Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#96. Obrolan Sesama Laki laki


__ADS_3

Brian menepuk bahu Harvey yang tertidur di kursi tunggu depan kamar rawat Chelsea. Dia tertidur dalam posisi terduduk. Jejak air mata yang mengering tampak jelas di wajahnya yang mulai kusam. Dia tak mau beranjak 1 inchi pun meninggalkan Chelsea sendirian. Walau nyatanya Chelsea sendirian di dalam sana. Dia masih belum bisa menemui ibunya itu. Ada rasa takut, juga bersalah pada dirinya. Takut tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, bersalah karena membuat ibunya sedih dan membuat nya kehilangan calon adik.


"Tiger, wake up tiger" Brian membangunkan Harvey agar bisa mengajaknya makan. Anak ini, sedari kemarin tidak mandi, makan hanya mau roti, pergi hanya untuk buang hajat, lalu kembali lagi ke kursi itu. Tampaknya kursi stainless berwarna silver itu akan berubah menjadi merah karena panas diduduki Harvey dalam jangka waktu yang lama. Mungkin sebentar lagi meleleh🤦🏻‍♀️


"eengh... dad. I'm sorry, I'm asleep"


"It's okay, tapi kamu juga butuh makan. C'mon, kita makan dimanapun kamu mau" bujuknya. Biasanya kalau dibujuk seperti ini Harvey akan langsung bersemangat. Dia akan mengajaknya ke restoran cepat saji. Hal yang paling dilarang momy nya.


"No, dad. Harvey pengen jagain momy disini. Nanti kalo momy kenapa napa gimana?"


"Momy mu baik baik aja, banyak perawat disini. Kamu juga butuh tenaga buat jagain momy. Yuk, lagian kamu tau sendiri momy, kalau kamu gak mau makan, bakalan gempar seisi rumah sakit. iya kan?"


Harvey terkikik. Akhirnya dia mengiyakan ajakan Brian. Meski terlihat berat meninggalkan ruangan itu.


Brian mengajak Harvey makan di restoran yang menyajikan menu All You Can Eat. Mengingat akhir akhir ini Harvey kurang makan. Benar saja, dia makan dengan lahapnya.


Syukurlah, setidaknya dia masih bisa dibujuk.


"Hei, jagoan. Dady mau ngajakin kamu ketemu seseorang. Katanya dia pengen kenalan sama kamu"


"Dady mau jodohin Harvey? ogah ah, Harvey masih kecil. Masih mau bereng momy sama dady"


"ck, kamu tau dari mana soal jodoh jodohan, anak kecil? Dady juga tau kamu masih kecil. Dan selamanya kamu itu anak kecil nya dady sama momy"

__ADS_1


"Enggak, Harvey udah cukup gede kok buat jagain-" ucapannya terjeda kala mengingat kondisi momy nya.


"I'm sorry dad. Harvey.. Harvey udah bikin momy sakit" dia menunduk dan sedikit terisak.


"ssshhhh..... It's okay, tiger. Apa yang sudah terjadi, memang harus terjadi" Brian mengangkat dagu Harvey, agar Harvey bisa menatap matanya, memberikannya kepercayaan, agar dia percaya padanya dan meluapkan apa yang mengganjal di hatinya.


"Do you wish to tell me some thing?" Brian mencoba memancingnya.


"C'mon. Selama ini, kamu selalu cerita apapun yang mengganjal di hati kamu. Terutama sama momy. Dady cemburu. Sekarang, sebagai sesama laki laki, ceritakan apa masalahmu. Dady yakin, itu akan mengurangi penderitaanmu"


Harvey tampak menimbang nimbang. Brian tak mau mendesaknya, dia diam menunggu sambil sesekali mencomot kentang goreng milik Harvey.


"Dady.... itu kentang Harvey" Brian tergelak. Bocah ini, di usianya yang menginjak remaja, tetaplah bertingkah bocah kala bersamanya ataupun momy nya.


"Dad..."


"Apa.. dady kesakitan saat... saat momy menghukum dady?" got you kid. Akhirnya terpancing juga.


" Diantara momy sama dady, hukuman apapun terasa sangat menyenangkan. Karena kami saling mencintai. Kalau dady salah, dady akan mengaku salah. Kalau momy yang salah, dia akan menyalahkan dady" Brian lalu tergelak diikuti Harvey yang juga mulai menampakkan senyumnya.


"Momy mu itu, sedari kecil tidak pernah mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang tuanya. Yaitu opa dan oma-mu. Singkat cerita mereka terpisahkan karena kejahatan seseorang. Momy mu besar dalam kerasnya hidup. Dia mampu bertahan, dan untungnya, momy mu itu wanita yang tegar, dia tidak terpengaruh hal buruk. Bahkan dia ditakuti. Seperti yang kamu tau, tiger" Harvey kembali tergelak, membayangkan wajah momy nya saat marah.


"Oleh karena itu, dia menghujani kita, orang orang yang mencintainya, dengan banyak cinta dan kasih sayang. Jadi, saat momy marah sama dady, dia tidak benar benar marah. Justru dia terus memberikan cinta untuk dady. Untuk itulah, dady tak mau jauh dari momy. Seolah kehilangan kekuatan jika berjauhan dengan momy. Dan kamu, tiger. Kamu anak yang beruntung. Anak yang tak pernah berhenti disirami cinta dan kasih sayang oleh momy, tapi momy juga sangat menyayangi kakakmu, meski kalian tak se darah. Momy menganggapnya anaknya sendiri. Itulah hebatnya dia. Semua orang di rumah ini mendapatkan porsi yang sama dari cintanya. Kecuali dady tentunya. Dia tentu lebih banyak mencintai dady"

__ADS_1


"Dady licik, enggak boleh. Itu namanya gak adil" Brian tergelak dengan rengekan anak bujangnya.


"Tapi, tiger. Tolong jangan salah artikan rasa cinta momy padamu. Beri batasan pada dirimu sendiri, bahwa momy adalah ibu kandungmu. Bukan wanita dewasa yang bisa kamu cintai sebagai laki laki"


deg


Tampak keterkejutan dalam ekspresi Harvey.


"Maksud dady, cobalah kamu mengenal perempuan seusiamu, hanya berteman. Maafkan dady sama momy kalo udah mencontohkan yang tidak seharusnya kamu lihat. Terkadang, saking besarnya rasa cinta kita, kita sampe lupa lagi ada dimana, yang kita rasakan adalah menunjukkan rasa cinta itu secara reflek. Dan kamu, anak kecil. Ada kalanya kamu harus menghindar kala melihat hal tak senonoh seperti yang dilakukan momy and dady. Apalagi punyamu mungkin sudah bisa berdiri. Iya kan?" Brian mengarahkan matanya pada junior Harvey. Dan Harvey reflek menutupnya dengan tangannya.


"Kok dady tau?"


"Hei, dady juga pernah di masa sepertimu. Perubahan pada tubuh laki laki itu normal. Hanya saja, kamu harus tau cara menempatkan diri. Kuasai dirimu. Jangan terpengaruh oleh apapun. Satu lagi, jangan jatuh cinta pada ibumu sendiri. Atau kamu akan tersiksa."


Harvey langsung melotot. "Apa... apa yang dady ketahui?" tanyanya sambil berkeringat.


Brian mengusap punggung tangan anaknya. "Dady tau dari sikap dan tatapan matamu, tiger" Brian tak mungkin mengatakan jika dia mengetahui tentang ulahnya yang diam diam merekam aksi mereka.


"Maaf, dady. Maafkan Harvey. Harvey gak tau kenapa Harvey kayak gini sama momy" Harvey terisak. Di menyesal.


"ssshhh..... Dady tau, kid. Mungkin awalnya kamu merasa kagum sama momy, iya kan? dan kamu gak bisa berpaling dari rasa kagum mu, lalu rasa itu berubah dan bertumbuh. Saran dady, cobalah kamu ikuti beberapa kegiatan di sekolah, untuk mengalihkan perhatianmu. Kamu tahu sesuatu?" Harvey menggeleng


"Dady pencemburu berat. Jika ada yang memperhatikan momy diam diam, dady pasti akan menghajarnya" tatapannya dibuat semengerikan mungkin.

__ADS_1


"Enggak, dady. Harvey ga berani. Maaf. Harvey akan coba mengikuti ekskul biar ga kepikiran momy terus"


"Good boy" Brian mengacak rambut Harvey.


__ADS_2