
Tiga hari berlalu, Chelsea sudah diperbolehkan pulang. Sebenarnya dari kemarin kondisinya sudah stabil, namun dokter menyarankan agar ia tinggal 1 malam lagi untuk observasi dan dia tak punya pilihan lain karena dia kalah suara. Hadeeeh ga habis pikir sama kekompakan anak sama ayah ini.
Akhirnya Chelsea menurut tapi dengan syarat.
"Sayaaang kupasin apel"
"Sayaaang beliin bubur ayam mang Toha, inget sambel sama kerupuknya yang banyak. E eh yang komplit ya"
"Sayaaaang ambilin minum, yang dingin"
"Saaayaaaaaang..... eh ga jadi, sendiri aja"
"Mau pipis?" Brian menyeringai tipis, ia langsung membopong wanita manja nya didepan tubuhnya ala bridal style, diiringi pekikan Chelsea yang langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Brian karena terkejut dengan gerakan cepat dan tiba tiba tanpa sempat ia menolak. Tersadar akan sihir lelakinya, ia menendang nendang udara minta diturunkan.
"Bray apaan sih turunin bisa ga? aku bisa jalan sendiri iiih, tur- emmph"
Brian langsung membungkamnya dengan ciuman sambil berjalan ke arah kamar mandi. Ia melepas pagutan di depan pintu kamar mandi. Ia senang dengan sikap manja wanitanya ini, ia senang jika menjadi tempatnya bergantung. Brian menurunkan Chelsea di ambang pintu kamar mandi, memandangi wajahnya yang merona.
"Mau ku bukakan celananya? -aisshh.... pedes yang" Brian mengusap usap kasar pinggangnya yang kena cubitan maut Chelsea.
brakk..
Chelsea membanting pintu kamar mandi tanpa peduli kepala Brian yang hampir kena bantingan pintu.
"Badass... tapi aku suka. Sayaaaang... mau aku cebokin ga?"
brak
Chelsea memukul pintu dari dalam dan Brian terkekeh dibuatnya.
Sementara pasangan sejoli itu saling melempar candaan, Alexa berubah jadi wanita dingin di sekolahnya. Pasalnya dia terbawa suasana emosi mengingat perlakuan mantan idolanya itu pada ibu masa depannya. Sampai sampai teman bakso satu mangkoknya dibuat keheranan. Alexa yang biasa pesan bakso 1 porsi jumbo, namun dimakan berdua dengan Weli teman satu ekskulnya. Gimana ga heran, kini bakso porsi jumbo itu ia makan sampai habis sendirian, tanpa mengajaknya ke kantin, bahkan menawarinya. Lexa melangkahkan kakinya keluar dari kantin, dengan tatapan yang tak biasa. Siapapun yang berpapasan dengannya akan merasakan aura dingin mencekam. Entahlah, mungkin aura sang Wonder Woman menular padanya. Dia sibuk dengan pemikirannya sendiri, hingga guru sejarah pun ikut merasakan aura dinginnya kala menyadari tatapan kosong Alexa, dan mencoba mengembalikan kesadarannya dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Alexa, coba kamu terangkan secara singkat tentang Sejarah Ekonomi Islam di Indonesia" tanya Bu Eli si ahli sejarah.
"Itu udah jadi masa lalu bu, ga usah dibahas" jawab Alexa benar benar singkat, membuat sang ahli tak percaya dengan jawaban ngasal yang terlontar dari bibir tipis nan seksi gadis ini. Teman teman sekelas pun tergelak dengan jawaban luar biasa Lexa, secara Lexa adalah salah satu murid paling cerdas di sekolahan ini.
"Kamu, maju kedepan. Berdiri sampai pelajaran ibu habis" tanpa bantahan Alexa berdiri hingga kursi yang ia duduki terdorong kebelakang dan hampir terjungkal.
Ia mantap berdiri di depan dengan kedua tangan ia pautkan di belakang tubuhnya. Seisi kelas merasakan perubahan besar pada dirinya. Apalagi saat ada yang tak sadar memperhatikannya tak berkedip, Lexa membalas nya dengan tatapan tajam. Ia tatap satu persatu orang yang berani menatapnya, membuat mereka menundukkan pandangan mereka.
Yampon neng, galak amat ><
teng
teng
teng
Bel sekolah tanda pulang berbunyi, Alexa bergegas membereskan buku dan peralatan sekolah ke dalam tas nya, Dia tak sabar ingin segera menemui sang momy di rumah sakit, tapi rencananya ia akan mampir dulu ke toko kue tart kesukaannya. Dia ingin berbagi kesukaan dengan momy nya.
Tangannya di cekal seseorang di belakang tubuhnya. Sontak Alexa berbalik dan matanya membola saat melihat siapa yang berani menahan langkahnya.
"Apaan sih, lepas" Lexa menghentak kasar cekalan yang berhasil lepas itu.
"Lexa, tunggu... aku.. aku minta maaf soal calon ibumu. Tolong bilang sama dady mu biar mencabut gugatannya dan ngebebasin aku dari tahanan kota." mohon Andrew pada Lexa. "Aku... aku ada undangan party di puncak besok, kalo gini kondisinya aku kan jadi ga bisa dateng Lex, please"
Alexa mengeraskan rahangnya, tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut busuknya. Dia pikir dia memohon karena tobat, ternyata ada iga dibalik bakso.
"You know, what? I DON'T CARE" Lexa langsung melesat berjalan ke arah toko kue langganannya yang letaknya tak jauh dari sekolahannya. Tapi Andrew dengan tidak tahu malunya tetap mengekori Lexa, sambil komat kamit memberikan janji janji palsunya, namun Lexa segera menyumpal telinganya dengan head set.
Lexa tak peduli jika dibuntuti Andrew. Dia tetap pada rencana awalnya membawakan momy nya kue kesukaannya. Sampailah dia di depan toko kue langganannya. Ia melangkah masuk melewati pintu kaca ber dering, karena ada bel di atas pintu kaca itu. Sehingga siapapun yang membukanya maka akan membunyikan bel itu.
tring
__ADS_1
tring
Lexa perlahan menyusuri etalase kue setinggi 1 meter itu hingga ia diharuskan menunduk.
"Ketemu" dengan binar bahagia dia menunjuk dan memesan kue tart rasa Red Velvet yang tinggal 1 potong lagi.
"Aku mau itu"
"Aku minta yang itu, mba"
Ucapannya bersamaan dengan seorang wanita bule berusia 30 an. Sang wanita pun terkejut dengan permintaan sama gadis muda di depannya. Namun dia tertegun melihat iris mata gadis didepannya ini. Hijau. Warna yang sama dengan iris matanya. Hidung dan bibirnya mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya.
"Maaf tapi aku duluan yang tunjuk. Mba langsung bungkus seperti biasa" tegas Alexa tak mau dibantah, biasanya dia akan mengalah pada seseorang yang usianya diatasnya. Tapi tidak hari ini.
Sang wanita menganggukkan kepalanya pelan memberi persetujuan pada pegawai itu.
"Mama, ngapain Mama kesini bawa benalu itu?" Andrew tiba tiba berbicara lancang pada wanita yang adalah ternyata mama nya.
'Mama?' batin Lexa.
Dia ingin segera pergi namun masih berkutat dengan pembayaran yang tiba tiba error pada mesin kasirnya.
"Kamu ga boleh gitu dong sayang sama pacar mama, siapa tau dia jadi papa sambung kamu" ucap wanita bule itu santai.
"Ogah punya papa sambung benalu kek gitu. Lagian mama gimana sih, kerjaannya gonta ganti pacar mulu"
"Heh.. ternyata turunan player" ucap Alexa lirih sambil menyunggingkan senyum sinis dan didengar oleh Andrew.
"O iya mah, kenalin. Ini pacar baru Andrew, Alexa" ucapannya spontan membuat Alexa melotot padanya.
"NAJIS GUE PUNYA COWOK PENJAHAT KELAMIN KEK ELU" Lexa segera mendorong dada Andrew dengan kuat agar memberinya jalan tanpa bisa Andrew tahan kepergiannya.
__ADS_1
"Alexa?" wanita itu terpikir akan sesuatu.