
Dennis berbalik arah menuju kantornya. Dia memang berniat untuk bertemu dengan Chelsea, dan mobil itu memang sudah lama tak dia pakai, jadi sedikit bermasalah pada mesinnya. Dia bahkan kewalahan saat mengendarainya menuju bengkel Chelsea.
Bodoh, dia memang bodoh. Berharap memiliki matahari sendiri, namun malah membakarnya.
Siang itu adalah jadwal meeting antara perusahaan Brian dan Dennis, yaitu penanda tanganan kontrak merger. Alexa sudah siap di ruang meeting, dia yang memutuskan kantor sebagai tempat meeting. Jika ingin makan, maka pihak kantor akan menyediakan. Semua itu dia lakukan untuk menghindari pencampuran antara masalah pribadi dan bisnis. Berapa dia lelah menghadapi pria hidung belang yang duduk di kursi kebesaran, mengajaknya untuk *** after lunch saat meeting di luar. Alexa pikir, mau itu di perusahaan dadynya sendiri, atau di perusahaan lain, hal hal seperti itu pasti akan ia temui.
Pihak perusahaan Dennis sudah datang, itu yang di beritakan oleh sekertarisnya. Alexa berdiri dari duduknya hendak menyambutnya. Namun dia cukup terkejut, karena yang datang bukanlah Dennis, melainkan wakilnya.
"Selamat siang, nona Alexa. Maaf, pak Dennis memberikan kuasa pada saya selaku wakilnya untuk penanda tanganan ini. Beliau tidak bisa hadir dikarenakan ada hal serius yang harus beliau tangani. Saya harap itu tak menjadi masalah. Atau kita bisa memundurkan schedule nya"
"Oh begitu ya. Maaf dengan bapak siapa?"
"Oh ya maaf. Perkenalkan, nama saya Anton Suryamal. Panggil saja Anton"
"Baiklah Pak Anton, saya rasa di wakilkan sudah cukup. Baiklah, ada beberapa hal yang harus disepakati" Alexa memberikan kertas berisikan surat kuasa yang di sahkan oleh notaris, kepada sekertarisnya, untuk di cek keasliannya, lalu dibuat salinannya. Dia menjelaskan panjang lebar tentang kesepakatan yang diminta perusahaannya, dan mencermati permintaan perusahaan Dennis. Hingga akhirnya kesepakatan itu deal.
"O ya, Pak Anton. Jika saya boleh tau, apa ada hal serius terjadi pada Pak Dennis?" tanya nya di sela-sela minum teh.
"Beliau harus berangkat ke negara S. Dan rencananya beliau akan memegang cabang perusahaan di negara itu. Dan posisinya di sini saya yang menggantikan. Sambil menunggu serah terima jabatan, beliau tidak ingin menunda penandatanganan kontrak ini. Oleh karena itu, beliau membuat surat kuasa" Alexa manggut manggut.
"Baiklah nona Alexa. Saya tidak bisa berlama lama. Terimakasih teh nya. Dan semoga kerjasama ini bisa lebih saling menguntungkan"
Sambil membereskan dokumen, Alexa bingung dengan sikap Dennis. Bukankah kemarin dia yang tak sabar ingin segera bertemu? katanya ada hal yang harus dia sampaikan.
"Orang aneh. Katanya penting. Malahan dia yang ga dateng"
tring
tring
"Yes, mom"
"............"
__ADS_1
"Today?"
"............"
"Kenapa ga bilang dari pagi? Lexa otewe"
"............"
"Ga ada yang lebih penting dari dady, titik. Pokoknya Lexa mo ikut jemput"
"..........."
" uuuutututuuu momy cayang merajoook. Iya, momy lebih utama. Puas? bye, see you mom. Yes... dady's coming home"
"Dewi, jadwal meeting hari ini pindahkan besok ya" Alexa segera membereskan berkas dan berlari keluar ruangan menuju basement. Rencananya dia akan menjemput momynya dulu. Tadi momynya bilang kalau dia sedang tidak enak badan, tapi ingin menjemput Brian.
Mereka tiba di bandara. Chelsea merasa kesal sebelumnya karena Brian tiba tiba memberi kabar jika dia kemarin bertolak ke negara S. Rencana yang sudah dia buat untuk memberi kejutan pada suaminya harus tertunda.
Brian yang baru keluar dari pintu Kedatangan langsung diserbu oleh kedua wanita kesayangannya. Terlihat Chelsea dan Alexa saling berebut untuk mendominasi Brian. Semua keakraban itu tak luput dari pantauan Dennis yang sedang menunggu jadwal penerbangan.
"Momy.... Lexa juga kangen dady.. iiih... gantian dong mom.." Alexa menghentak hentakkan heelsnya dengan bibir mengerucut. Dengan berat hati Chelsea melepas pelukannya dan membiarkan Alexa melepas rindu pada sang ayah. Saat Alexa hendak mengecup bibir Brian, Chelsea mendehem keras sembari melipat kedua tangannya di dada. Akhirnya Alexa mencium pipi Brian yang kemudian kembali didominasi oleh Chelsea.
Semua itu tak pernah luput dari pantauan Dennis. Betapa menggelikan melihat seorang Alexa yang kaku, arogan, tegas. Ternyata dihadapan orang tuanya dia hanya anak kecil.
Dia kembali menyesali rencananya. Meski belum terlaksana, namun sempat terlintas dalam benaknya untuk merebut kebahagian itu. Dia lantas bangkit dan berjalan menuju pintu keberangkatan, karena sudah masuk jadwal pesawatnya berangkat.
"Pak Dennis!" seruan Alexa menghentikan langkahnya.
"Alexa? sedang apa disini?" tanya Dennis berpura pura.
"Ya ampun, pak Dennis ga usah pura pura. Orang dari tadi bapak ngeliatin kita. Oiya, katanya bapak mau pindah ke negara S ya?"
Dennis menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal."Eh, iya. Tawaran disana lebih menarik. Dan saya juga berniat menetap disana"
__ADS_1
"Waaah sebentar lagi nyebar undangan dong. Selamat ya pak. Saya harap bapak dan keluarga bahagia dan sehat selalu" Alexa menjulurkan tangannya, mengajaknya salaman. Dennis menyambutnya, ingin memeluknya, namun dia menahan diri.
"Terimakasih" Dennis pun segera berlalu. Sekilas dia melirik pada Chelsea, yang ternyata sedang menatapnya datar. Dia membalasnya dengan senyuman, sambil melambaikan tangan. Bibirnya mengucapkan kata "Selamat tinggal cintaku" setetes air keluar tanpa permisi. Ini adalah pertemuan terakhirnya.
Chelsea melihat isyarat bibir itu. Sedikit menyesakkan memang. Kehilangan teman bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Namun keluarganya lebih penting.
Mereka akhirnya tiba di rumah. Alexa harus kembali ke perusahaan karena ada hal penting yang harus dia urus. Chelsea tak masalah, dia bisa langsung menggiring Brian pada jerat cintanya.
Brian pun sama sama merindukan istrinya. Dia tak menunda waktu. Saat itu langsung menggempurnya.
Harvey pulang sekolah lebih awal. Ujian hari ini dia selesaikan lebih cepat dari hari kemarin. Dia mendapat kabar jika dady nya pulang hari ini.
"Pasti dady sudah sampai. Aku mau nagih oleh oleh ah. Awas aja kalo sampe lupa, biar dihukum sama momy" senyumnya mengembang kala membayangkan dadynya lemas dihukum sang momy.
"DAAAD...." Harvey memanggil Brian saat memasuki rumah. Tak lupa dia melepaskan sepatu di area khusus. Jika dia lupa, maka momy pasti mengomel.
"Dady mana mbok?" tanyanya sambil menyeruput jus yang disodorkan art. "Engg.. anu, tuan besar ada di kamar, sama nyonya besar"
"oke. makasih mbok" Harvey lantas melangkahkan kaki ke lantai 2. Hendak menagih janji sang dady.
"ahhh.... sayang.... pelan pelan..." suara dady nya. Apa dady sudah dihukum momy?
"Ga bisa berenti bear.... nanggung... bentar laaahhh...." Chelsea terkapar di dada bidang Brian. "sayang... aku belum selesai... terusin sayang....aahhhhh......" Chelsea melanjutkan hingga Brian selesai, dan ambruk bersama.
Hal itu terekam dalam ponsel Harvey yang menutup mulutnya.
NAHH... PADA MINTA LANJUT KAAAAN?
KIRA KIRA APA YANG BAKAL TERJADI SELANJUTNYA?
PANTENGIN TEROOOOS
KENCENGIN JEMPOLNYAAAAA😆
__ADS_1