Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#32. Teman Alexa


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju sekolah Alexa, mereka bertiga tak pernah hening, selalu ada yang mereka bahas, dan tangan Chelsea serta Brian tak pernah terlepas dari tautannya, Brian mengemudi dengan mode otomatis, jadi tak perlu repot memindahkan persneleng. Alexa sangat menikmati momen kebersamaan seperti ini. Momen yang telah lama ia dambakan, dari keluarga yang utuh.


"Okay, here we go honey" ucap Brian kala sampai di sekolah kejuruan Alexa.


"See you later momy, dady" Alexa mengecup pipi Chelsea dan Brian bergantian.


"I'll pick you up then" teriak Brian memberitahukan bahwa dia akan menjemputnya sepulang sekolah, dan Alexa melambaikan tangannya.


"Eh tunggu bentar, modul Lexa ketinggalan tuh" tahan Chelsea saat Brian hendak melajukan mobilnya kembali. Ia lantas mengambilnya dan turun dari mobil, hendak mengantarkannya pada Alexa mumpung belum terlalu jauh.


"Tunggu sebentar" pintanya pada Brian.


"Lexa.... Alexa.... Alexa wait...."


Tampak 2 orang beda gender mengalihkan perhatian pada Chelsea. Alexa dan temannya, mungkin? karena mereka terlihat cukup akrab sebagai seorang teman.


"Modulmu ketinggalan" seru Chelsea segera memberikan buku yang tertinggal di mobil sambil terengah engah, karena ia setengah berlari menyusul Alexa.


"My God, ceroboh sekali aku, thank you mom. O ya kenalin ini... ekhem temen Lexa mom" lanjut Alexa memperkenalkan laki laki disebelahnya.

__ADS_1


"Temen?" Chelsea sedikit mengerling menggoda Alexa.


"Halo, saya Andrew, temen Alexa" sapa laki laki itu, namun ada yang berbeda dari caranya menatap Chelsea, dan Chelsea tidak suka.


"Chelsea" jawabnya kemudian singkat.


"Andrew ini kakak kelas Lexa mom, dia yang jadi temen pertamaku waktu Lexa pertama pindah ke sekolah ini." jelasnya sedikit malu malu. Chelsea yakin kalau Alexa menaruh hati padanya, namun tidak dengan laki laki ini.


"Oh..." jawabnya datar.


"Ok, aku langsung pergi ya, ingat belajar yang rajin, bye..."


Chelsea langsung pamit, dan mengecup pipi Alexa, ia tak mau berlama lama berada satu atmosfir dengan laki laki ini. Dia cukup tau tipe dan karakter wajah dan mikro ekspresi seseorang, ia hanya berharap, Alexa belum menjatuhkan hatinya pada laki laki ini terlalu dalam, atau dia akan terluka.


"Mom?" tanya Andrew terheran.


"hmmm... she will be my future momy, isn't she great?" jawabnya berbinar sambil menatap punggung Chelsea yang menjauh.


"Tentu saja dia mengagumkan" sudut bibirnya membentuk seringai yang mempunyai arti yang hanya dia dan Tuhan yang tau.

__ADS_1


Saat berada di mobil, Brian menyadari bahwa sedari tadi Chelsea bersikap aneh, ia terus terdiam seolah memikirkan sesuatu. Lamunannya terinterupsi kala Brian mengusap punggung tangannya.


"Kamu mikirin apa sih dari tadi?" tanyanya seraya meraih sebelah tangan Chelsea dan menempelkannya di bibir Brian.


"emmmm.... kamuu... kenal dengan temen temennya Lexa?" tanyanya langsung, tak mau menduga duga.


"Teman Lexa?"


"hm mm"


"Ga banyak sih temen Lexa setauku, dia ga pernah bawa temen temennya ke rumah, atau main ke salah satu rumah mereka. Hanya... Lexa sering bercerita tentang 1 nama laki laki yang katanya kakak kelas dia"


"Andrew"


"Iya, namanya Andrew, kau tadi bertemu dengannya? apa dia orang baik?"


"Entahlah, hanya saja... kesan pertama cukup membuatku risih dengan tatapannya, dan aku tidak suka itu" mencoba menjelaskan apa yang tadi dia rasakan.


"Sayang, itu hanya perasaanmu saja, aku yakin Lexa bisa memilih teman yang baik" ia lantas menggenggam tangan Chelsea dan menempelkannya di dada bidangnya, sesekali mengecupnya.

__ADS_1


__ADS_2