
"Apa yang laki laki itu berikan untukmu sehingga kamu begitu sombong, hah?"
Chelsea menghentikan langkahnya lalu berbalik dengan senyum sinisnya.
"Aku memberikannya seluruh duniaku, aku bahkan rela memberikannya nyawaku. Lalu apa yang sanggup kamu berikan untuknya?" Brian yang menjawab sambil melipat tangannya di dada dengan kepala sedikit mendongak. Chelsea yang bersiap menjawabnya sedikit terkejut dengan kehadiran Brian yang datang dari arah belakangnya. Dia tidak menyangka dengan jawaban yang dilontarkan suaminya.
"Honey, is he bothering you?" Brian memutuskan menghampiri wanitanya dan merangkul pinggang rampingnya lalu mencium pucuk kepalanya.
"It's ok, I can handle him. Dia bukan apa apa bagiku" jawabnya sambil menatap tajam pada Erik yang gelagapan dengan interaksi keduanya.
"Jadi.. katakan padaku, apa yang sanggup kau berikan padanya?" Brian bertanya kembali.
"Heh.. sudah kuduga.. kau hanya bisa memberikan kesengsaraan baginya"
"Jangan kau pikir dia benar benar mencintaimu, setelah kau bangkrut maka dia akan meninggalkanmu" jawab Erik kemudian karena tak bisa memberikan pernyataan.
"Maksudmu seperti Siska selingkuhanmu yang membuangmu setelah kau tak punya apa apa lagi? oh maaf kau masih punya mobil rongsok itu" sarkas Chelsea yang membungkam mulut Erik.
"Erik, begitu picik pikiran lo. Dengerin gue karena gue ga bakalan ngulang omongan gue. Gue nikahin dia karena hatinya, bukan hartanya. Harta bisa dicari bersama, selama dia punya hati. Elo lupa siapa gue, asal usul gue. Gue bisa bertahan dalam tempaan hidup yang keras, gue bahkan bertahan dalam sangkar yang lo buat. Jadi, materi bukan masalah penting buat gue" Chelsea kembali bersuara dengan bahasa yang jauh dari kata sopan.
"Seto" panggil Brian pada Seto yang juga menikmati drama bersama para customer lain.
"I - iya bos?" jawab Seto tergagap, terkejut dengan panggilan bos nya yang tiba tiba. Padahal dia sedang menikmati pertunjukan bahkan kalau perlu dia akan menyiapkan popcorn.
"Bawa mobil rongsok ini kembali ke tempatnya semula, bengkel istri saya tidak menerima pembuat onar"
"Apa? B-baik bos" Seto masuk ke dalam mobil derek dan langsung menghidupkan mesin.
"Apa? t-tunggu.. mau kau bawa kemana mobil saya?" Erik panik.
"Kembali ke alamnya" jawab dingin Seto.
__ADS_1
"Baik, baiklah. Saya minta maaf kalau telah membuat keributan. Tolong tangani mobil saya, setelah itu saya akan pergi" janjinya karena tak mau kesusahan karena mobilnya.
Chelsea tak mau tau, dia bergegas masuk kedalam kantor dan diikuti suaminya Brian.
Para customer berdecak kagum dengan pertunjukkan drama itu.
Kepala Chelsea berdenyut hebat, tak habis pikir baginya dengan kelakuan random si mantan brengsek itu. Baru kemarin datang ke apartemen Brian dengan mantan istri Brian, sekarang minta balik lagi.
"Hadeuuuh.. maunya apa sih tu orang?" Chelsea memijat pelipisnya. Brian mengambil alih pijatan itu setelah menuntunnya untuk duduk nyaman di sofa kantor.
"Momy.. are you okay?" tanya Alexa. Dia ikut menyaksikan drama pertunjukkan ibu sambungnya yang dibalas senyuman hangat Chelsea.
" Kita makan yuk"
"Nanti malam kita makan lagi" bisik seduktif Brian ditelinga Chelsea.
"Dady.. jangan gangguin momy terus iiih..."
Hal itu terus mengusik pikiran Chelsea. Dia tak mau menuduh atau berprasangka buruk, tapi apa yang tidak boleh dia ketahui? apa dia belum berhak mengetahui rahasia keluarga ini?
Chelsea terus terdiam dengan pemikirannya selama perjalanan hingga sampai mansion, kemudian memutuskan untuk melakukan sedikit olahraga di ruangan khusus gym. Alexa yang menyadari keterdiaman ibu sambungnya membiarkannya, memberinya waktu untuk berfikir. Dia tak mau mempengaruhi sang momy. Dia juga ingin tau seberapa besar rasa percaya momy nya pada dady nya. Meski Lexa gereget ingin berceloteh dia tahan sebisa mungkin.
Selama Chelsea dan Brian berbulan madu, ada hal yang terjadi dan tak mereka ketahui. Mama Carol memutuskan untuk berbicara dulu pada Brian anaknya, berdiskusi dengannya, baru memutuskan untuk memberitahu Chelsea agar tak salah dalam menyampaikan maksud.
flash back on
ting
tong
Bel pintu apartemen berbunyi, kebetulan Alexa dan sang nenek masih berada di apartemen Brian. Lexa menolak tinggal di mansion yang besar seorang diri. Jadilah dia memutuskan tinggal di apartemen sang dady, selain jaraknya ke sekolah lebih dekat dibandingkan dari mansion, Alexa pun lebih bisa mengurus diri jika di apartemen, karena fasilitas apartemen yang menyediakan Mall dan supermarket di lantai dasar. Sang nenek pun memutuskan untuk mememani cucunya selama anaknya, Brian, berbulan madu. Betapa bahagia melihat anak nya akhirnya bisa bahagia menemukan tambatan hati.
__ADS_1
ceklek
Pintu dibuka oleh Carol karena dia sudah tau siapa yang akan datang.
"Masuklah" Carol melongok keluar pintu, melirik ke kanan dan ke kiri lorong.
"Kamu sendirian?" tanyanya pada Betty sahabatnya.
"Iya. Maaf kalo saya mengganggu. BB..."
ucapannya menggantung, tak tahu harus mulai dari mana.
"Dia sudah berangkat tadi habis dari KUA, langsung bulan madu" ucapnya langsung menjelaskan, dia takut sahabatnya ini datang untuk memohon agar menjodohkan anaknya yang baru ketemu itu dengan Brian.
"Oh, syukur lah" Betty menghela tanpa diduga oleh Carol. Dia pikir Betty akan menentang tak suka. Alisnya sedikit naik, tak memgerti dengan tujuan sahabatnya datang sendiri kesini.
Betty menyodorkan amplop putih dengan kop laboratorium.
"Apa ini?"
"Buka lah"
".......bukti menunjukkan bahwa hasil pencocokkan sampel DNA Beatrice Isabella dengan sampel DNA Chelsea adalah 98,9%" Carol seketika menutup mulutnya yang menganga, terkejut sekaligus bersyukur. Betty terisak kecil, air matanya tak bisa ia bendung lagi. Carol langsung membawanya dalam pelukannya. Dia pun sama terharunya dengan sahabatnya. Tangis Betty pecah dipelukan Carol.
"I found her... Finally, I found my little baby..." ucap sendu Betty namun tersirat kebahagiaan.
"My God, Granny is that true?" Alexa tak percaya dengan apa yang tak sengaja ia dengar.
"Yes, dear. It's true. Sini sayang, ini adalah nenekmu juga. Ibu kandungnya momy Chelsea-mu" Carol menangis haru, merengkuh Alexa yang juga ikut terharu.
"Apa maksud kamu Betty? jangan ngaco deh. Aku gak mau mempertaruhkan rumah tangga anakku demi ide konyolmu itu. Aku sudah menduganya saat kau bilang akan datang kesini. Kenapa gak langsung kau bongkar kebohongan anak palsumu itu? kenapa harus melibatkan pernikahan anakku?" ucapan Carol meninggi saat mendengar rencana yang tengah sahabatnya susun untuk membongkar kedok Siska si anak palsu. Mereka melanjutkan sesi konsultasi dan diskusi setelah sesi melow melow-an di ruang tengah.
__ADS_1