
Brian bangun lebih awal. Dia mengecup lembut kepala istrinya yang berbantalkan lengannya. Dia merindukan saat seperti ini. Membuka mata setiap pagi dengan istri cantiknya yang ia lihat pertama kali.
Dia angkat perlahan kepala Chelsea dan menarik lengannya, menggantinya dengan bantal.
Brian kembali mengecup dalam kepala istrinya lalu bangkit dan membersihkan diri di kamar mandi.
Brian turun ke lantai dasar, di dapatinya resort sudah kembali bersih dan rapi. Para tamu bayaran ternyata memerankan perannya dengan baik. Mereka cukup tau diri untuk membubarkan diri setelah Brian dan Chelsea menyelesaikan prahara rumah tangganya. Ingatkan dia untuk memberi pelajaran pada Maxwel yang berani menyentuh dan menggoda istrinya. Entah itu hanya sandiwara apalagi jika memang aksi spontannya. Tak dipungkiri siapapun akan terpesona oleh kehadiran Chelsea. Usia matangnya tak menyurutkan pesona cantiknya. Dan pesonanya tak hanya menghipnotis yang seusianya. Tak jarang para brondong melirik dan tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.
Brian membuat sarapan untuk mereka berdua. Sudah lama dia tak menyentuh dapur semenjak Chelsea hadir di hidupnya dan Alexa.
Aroma rosemary yang menjadi topping omelete ala Brian menguar menggelitik indera penciuman Chelsea yang masih nyaman bergelung dalam selimut. Perutnya bereaksi kala aroma lezat menggugah selera itu memaksanya membuka mata belo nya.
Chelsea menggulung sprei putih, membalutkannya pada tubuh polosnya.
Langkah kakinya membimbing ke luar kamar, menuruni tangga.
"Bear... kamu bikin apa? kenapa gak bangunin?" tanya Chelsea masih setia menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan, tak mau menginjak sprei yang menjuntai dan membuatnya terjatuh.
Brian yang dikejutkan dengan suara lembut sang istri menoleh dan terpaku dengan tampilan Chelsea yang kelewat seksi dimatanya.
Tubuh polos yang dibalut sprei putih dengan sedikit juntaian sprei yang terseret tubuh seksinya, dengan rambut panjang yang sedikit acak acakan, juga bibir tebal hasil karyanya semalam karena tak hentinya *****4* bibir seksinya, membuat Chelsea tampak seperti bidadari yang turun dari kayangan.
Dengan sigap Brian berlari menghampiri Chelsea yang terlihat kesulitan berjalan karena ulah sprei yang melilit tubuh Chelsea, lalu menggendongnya menuju meja makan.
Brian enggan menurunkan Chelsea. Dia malah duduk dan memangku bidadarinya.
"Bear.. aku bisa duduk sendiri" pinta Chelsea dengan suara serak khas bangun tidur.
Brian langsung menendang kursi tinggi yang berada di sebelahnya hingga terjungkal.
"Duduk dimana? kursinya aja gak mau didudukin" jawab enteng Brian sambil menyendok omelete yang masih panas, meniupnya sedikit lalu menyuapkannya pada Chelsea.
"Aku bisa makan sendiri" Chelsea kembali memberi alasan.
Brian meraih tangan Chelsea yang hendak mengambil alih sendok, lalu merangkulkan di lehernya.
"Kamu harus pegangan, sayang. Nanti jatuh"
Chelsea tersenyum lalu membuka mulutnya. Kaki nya ia goyang goyangkan seperti anak kecil kala mendapat suapan dan mencicipi rasa gurih yang pas dari omelete. Ada parutan keju juga di dalamnya. Dia menikmati momen dimanjakan sang suami.
Saat ada keju yang menempel pada ujung bibirnya, Brian membersihkan dengan cara melum4tnya.
"Ekhem.... kalian benar benar tak terpisahkan" sela Maxwel yang baru keluar dari kamar tamu.
__ADS_1
"Kau belum pulang?" tanya ketus Brian mengingat perilakunya menggoda Chelsea. Meski itu hanya akting namun Brian tetap tak bisa menerima kala ada orang lain yang menyentuh Chelsea meski hanya sehelai rambutnya saja.
"Aku ingin menyapa sepupu iparku. Halo, aku Maxwel" Maxwel menyodorkan tangan kanannya. Namun tak digubris Chelsea yang masih betah melingkarkan tangannya di leher Brian. Dia hanya meliriknya sekilas lalu tersenyum sinis dan kembali membuka mulutnya minta suapan berikutnya.
Tangan yang menggantung di udara itu ia tarik kembali dengan canggung.
"Jangan mencoba apapun pada istriku. Atau kau akan berurusan dengan kunci inggris. Tapi sebelumnya, aku ingin membuat perhitungan denganmu karena berani menyentuh istriku dengan tangan kotormu. Perjanjian kita tidak seperti itu bukan?"
"Ayolah, bro. Bukankah dibutuhkan akting yang meyakinkan? Kau seharusnya berterima kasih padaku. Bagai mana jika makan malam antara aku dan sepupu iparku yang cantik ini?"
"Apa adikmu itu kurang mendapat pelajaran?" tanya sinis Chelsea.
Maxwel reflek menutupi bagian sensitifnya mengingat penderitaannya semalam.
"Bear, tak bisakah kau memecatnya dari silsilah keluargamu? aku tak bisa memberinya pelajaran karena dia saudara sepupumu"
"Tenang saja, sayang. Aku pastikan setelah hari ini dia tidak akan terlihat disekitar kita lagi"
Brian lantas mengutak atik ponselnya lalu menyimpannya kembali sembari tersenyum manis dan menyuapkan kembali omelete pada Chelsea lalu pada dirinya sendiri.
"Mana sarapanku?" tanya Maxwel kemudian memecah keheningan dan kecanggungan. Dia benar benar tidak dianggap.
"Apa kau istriku? kenapa aku harus melayanimu?" Brian enggan melepas pandangan dan perhatian dari istrinya.
"Lalu?"
"Tak bisakah salah satu dari kalian membuatkannya untukku?"
Brian dan Chelsea sontak memelototinya .
"Kau berani memerintah istriku untuk melayanimu? siapa yang menyuruhmu untuk tinggal?" aura Brian terasa seolah ingin menelannya hidup hidup.
"Eh.. aku hanya bercanda. Kalau begitu.. Aku pergi" Maxwel segera menyeret kakinya keluar dari resort. Niat hati ingin mengenal sepupu iparnya lebih jauh malah kelaparan.
Brian memang memerintahkan semua orang yang dia bayar untuk mengadakan pesta pura pura untuk segera keluar dari resort saat Brian dan Chelsea sudah berbaikan.
Namun Maxwel yang memang tertarik akan sosok Chelsea setelah melihatnya merasa penasaran dan mencoba peruntungannya. Sedikit improvisasi tak masalah bukan? batinnya. Namun pasangan itu memang tak tergoyahkan.
Benar kata rumor di keluarga besar mereka.
tring
Sebuah pesan e-mail masuk ke ponsel Maxwel.
__ADS_1
"Sialan. Dia benar benar melakukannya.
Kenapa harus ke Afrika Selatan?" Maxwel merengek dalam kesendiriannya.
"Bear.."
"Hmm?"
"Apa kau tau?"
"Aku tau"
"Apa yang kau tau?
"Kamu sangat mencintaiku"
Chelsea tertegun.
"Itu benar. Dan kamu adalah cinta pertama dan terakhirku"
Kini ungkapan Chelsea yang membuat Brian tertegun.
Dia merasa bersalah karena telah berpikiran buruk tentangnya dan Dennis. Brian memeluknya erat.
"Maaf. Karena aku pernah menuduhmu dan menyakiti hatimu. Meski kamu bukan yang pertama, tapi kamu juga yang terakhir untukku" Mereka kembali berpelukan dan menyalurkan rasa cinta yang tak akan pernah habis.
Sejak saat itu Brian tak pernah meninggalkan Chelsea untuk urusan apapun. Meski urusan dinas sekalipun, Chelsea diharuskan ikut tanpa harus Chelsea yang meminta.
Dan Shelly sang anak bungsu mereka tak mau dipisahkan dari Axel. Tak peduli mereka tinggal bersama siapa, asalkan terus bersama. Bahkan saat mereka dewasa pun mereka dianggap anak kembar. Dan saat Shelly menikahpun yang menangis haru adalah Axel. Bahkan saat pasangan Shelly mengucap ijab kabul pun sempat terganggu konsentrasinya karena raungan Axel.
TAMAT
Sampai disini kisah Brian dan Chelsea ya beibz. Maaf kalo author tidak bisa memberikan season 2 yang sesuai ekspektasi. Karena "Montir Jandaku" sudah harus 'End'.
Season 2 ini sebenarnya tambahan ya beibz, author hanya ingin menceritakan akhir kisah Dennis yang selalu mengganjal di pikiran author. Tapi gak bisa dibikin panjang karena karakter Chelsea yang tak tergoyahkan dan gak mau ceritanya jadi bosenin karena konfliknya yang terus muncul dengan orang yang berbeda.
Author bukan tipe yang suka berkonflik lama dengan satu orang.
Baca juga karya ku yang lain ya. Mohon dukungannya terus.
Terimakasih yang sudah menemani Brian dan Chelsea sampai akhir. Dukungan kalian sangat berarti buatku.
Love you all 😘😘😘
__ADS_1