
Seminggu kemudian, Brian sudah memulai rencananya. Chelsea tidak mau tau dengan apa yang sedang suaminya rencanakan. Dia tetap melakukan kegiatan sehari hari dengan tanpa beban. Selama hubungan mereka baik baik saja, selama kebutuhan biologis mereka saling terpenuhi, Chelsea tidak mempermasalahkan yang lain. Dia yakin jika suaminya tidak akan mengulang kesalahan yang sama dengan mantan suaminya terdahulu. Ia bahkan sempat merajuk selama 3 hari saat Brian tidak menyempatkan diri 'memanjakannya' saat dia mau dimanapun itu.
Bahkan saat ini, kala dia tengah melakukan meeting dadakan dengan dewan direksi, Chelsea yang tiba tiba datang pada saat jam makan siang membuatnya ketar ketir. Begitu juga dengan sekertarisnya, karena sang sekertaris ia perintahkan untuk membatalkan semua janji kala sang Ratu datang ke kantor, jika tidak ingin pekerjaannya terancam. Bukan tanpa sebab, karena masa depan si batang piston juga ikut terancam.
Brian yang mengetahui kedatangan sang ratu dari sekertarisnya langsung pergi meninggalkan ruangan meeting. Sang sekertaris terpaksa membubarkan meeting yang baru berjalan selama 30 menit dengan alasan menunda meeting karena hal darurat.
Brian berjalan cepat ke arah ruangannya sambil melonggarkan dasi yang menjerat lehernya. Keringat tampak mengucur dari dahinya, berharap sang ratu tidak murka padanya.
Para karyawan yang melihat raut dingin sang bos tampak menyingkir dari jalan yang dilalui bos mereka dengan sedikit membungkukkan tubuh mereka.
"Ternyata bos yang menyeramkan juga punya rasa takut. Istrinya lebih menyeramkan tau gak? Kalian yang diam diam mengagumi si bos, pikir dua kali deh. Jangan sampe berurusan sama istri bos kalo masih mau idup"
"Kok ngeri ya. Aku ga berani ngagumin si bos lagi ah"
"Kasian cewe yang kecentilan yang suka rajin dateng tapi suka dikacangin si bos"
"O iya, cewek itu. Jijik sih sebenernya sama penampilannya. Kepedean gitu"
"Iya bener, aku juga ga suka sebenernya sama cewek itu, tapi ngebayangin dia bisa habis dicabik cabik sama istri bos, kesian juga sih"
Gosipan para karyawati yang berbisik bisik, terinterupsi oleh deheman keras dari sekertaris Brian.
"Ekhem" seketika hening.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian menyelamatkan diri" saran yang diberikan sang sekertaris yang bernama Dewi itu terdengar horror di telinga mereka. Tanpa menunggu lama, mereka membubarkan diri, mengikuti saran horror sang sekertaris, yaitu menyelamatkan diri kembali ke kubikel masing masing.
ceklek
Brian memasuki ruangannya dan langsung menguncinya. Saat berbalik, ia dikejutkan dengan gerakan mendadak yang mendorongnya kuat ke pintu. Chelsea menciumnya membabi buta, seolah dirasuki hewan liar, Brian segera mengimbanginya, langsung menggempurnya saat itu juga. Suara suara gebrakan pintu dan meja karena ulah liar mereka membuat sang sekertaris yang duduk di tempatnya tepatnya di sebelah pintu sang direktur, merasa ngeri dengan apa yang terjadi di dalam ruangan. Pasalnya, jika melihat wajah panik berkeringat milik sang direktur, itu pertanda buruk bagi direktur, Sang Ratu pasti menghajarnya habis habisan. Dia hanya berharap nasibnya tak seburuk bos nya.
Di dalam ruangan, Chelsea dan Brian bergantian mendominasi permainan. Hingga mereka merasa puas beberapa kali meledak bersama. Kemudian membersihkan diri di kamar mandi yang terdapat di bagian belakang ruang pribadi Brian. Setelahnya mereka makan siang bersama di meja tamu yang terdapat di depan meja kebesaran Brian.
Chelsea sengaja memasak dan membawakannya ke kantor Brian agar bisa makan siang ples ples dengannya.
Akhir akhir ini, hasrat Chelsea sangat tinggi, terkadang dia tak bisa menahannya saat menginginkannya. Dia akan ngambek saat keinginannya tertunda.
"Masakanmu selalu enak sayang, aku bisa gendut kalo gini" puji Brian pada Chelsea yang sedang membereskan kotak bekal setelah mereka menghabiskan seluruh makanan yang Chelsea bawa.
"Aku baru tau kalo kamu senakal ini" lidahnya bergerilya di leher Chelsea.
"Pak, maaf mengganggu. Nona Siska memaksa ingin bertemu bapak. Dia sudah menunggu selama 1 jam. Saya sudah menyuruhnya agar datang lain waktu, tapi bersikeras menunggu bapak" suara Dewi si sekertaris melalui saluran interkom menghentikan gerakan seduktif Brian, enggan menurunkan Chelsea dari pangkuannya.
"Biarkan dia masuk"
tit
Brian membuka kunci pintu melalui remote. Pintu terbuka, Siska langsung merangsek masuk hendak protes karena dibiarkan lama menunggu. Tapi langkahnya terhenti kala melihat pemandangan yang dia idamkan bisa dia lakukan dengan Brian.
__ADS_1
"B- K kalian, apa yang kalian lakukan berdua sedari tadi?" ucapannya tergagap sambil sibuk menelan saliva, tergiur akan perlakuan Brian yang memanjakan Chelsea yang tengah duduk di pangkuannya.
"Apa lagi yang bisa kami lakukan saat berdua didalam ruangan tertutup" suaranya mulai serak dan berat, Chelsea terus saja bergerak dipangkuan Brian kala tangan Brian menyelusup ke dalam blouse Chelsea dan bermain main di dalamnya.
"B.. Bisakah kau tinggalkan ja lang ini? dia tak sebaik yang kau fikir. Atau.."
"Ja lang?" Chelsea dan Brian bersamaan menoleh pada Siska dan menatapnya tajam. Sungguh aura yang mengerikan. Bahkan tatapan mereka berdua bisa membunuh nyali seseorang.
"Ja lang sama suami sendiri ga papa kan sayang?" Chelsea mengecup rahang tegas suaminya.
"Tentu saja, sayang. Aku menyukainya" remasan di gundukan Chelsea semakin mengencang, membuat Chelsea melenguh.
"Sayang, apa kita akan memulainya lagi?" Chelsea mendusel di telinga Brian.
"Apa kau menginginkannya lagi, sayang?" suara nya terdengar serak dan berat. Monster kecilnya mulai menggeliat lagi.
"Bagaimana dengan dia" tanya Chelsea yang merubah posisi duduknya mengangkangi Brian dan melepas perlahan dasi yang menjerat leher kekar suaminya. Lalu satu persatu kancing perlahan ia buka sambil sibuk mengecupi leher sang suami.
"Dia bebas menjadi penonton jika mau. Apa kau keberatan?"
"Tentu saja. Aku tak mau membagi tubuh berharga suamiku dengan ja lang lain"
Ucapan pelan Chelsea yang sedikit mendesah membuat Siska yang menjadi nyamuk pasangan kasmaran menjadi geram.
__ADS_1
"Aku.. aku bersedia menjadi yang kedua B"