Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#82. Tumbang


__ADS_3

"Jangan bertele tele" sentak Brian sambil mengguncang tubuh sang dokter yang mulai terlihat rapuh karena usia.


Mama Carol menenangkan Brian dengan mengusap lengan atas Brian.


"Tenang sayang, lepaskan dia. Biarkan dokter menjelaskan" rayu sang mama sambil terisak. Dia tak mau menduga duga jika menantunya tak selamat.


Brian perlahan melonggarkan cekalannya pada kerah snelli sang dokter."Dia mengalami pendarahan yang cukup parah, kami berhasil mengatasinya. Bahkan stok darah kami tidak kekurangan. Dia sempat menderita gagal jantung, namun dengan upaya maksimal kami dan keinginan kuat pasien, dia berhasil kembali. Namun.. kesadarannya belum kembali. Maaf, kami sudah berusaha maksimal. Tinggal keinginannya yang kuat, dan dukungan dari orang orang terdekat yang mungkin bisa menyadarkannya" cekalan Brian terlepas, dia terhuyung ke belakang, dan jatuh terduduk di kursi stainless pengunjung. Tatapannya kosong.


"Huuuuuuuuuuuu..... momyyy..... sadarlah momyyy...." Lexa menangis pilu kala tersadar dan mendengar berita itu.


"Dokter, kapan kami bisa menjenguk pasien?" tanya mama Carol.


"Kami akan memindahkannya ke ruang ICU. Dan kami sarankan agar tidak menjenguknya bersamaan. Permisi"


"Terimakasih, dok" ucap mereka bersamaan.


brakk


Pintu ruang operasi terbuka. Para perawat mendorong brankar menuju ruang ruang ICU. Menyadarkan Brian dari lamunannya. Serempak mereka mengikuti arah brankar yang membawa kesayangan mereka ke ruangan khusus yang dipenuhi alat alat medis penunjang kehidupan pasien kritis.


Mereka menunggu di luar kamar pasien, menunggu paramedis memindahkannya dari brankar ke ranjang ruangan. Lalu mereka menempelkan dan memasang berbagai kabel dan selang infus pada tubuh lemah itu. Semua aktifitas paramedis bisa mereka saksikan melalui kaca penghubung ruangan depan ICU dan ruangan pasien.


Terlihat paramedis selesai dengan tugasnya, mereka pun keluar dari ruangan pasien, salah satunya menghampiri keluarga pasien.


"Silahkan pihak keluarga agar masuk satu persatu. Dan gunakan pakaian steril yang sudah disediakan. Kami permisi"

__ADS_1


"Baik, terimakasih" ucap mama Carol.


Yang pertama masuk ruangan adalah mami Betty. Dia bersikeras ingin segera memeluk putrinya yang baru berkumpul lagi. Sambil berderai air mata, mami Betty pun masuk. Sedangkan Brian, dia hanya menatap kosong ruangan yang ditempati istrinya melalui kaca penghubung.


Satu per satu masuk ke dalam ruangan, lalu keluar dengan berderai air mata.


Brian masih menatap kosong ruangan yang dihuni istrinya itu.


Mama Carol yang memanggilnya pun tak ia hiraukan. Jiwanya seakan kosong.


Seorang perawat datang menghampiri mereka.


"Keluarga nyonya Chelsea? Bayi nya sudah bisa di jenguk, harap masuk satu per satu. Jangan lupa memakai masker dan pakaian steril" ucap sang perawat yang kemudian beranjak pergi. Brian kemudian melangkah mengikuti sang perawat tanpa sepatah katapun. Masih dengan tatapannya yang kosong.


Tiba di ruang inkubasi khusus bayi, Brian mengenakan pakaian steril dan masker sesuai arahan perawat. Bagai robot tanpa jiwa, dia hanya bergerak tanpa ekspresi.


Terjadi lagi. Pemandangan memilukan itu terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.


Saat baby Lexa yang juga lahir karena keracunan air ketuban, dan berada dalam kotak seperti itu. Kejadian itu terulang, membuatnya terisak dan meneteskan air mata. Bagaimana setelahnya ia ditinggal pergi oleh istri yang saat itu dicintainya, membuatnya trauma. Dia menangis tergugu disamping box bayi yang belum diberi nama itu, sambil memegang tangan mungil dan rapuh melalui lubang khusus.


Lama berada di dalam sana, hingga tertidur sambil menelungkupkan kepalanya yang ditahan sebelah tangannya pada box inkubator.


Mama Carol yang menyaksikan pemandangan tak asing itu tergugu di luar ruangan. Dia memilih tidak jadi masuk karena takut tak bisa menahan diri.


Betty memegang kedua pundak Carol dan menepuknya perlahan, untuk menenangkan dan menghiburnya. Akhirnya Betty yang memutuskan untuk masuk.

__ADS_1


Brian yang tengah tertidur, dibangunkan oleh salah satu perawat. Dia mengingatkan untuk tidak tidur di ruangan itu. Dengan berat hati, akhirnya Brian keluar ruangan dan digantikan dengan mami Betty.


Brian terduduk lemas di kursi stainless di depan ruang inkubasi anak. Menutup wajahnya dengan sebelah lengannya. Bahunya bergetar, terisak dalam diam.


Tak terasa sudah seminggu lamanya Chelsea dalam keadaan yang masih sama. Dan orang orang yang menyayanginya tanpa mengeluh lelah selalu mendampinginya. Alexa sangat berperan dalam mengurus keluarganya. Dia yang bolak balik pulang untuk membawa pakaian kotor dan kembali membawa makanan dan pakaian bersih para orang tua dan dirinya, ditemani Elroy yang selalu mendampinginya dan menguatkannya kala Lexa menangis dalam diam tanpa diketahui oleh para orang tua. Dia ingin menjadi kekuatan bagi orang orang disekelilingnya. Elroy yang mendapati Alexa sedang menangis tergugu di dalam kamarnya hanya bisa merengkuhnya dan menenangkannya.


"Menangislah, bahkan superhero pun butuh sandaran" Elroy menarik kepala Alexa kedalam pelukannya. Alexa pun meluapkan segala kepedihannya dalam pelukan hangat Elroy.


Albert menyewa 3 kamar VVIP di dekat ruang ICU, agar memudahkan mereka dalam berjaga bergantian. Namun 1 ruangan diisi dengan Brian yang juga dirawat dan diinfus karena kekurangan nutrisi.


Semenjak mereka menemani dan menjaga Chelsea bergantian, hanya Brian yang tak mau menjenguk Chelsea. Dia selalu melihatnya dari kaca penghubung, dia tak mampu untuk menghadapi istrinya jika takdir Tuhan memutuskan untuk mengambilnya. Namun dia selalu menemani anak mereka, menumpahkan segala keluh kesah pada tubuh mungil itu, seolah mengerti akan apa yang disampaikan sang ayah, jemarinya mengerat, memberi kekuatan padanya. Alexa tidak tega melihatnya. Tubuh tegap itu kini kurus kering. Makanan apapun tak bisa masuk ke tubuhnya. Beberapa kali mencoba membujuknya untuk menelan makanan yang dia suapkan pada dady nya, selalu kembali keluar. Tubuhnya menolak apapun yang masuk. Sehingga tubuh kokoh nan tegap itu akhirnya tumbang.


Alexa sudah tidak tega melihat kondisi dady nya yang hampir kritis. Dia menumpahkan keluhannya pada sang momy yang masih tenang tertidur.


"Momy... please wake up, mom. Hari ini... dady dirawat. Dia ga bisa makan, mom. Bangunlah... marahlah pada dady... seperti momy selalu marah padaku kalo aku ga makan. Lexa.... lexa ga sanggup lagi mom.... hik... Lexa... Lexa takut sendirian...." lama dia tersedu, sampai akhirnya dia berteriak. Berharap sang momy mendengarnya dan memeluknya.


"Momy....bangun.... MOMY BANGUUN HAAAAAAAA........ BANGUN MOMY, MOMY UDAH JANJI GA AKAN TINGGALIN LEXAA HAAAAAA..... LEXA GA SANGGUP KALO GA ADA MOMY.... PLEASE BANGUN MOOOOOM....." teriakan itu membuat mesin penopang hidup Chelsea mengeluarkan bunyi dengan tempo cepat, membuatnya panik.


Tanpa ia duga, Brian terhuyung masuk ke ruangan itu, dia meraih tubuh lemah sang istri. Bunyi sialan itu tak mau berhenti mengeluarkan tempo cepat.


tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit............


"MOOOMYYYYYYY............"


😰

__ADS_1


😰


😰


__ADS_2