Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#21, Cuma Iseng


__ADS_3

POV BRIAN


Deru nafas kami bersahutan saat aku melepas bekapan tanganku di mulutnya. Kobaran hasrat membakar tubuhku yang menempel dengan tubuhnya yang sama sama polos, ingin rasanya segera ku tuntaskan rasa inginku saat ini juga.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya nya saat tanganku melepaskan bekapan, deru nafas kami tersengal, bibir itu, mata itu, menantangku. Sekelebat bayanganku yang menyambar habis bibir tebal nan sensualnya, mati matian kutepis. Akal sehat dan jiwa liarku silih berganti mendominasi.


"Ini kamarku" aku tak bisa berkata lebih karena meihatnya menelan saliva. Aku mencoba menahan gejolak hasrat yang meronta ronta, menuntut pelepasan yang tertahan selama ini. Kutundukkan kepala, menyatu dengan keningnya, ku cium keningnya, mencoba mendalami perasaan yang kini membakar kami, dia terdiam. Aku tau dia juga menginginkannya. Kuatur nafasku, menenangkan diri, dan menenangkan yang dibawah sana. Satu tanganku yang lain mengarah ke rak yang ada di belakangnya, meraih handuk putih yang terlipat rapi, membuka lebar handuk itu lalu menutupkan pada tubuh polosnya.


"Pakailah bajumu" lirihku sambil menahan gejolak yang menyiksa ini.


Aku pun masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air dingin, meredam kobaran yang membakar akal sehatku. Aku tersenyum kala mengingat kekecewaan dimatanya. Entahlah, mengapa ia terlihat kecewa, apakah dia sangat menginginkannya juga namun tak kulakukan? Bukannya munafik, jujur, betapa aku mendambakan bisa menyentuh wanita lagi, namun wanita yang sah untuk kusentuh, wanita yang kucintai, dan mencintaiku.

__ADS_1


Setelah cukup lama aku meredam hasratku, akupun selesai dengan ritual mandiku, tujuan awalku masuk ke kamarku ini. Kebiasaanku saat sepulang kerja dengan melepas segala sesuatu yang menempel di tubuh atletisku, seolah melepas penat dan stress setelah seharian berkutat dengan urusan perusahaan. Namun tak menyangka ada bonus atau penghiburan atau apalah tadi. Sang junior kembali bangkit saat bayangan kejadian tadi menghampiri ingatan. Terutama saat kupejamkan mata. Apakah malam ini aku bisa tidur? My god, what should i do?


Sreett...


Saat kubuka pintu walk in closet, kembali mata ini terbelalak melihatnya yang masih berada di kamar ini, duduk di tepian ranjang, namun sudah berpakaian lengkap yang kutebak adalah pakaian Alexa, karena tadi dia tidak terlihat membawa apapun dari bengkel. Untung piyama sudah melekat sempurna menutupi tubuhku.


"Kita perlu, bicara" katanya.


"Tidak.. kau perlu bicara dengan anakmu" ralatnya. Akupun mengangguk, mengerti dengan arah pembicaraannya. Semua yang kami lalui hari ini, memanglah ulahnya, namun dia sudah terlalu jauh menjerumuskan kami.


Kubuka pintu kamar sebelah yang adalah kamar anak gadisku. Tampak seorang gadis yang tengah menempelkan telinganya di tembok pembatas kamar kami. Spontan, kami melipat kedua tangan kami di dada secara kompak, tak percaya dengan kelakuan absurd anak gadisku. Aku memutuskan melangkah masuk untuk berbicara dengannya, namun tidak dengan wanita itu yang melengos pergi entah kemana, tampak guratan amarah diwajahnya.

__ADS_1


"Honey, what are you doing?"


"Nothing, dady. Cuma iseng" jawabnya acuh, namun seringai jahil masih menguasai wajahnya.


"Apa kamu senang mempermalukannya?" tanyaku pelan, aku tak pernah bersikap kasar padanya, meski ia salah sekalipun. Bukan berarti aku tak menghukumnya. Dia hanya kekurangan kasih sayang seorang ibu. Itu yang belum bisa ku berikan meski aku sangat menyayanginya.


"Apa maksud dady dengan mempermalukannya" dia terkejut dengan pertanyaan sekaligus pernyataanku.


"Apa kau membencinya sehingga mempermalukannya?" lanjutku menyudutkannya.


"No, dady. It's not what I mean" matanya berkaca kaca. Sudah kuduga.

__ADS_1


TEMPEL JEMPOL BEIBZ 👍🏻👍🏻👍🏻😘


RAMAIKAN KOMEN YAAA😉


__ADS_2