
"Sayaaang.. honey..." Brian beberapa kali memanggil istrinya yang tak kunjung menyahut. Lalu dia mendekati humvee yang pintu belakangnya terbuka.
"Ya ampun, sayangnya aku" Brian segera menaiki istrinya yang terlelap tidur di kursi penumpang belakang, dengan kaki menjuntai ke bawah, menampilkan sela paha nya karena saat ini, istri seksinya mengenakan baju rumahan model terusan selutut.
Dia mengungkung istrinya yang terlelap dengan menopang siku agar tak membebani perutnya.
"Sayang... mukaku basah iih" gumam Chelsea kala menyadari suaminya mengecupi seluruh wajahnya lembut.
"Punya kamu juga basah, sayang" tangannya nakal menyusuri lembah rimba tempat kerisnya bersemayam.
"eennggh... bearhh... ini di mobil, sayang" namun dia menikmati sentuhannya.
"Aku gak rela, sayang" Jawab Brian sambil terus menyusuri tubuh montok istrinya.
"Gak rela kenapa, bear?"
"Aku ga rela kamu tidur sama humvee tanpa aku, sayang" bibirnya terus menyusuri gunungan kenyal yang masih terbungkus kain.
"Salah sendiri pergi pergian" Chelsea melingkarkan kakinya di pinggang Brian hingga menempel erat. Kain sialan, kenapa harus ada kain diantara kita? Batin Brian yang membayangkan pusakanya langsung menancap.
Brian meraih remot pintu garasi dan menekan tombol 'Close'. Pintu garasi pun dengan patuhnya perlahan turun menutupi aksi semedi sang pusaka.
Uhh, bayangin sendiri gaya nya man teman😁
"Momyyy.. I'm hooome..." teriak Alexa ke tengah rumah dengan seabreg barang barang yang berupa hadiah yang didapatnya kala main beberapa permainan di FUNFEST.
"Lexa, aku langsung jalan ya, bentar lagi pesawat mendarat"
"Ok. Ga minum dulu?"
__ADS_1
"Ga usah. Perutku kekenyangan ngabisin 3 cup bobba pesanan kamu"
"Ehe.. yamaap. Ya udah, makasih yaa. Ati atiii..." teriaknya saat melihat Roy melesat keluar.
"Hebat juga dia. Tiap permainan bisa dapet hadiah" gumamnya sambil memungut hadiah hadiah yang berjatuhan ke lantai. Dia membawa semua hadiah itu ke kamarnya, dan menyusunnya.
"MOMYYY.... DADYYY... pada kemana sih? dady juga harusnya ada di rumah. Mobilnya ada di depan" matanya beredar ke seluruh ruangan lantai dasar. Langkahnya menuntunnya ke arah dapur untuk mengambil minum. Sambil meminum air putih dingin yang berwarna bening itu, sudut matanya menuntunnya ke luar jendela dapur. Dilihatnya kedua orang yang sedari tadi dia cari tengah keluar dari garasi. Saling merangkul, lalu berciuman.
byurrr
Air yang dia minum menyembur kala lagi lagi menyaksikan adegan 18+ dari kedua orang tuanya.
"uhuk uhuk, dasar ga tau tempat" gerutunya dan kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Saat makan malam mereka kembali berkumpul.
"Bear... tadi siang ada telfon dari kepolisian" Brian menghentikan sejenak aksi mengunyahnya, lalu melanjutkannya lagi.
"Ini kasus Siska. Mereka bilang... Siska dan bu Darsih ditangkap karena terbukti melakukan penipuan. hhhh... aku ga nyangka mereka bakal sejauh itu. Yang bikin aku ga percaya, ternyata bu Darsih memang ibu kandungnya Siska. Dia bergabung menjadi pengasuh panti sehari setelah aku dan Siska ditemukan di depan pintu panti. Menurut pengakuannya.. dia dibayar seseorang untuk menculikku yang kebetulan dia juga baru melahirkan dan tidak mempunyai biaya persalinan. Dia juga bilang, kalo bergabung menjadi pengurus panti agar bisa merawat anaknya, juga bisa mengawasiku yang ternyata, aku adalah..." ucapannya terhenti kala Brian mengusap lembut punggung tangannya.
"Maafkan aku, sayang. Seharusnya aku jujur dari awal"
brakk
"Kamjagiya.." reflek Alexa terkejut dengan gebrakkan sang momy. Dilanjut dengan mengelus elus dadanya.
"Kamu tega, bear" suaranya rendah, namun tersirat ancaman. Matanya berkaca kaca. Brian panik dengan reaksi istrinya. Dia tau dia salah menyembunyikan fakta, meski menyimpannya untuk sementara. Chelsea segera melengos pergi naik ke kamarnya dan langsung menguncinya.
"Ha ha, tak tau momy marah" suara Lexa mengejek dady nya menirukan gaya si botak kembar uprit iprit.
__ADS_1
Lexa ikut meninggalkan dady nya yang tengah pucat di ambeki ratunya. (Ya Allah kata katanya gatau lagi apa istilahnya. Otak othor mendadak buntu🤦🏻♀️)
"Yah, ga ada ronde susulan dong" paniknya.
Chelsea tak benar benar marah pada Brian, dia hanya memberinya pelajaran agar tak menyembunyikan hal sekecil apapun. Suka bilang suka, ga suka ya harus suka. eh?
Chelsea tak percaya jika akhirnya dia bertemu kembali dengan ibu kandungnya. Setelah mengetahui kronologinya, dia bersyukur tak pernah berfikiran buruk terhadap kedua orang tuanya. Ternyata dia bukanlah anak yang tidak diinginkan. Tapi takdir lah yang menguji mereka. Kemudian rasa gugup melanda, apa yang harus dia lakukan kala bertemu kembali dengan orang yang sudah mengetahui kebenaran bahwa dia adalah anak kandungnya, sedangkan dia belum mengetahuinya?
Apa dia harus melakukan gerakan slow motion berlari merentangkan kedua tangan sambil berderai derai air mata? atau harus pura pura marah biar dipeluk duluan? sungguh, dia benar benar memikirkan skenario perjumpaan perdananya dengan ibu kandungnya sebagai ibu dan anak. Beberapa pertanyaan telah dia siapkan untuk dia layangkan, terutama mengenai ayah nya. Dimanakah sang ayah? dan sosok seperti apakah gerangan? Pertanyaan pertanyaan itu membawanya ke alam mimpi.
ceklek
"eh.. ga dikunci? asiik" gumam pelan Brian saat mencoba membuka panel pintu. Dia melangkah perlahan ke arah ranjang tempat istrinya sedang merebahkan diri. Posisinya menyamping menghadap Brian. Perlahan Brian ikut berbaring, memposisikan diri berhadapan Chelsea yang tengah terlelap. Ia tatap lekat wajah istrinya yang membuatnya tergila gila. Tangannya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. telunjuknya menyusuri alis, hidung, mulut
fuhh
Chelsea meniup telunjuk Brian yang menggelitik bibirnya. Namun matanya masih terpejam. Brian tersenyum nakal dengan tingkah istrinya yang tengah berpura pura tidur. Diapun segera menyergap bibir seksinya dan ********** tanpa ampun. Gelak Chelsea dibungkam oleh bibir Brian yang seolah menghukumnya karena berhasil mengerjainya berpura pura merajuk.
"I got you, bear" ucap Chelsea meledek suaminya karena berhasil mengerjainya.
"yeah, baby. You got me" Brian langsung memborbardirnya tanpa ampun. Apa jadinya hidupnya tanpa sang istri yang selalu memberikan warna pada hari harinya.
Beatrice menangis tergugu saat perjuangannya selama ini membuahkan hasil. Dia memeluk bingkai foto orang orang yang disayanginya dia tinggalkan demi menemukan buah cintanya. Dia tak kan menyesal jika anak angkat dan suami tercinta membencinya. Dia sudah pasrah dengan kemungkinan itu. Berbekal keyakinan, dia menelusuri jejak penculik. Beratus kali sang suami menyuruhnya untuk berhenti berharap. Hingga dia memutuskan untuk mencarinya seorang diri. Meninggalkan seorang anak yang suaminya adopsi sebagai pelipur lara.
"We're coming my love... wait for us..." tangisnya pilu, bagai slogan iklan "Nyaris tak terdengar"
Rasa haru yang membuncah, membuat kamarnya dipenuhi lautan tissue.
🤧🤧🤧🤧
__ADS_1
OTAK KU BUNTU TOLOOOOONG😣