tak mau memakai pakaian minim ataupun sekedar rok panjang selutut. Dia merasa nyaman mengenakan celana kulot berwarna peach dengan blouse berlengan panjang berwarna putih. Jam tangan cantik berwarna hitam menghiasi pergelangan tangannya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai.


Heels 5cm nya mempercantik kakinya. Tidak butuh heels yang tinggi karena posturnya sudah cukup tinggi.


Chelsea memutuskan mengendarai humvee kesayangannya. Dan Harvey tidak bisa protes sedikitpun.


Tiba di area parkir sekolah, kedatangannya sangat mencolok diantara jajaran mobil mewah yang terparkir apik di lahan parkir sekolah elit yang cukup luas itu. Chelsea sedikitpun tak bergeming dengan kemunculannya. Toh mobilnya tak bisa ditemukan di dealer manapun.


Selesai pembagian raport. Seperti biasa, Harvey selalu mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya. Dia bahkan lagi lagi menyandang juara umum. Namun itu tak membuat Chelsea sombong. Dia yakin anaknya sangat bersusah payah dalam mengimbangi pelajaran yang jauh lebih tinggi dari usianya.


"Anak mami... ko buru buru pulang? mo nyusu ya.. ahahahaha....." beberapa anak yang termasuk kumpulan anak badung berteriak dari arah kejauhan.


Chelsea berhenti dan melirik ke arah mereka. Dia mendekati mereka dengan elegan. Kaca mata hitam bertengger di wajahnya.


"Tante, anaknya mending suruh bobok siang aja" masih mengejek sambil terkikik. Harvey membujuk momynya agar tak meladeni mereka.


"Iya tante, tuh bayi nya ngerengek minta dikelonin... hahahahahaha....."


😤😤😤😤😤😤😤😤😤


PUAS TUH 3 BAB 3000 KATA


LUNAS UTANG BAB KEMARIN YANG GA KE UP.


UDAH YA JAN MERAJOOK


OTAK OTHOR DAH NGEBUL🤯

__ADS_1


__ADS_2