Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#42. Chelsea Pergi


__ADS_3

ciiiit


Ban berdecit. Brian memarkirkan mobilnya secara sembarangan di area parkiran bengkelnya. Dia terburu buru melepas seat belt yang memerangkap tubuhnya, kemudian keluar tergesa dari dalam mobil dan berlari secepat mungkin ke arah kantor bengkel. Brian panik setelah mendapat laporan bahwa Chelsea melakukan tindakan penganiayaan pada salah satu customer. Bukan nama baik bengkel yang ia khawatirkan, namun kondisi Chelsea yang ia khawatirkan. Bukan tanpa sebab jika Chelsea melakukan penganiayaan, tepatnya membela diri. Itu yang ia percaya mengingat sifat dan karakter Chelsea yang tak mudah ditindas dan didekati.


Brakk


Pintu kaca kantor ia buka secara kasar, emosinya berada di ubun ubunnya, mencari keberadaan laki laki brengsek yang mencoba macam macam dengan wanitanya.


"Bos..." panggil Seto gugup melihat ekspresi menyeramkan bos nya.

__ADS_1


"Mana dia?" tanyanya langsung sambil mendekati meja kerja Seto. Di depannya duduk seorang laki laki muda dengan wajah yang terlihat membiru disebagian wajahnya, terutama dibagian pipi kiri dan mata sebelah kirinya. Hidung mancung yang tampak tidak pada tempatnya, dengan darah yang mengering di lubang hidungnya. Di pinggir meja berdiri seorang pria berseragam polisi, memperhatikan layar monitor berukuran 14 inchi.


"Maksud bos?...." Seto bingung dengan yang bos nya cari, apa mencari si biang kerak, atau bidadari yang berubah menjadi malaikat pencabut nyawa.


"Celsi ku, mana dia?" raungnya tak sabar.


"Bos... tenangkan dirimu dulu" Seto beranjak dari duduk dan berjalan ke arah meja buffet yang aga panjang, tempatnya menyimpan dispenser air beserta gelas. Dia lantas mengisi gelas yang bersih dengan air mineral yang terdapat di dalam galon. Seto memberikannya pada Brian, namun tak langsung ia terima. Tampak Brian yang menilik laki laki yang saat ini tengah tertunduk dalam, tidak seperti tadi yang ngotot ingin menuntut Chelsea atas penganiayaan pada dirinya.


"Tenangkan dirimu tuan, jangan sampai anda juga terkena pasal penganiayaan. Kami sudah memeriksa rekaman CCTV, dan benar bahwa saudari Chelsea hanya membela diri dari perilaku pelecehan yang dilakukan pria ini. Kami selaku pihak berwajib, meminta kerjasamanya agar memberikan bukti rekaman untuk diserahkan pada pengadilan." Petugas mengingatkan Brian, dan membuat nya sedikit melonggarkan cekalannya pada kaos si tersangka.

__ADS_1


"Jangan pernah muncul di hadapan anak ku Alexa lagi, ataupun saya, apalagi dengan calon istriku. Atau kau akan merasakan neraka yang sesungguhnya" desisnya mengancam, membuat Andrew bergidik ngeri membayangkan apa yang sanggup dady-nya Lexa perbuat terhadapnya dan keluarganya.


glek


Andrew digiring petugas untuk dibawa ke kantor polisi. Sebenarnya mereka memerlukan kesaksian Chelsea sebagai korban, namun Chelsea pergi meninggalkan bengkel membawa amarah. Petugas memaklumi sikap Chelsea sebagai korban, dan memberikan waktu untuknya menenangkan diri. Sebelum petugas membawa serta rekaman CCTV sebagai bukti otentik, Brian meminta Seto agar menyalinnya, sehingga dia bisa melihatnya sendiri kejadian itu. Selain itu, ada yang ingin dia pastikan. Apakah putri semata wayangnya ada dalam video tersebut?


"Kemana Chelsea pergi?" tanyanya masih dengan ekspresi dingin, namun suaranya ia rendahkan.


"Anu bos, saya ga tau pastinya dia pergi kemana, waktu saya marahin dia dan dia balik mencak mencak sama saya, trus nyuruh saya nge cek CCTV, dia langsung pergi keluar, bos"

__ADS_1


"Apa? kamu.. berani marahin dia?" suaranya kembali meninggi, sorot matanya tajam, rahangnya mengeras, pulpen yang sedang ia genggam pun patah.


__ADS_2