
Malam itu di lain tempat di waktu yang sama, Chelsea yang sedang tiduran memeluk Alexa yang sudah terlelap, tak bisa memejamkan matanya. Begitu juga dengan Brian. Mereka masih memutar balik bayangan saat perpisahan mereka di rumah Chelsea.
flash back on
"Benar kamu ga keberatan Lexa menginap disini?"
"Ga papa, seneng juga jadi ada temennya"
"Asal kamu tau, kita ga pernah pisah"
Ucapan Brian terdengar sendu. 'apa dia minta ditawari menginap juga? hmm' batin Chelsea menebak.
"Anggap aja latihan, udah sana pulang, nanti kalo dia nikah juga kamu bakal ditinggal, jangan lebay deh" Chelsea memutar pundak Brian dan mendorongnya menuju mobilnya.
Didepan mobil, Brian tak langsung masuk, ia berbalik dan meraih kedua tangan Chelsea, menggenggamnya, mengusap punggung tangannya dengan jempolnya, namun kepalanya tertunduk.
"Maaf...." kata pertama yang sanggup ia ucapkan kala otaknya masih merangkai kata kata.
"untuk?"
__ADS_1
"Lexa, maaf jika keinginannya membebanimu, aku sendiri ga ngerti dengan keinginan anak itu. Itu sesuatu yang... baru"
"Aku jg minta maaf kalo belum bisa mewujudkan keinginannya, aku menyukainya, seperti punya adik yang tak pernah kumiliki, hari hariku lebih berwarna. Tapi.... untuk menjadi ibunya.."
"sshhh..... ga usah dipikirin dulu, pelan pelan aja, aku tau kamu butuh waktu untuk meyakinkan dirimu, meyakinkan perasaanmu padaku, aku tau kamu ga mau kita bersama karena orang lain, tapi karena perasaanmu yang murni, iya kan? Aku tau, karena aku juga begitu, aku ga mau karena terjebak, atau terpaksa, aku memintamu untuk menerimaku. Boleh aku meminta sesuatu?"
Chelsea menatapnya lekat, lalu menganggukkan kepala.
"Katakanlah apa yang ingin kau katakan, jangan menyimpannya sendiri, marahlah jika kau ingin marah, luapkan semua padaku, jangan pada orang lain."
deg
Brian melihat kebingungan di mata Chelsea.
"Teman mu itu... aku tak suka kau dekat atau akrab dengannya, entahlah.. anggap aku cemburu, tapi itu benar adanya."
"ppft... kamu cemburu sama komar?" Chelsea tergelak mendengar pernyataan Brian.
Wait. pernyataan?
__ADS_1
Chelsea berhenti tertawa saat menyadari sesuatu, karena Brian hanya terdiam saat ditertawakan, wajahnya memerah, tapi terlihat sedikit kesal.
"Kamuu... lagi nembak?" tanyanya kemudian.
"ck, dasar cewe ga peka" sungut Brian menundukkan kepalanya kecewa.
"ya ampuun, ternyata kamu bisa kiyut juga ya" tawa Chelsea sembari menangkup pipi Brian hingga bibir nya terlihat manyun. Chelsea menghentikan gerakannya di pipi kiri dan kanan Brian, namun tetap membuat bibir itu terlihat manyun.
cup
Seketika Chelsea mengecup bibir manyun itu. Brian sontak membolakan matanya. Sedetik kemudian, Chelsea kembali menciumnya, bukan sekilas, namun dalam, Brian membalasnya, ia tak menyangka Chelsea akan inisiatif mengambil langkah lebih dulu, saat dia sedang membuat rencana bagaimana untuk memulainya. Hal yang ingin ia lakukan beberapa hari ini. Brian mengambil alih, ia membalikan posisi Chelsea yang bersandar pada mobil, lalu mendominasi aksi itu. Keduanya hanyut dalam perasaan yang membuncah, seolah ingin memuaskan dahaga.
Nan jauh di sana, sepasang mata yang memperhatikan mereka langsung berbalik dan melangkah masuk ke rumah dengan cepat, wajahnya memerah.
"My god, gue belum cukup umur"
Entah siapa yang duluan berhenti, keduanya terengah engah, meraup oksigen sebanyak banyaknya. Mereka menyatukan kening mereka, sadar diri jika tak mereka hentikan, sudah pasti berakhir di ranjang.
"Menikahlah denganku"
__ADS_1