
Chelsea melajukan Rubicon nya sambil bersenandung mengikuti lagu yang ia stel.
Oh, no
See you walkin' 'round like it's a funeral
Not so serious, girl, why those feet cold?
We just gettin' started, don't you tiptoe, tiptoe (ah)
Waste time with a masterpiece, don't waste time with a masterpiece (huh)
You should be rollin' with me, you should be rollin' with me (ah-ah-ah)
You're a real-life fantasy, you're a real-life fantasy (huh)
But you're movin' so carefully, let's start livin' dangerously
Talk to me, baby
I'm goin' blind from this sweet-sweet cravin', whoa-oh
Let's lose our minds and go fuckin' crazy
I-I-I-I-I-I keep on hopin' we'll eat cake by the ocean (uh)
Walk for me, baby
I'll be Diddy, you'll be Naomi, whoa-oh
Let's lose our minds and go fuckin' crazy
I-I-I-I-I-I keep on hopin' we'll eat cake by the ocean (uh)
(Cake by The Ocean - DNCE)
Bahkan saat di persimpangan jalan, lampu merah menghentikan laju mobilnya, namun tidak dengan mulut dan tubuhnya yang tak bisa berhenti bergoyang mengikuti alunan lagu.
Biasanya Alexa akan menemani kegilaannya. Dia hendak kembali ke bengkelnya karena mama memberitahukan jika si bungsu merengek ingin ke bengkel. Untungnya bagian belakang bengkel itu telah dibangun ruangan pribadi, dimana segala fasilitas bak apartemen sederhana disediakan.
Saat berhenti di persimpangan, seseorang disebelah mobilnya memperhatikan aktifitasnya. Dia bahkan membuka jendela untuk memperjelas penglihatannya.
"Dia..." senyum bahagia tersungging di bibirnya, tak percaya bertemu dengan teman lama.
"Pak, ikuti mobil di sebelah" titahnya pada sang sopir tanpa mengalihkan perhatiannya pada pergerakkan manusia yang berada di mobil sebelah.
"Masih sama. Kamu ga berubah. Bahkan setelah bertahun tahun" gumamnya dengan tatapan mata yang berpendar.
Lampu lalu lintas berubah hijau, Rubicon itu melaju santai, tiba tiba terlihat mobilnya sedikit oleng, membuat orang yang melihatnya ikut terkejut. Untunglah Chelsea bisa mengendalikan jeep itu hingga berhenti tepat di bahu jalan. Untung saja jalanan lengang.
__ADS_1
"Berhenti pak" perintahnya. Mereka berhenti cukup jauh agar tidak dicurigai membuntuti.
Dia memperhatikan penampilan wanita yang turun dari jeep itu.
"Ppppfft.... rok mini? stiletto?" kekeh nya tak percaya.
"Seperti bukan kamu Chels"
Diperhatikannya Chelsea tanpa kesulitan menurunkan ban berat itu, dan dengan mahirnya membuka baut itu satu per satu. Hanya kostumnya yang membuatnya kesulitan. Dilihatnya si wanita juga merasa kesal dengan apa yang dikenakannya.
Terlihat dia kembali masuk ke dalam mobil lalu melakukan sesuatu. Kemudian keluar dengan kostum bagian bawah yang sudah dia ganti dengan celana cargo dan sepatu cats.
"Serius dia ganti di mobil? nyesel ga nyamperin" gumamnya. Akhirnya dia memerintahkan supir agar mendekati jeep yang mereka ikuti untuk memberinya bantuan.
"Perlu bantuan, nona? Chelsea? Kamu Chelsea kan?" tanyanya berpura pura.
Chelsea mengernyitkan alisnya, mencoba mengingat wajah itu.
"Dennis? kamu Dennis anak farmasi kan?" wajahnya sumringah dan langsung meninju bahunya.
"awww... kamu ya, masih bar bar kayak dulu" sambil mengusap bahunya.
"Maaf, maaf. Reflek, hehe..."
"Ini mobil bengkel?" tanya nya. Karena setau dia, dulu waktu PKL, Chelsea dan Komar selalu membawa mobil konsumen keluar bengkel untuk dilakukan test.
"Udah sini. Mumpung ada gue. Kapan lagi gue bantuin elo. Dari dulu elo tuh paling anti ditolongin. Sekali kali jadi cewek lemah kenapa?" gumamnya jelas.
"Cih... udah dari sana nya kali gue tangguh. Gada kata 'Lemah' dalam kamus Chelsea. haha..." tak ada rasa canggung darinya. Dia benar benar tak berubah. Pikir Dennis. Dia ingin mengetahui sesuatu. Namun dia tahan karena mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama. Dia takut jika Chelsea langsung menjauh.
"Bereees..." keringat memenuhi dahinya. Pasalnya dia gugup melakukan apa yang sering Chelsea lakukan.
"hmmm... lumayan"
"hah... lumayan? ga bilang makasih gitu?"
"lah... yang nyuruh siapa bang? haha... iya iyaaa... makasih yaa"
"Ga niat buat ngajak makan gitu? gue pake tenaga gini nguras tenaga tau" tambahnya.
"Lama lama ngelunjak ya, kebiasaan. Nih makan" Chelsea memberi kepalan tangannya di depan wajah Dennis.
"eits.. masih galak aja si eneng"
"wajib dong. Biar ga dimodusin biawak kek elu" Chelsea membereskan peralatan nya.
"Dah ya, gue cabut dulu. Ditungguin anak"
"E eh.. lu dah nikah? tinggal dimana sekarang?" tanya nya. Namun pertanyaan dalam benaknya sudah terjawab. SUDAH MENIKAH.
__ADS_1
"Udah lah, masa mo bulukan?" sambil naik ke Rubicon nya.
"Lah nyindir" ucapnya sendu.
"Dih, seorang Dennis baper. Eh.. apa tadi? Lu belum nikah emang?" Dennis hanya menggeleng.
"Serius? belum nemu yang cocok? nyari yang kek gimana sih? kesian tuh batang dianggurin mulu" wajah Dennis memerah.
"Bisa bisa nya bahas yang kek gitu. Mentang mentang dah laku. Dah punya pelampiasan." gerutunya tapi terdengar jelas. Membuat Chelsea tergelak.
"Ups, sorry. Iya deeeh, ga bahas lagi. Ok gua pergi dulu ya"
"Eh lu kerja di bengkel mana?" teriaknya. Chelsea kemudian menghentikan mobilnya dan memberikan kartu nama bengkelnya, lalu kembali melaju.
"CB AUTO? sayang ya, kamu udah ada yang punya" Dennis pun melanjutkan perjalanannya.
Sepulang jam kerja, Brian diantar Alexa ke bengkel untuk menjemput istri dan anak bungsu mereka.
"Ok, dad. Bye, see you"
cup
Mereka saling mengecup pipi tanda berpisah dari dalam mobil.
Brian keluar dari mobil dan melangkah masuk gerbang bengkel. Dan kehadirannya langsung disambut Chelsea dengan pelukan dan kecupan bibir.
"Apa apaan? Brengsek tu laki" Dennis melihat interaksi mesra mereka dan sewaktu bersama Alexa.
"Liat aja, gue ga bakalan biarin lo terluka Chels" Dennis kembali melajukan mobilnya, mengurungkan niatnya untuk mampir.
"Where's Lexa, Bear?" tanya Chelsea masih merangkulkan lengannya di leher Brian.
"Dia ada meeting dadakan. Tapi tenang saja, klien nya perempuan ko. Mana Junior?"
"Di dalam. Yuk"
Keesokan pagi, seperti biasa keluarga mereka selalu menyempatkan sarapan. Tak ada yang berani membantah jika ibu negara sudah bersabda.
"Honey, hari ini aku pulang terlambat. Aku haru ke perusahaan papa Albert. Mereka mendapat sedikit masalah, dan Elroy tak bisa menanganinya"
"O ya? ya udah, jangan terlalu malem ya. Atau pintu aku kunci" ancamnya.
"Kamu tega?"
"Kamu yang tega, ngebiarin aku nunggu"
cup
"DADYY, UDAH TELAT IH. KECAP KECUP MULU. MATA LEXA TERKONTAMINASI NIH"
__ADS_1