Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#58. Minta Maaf


__ADS_3

Brian termenung di kursi taman, masih di rumah sang Mama. Berita dan rencana yang disampaikan mama nya adalah 2 hal yang berbeda. Brian juga merasa geram dengan kelakuan Siska yang selalu ingin mengambil hak Chelsea. Dia jadi penasaran kenapa wanita itu selalu menjadi duri dalam hidup Chelsea istrinya, sedari kecil malahan. Dia tau itu karena Chelsea yang cerita. Bahkan Chelsea sendiri tak pernah merasa merebut apapun dari Siska. Perhatian ibu panti sekalipun Chelsea tak pernah ia dapatkan secara spesial. Brian kemudian terpikir akan sesuatu. Dia kemudian menyusun rencananya sendiri. Dia meminta pada mama Carol agar menyerahkan perihal Chelsea padanya. Brian bertekad akan mengembalikan apa yang menjadi hak istrinya selama ini.


Brian akhirnya pulang. Dia sangat merindukan istrinya.



Brian mencari keberadaan istri sexy nya. Alexa yang menyambut kedatangan sang dady mengatakan bahwa sang momy sudah ber jam jam berada di ruang gym. Saat hendak memasuki ruangan gym yang hanya dikelilingi kaca transparan, tampak Chelsea sedang melakukan hand stand .


Brian kemudian memasuki ruangan dengan membuka satu per satu yang menempel pada tubuh bagian atasnya, menyisakan celana panjang bahan kain katun berwarna hitam.


Dia mengikuti gerakan Chelsea melakukan hand stand. Merasa terganggu konsentrasinya, Chelsea menurunkan kakinya, lalu berguling tidur terlentang tepat di bawah Brian.


Dengan otot kekarnya, Brian menahan bobot tubuhnya sendiri. Dia tak mau bergerak tiba tiba dan melukai istrinya. Akhirnya masih dengan posisi hand stand, Brian perlahan menurunkan tubuhnya dan mengecup bibir Chelsea yang tepat berada dibawah kepalanya yang terbalik.


cup


Chelsea tersenyum menggoda. Brian perlahan menurunkan kakinya agar tak menginjak tubuh sexy istrinya.


Posisi Brian kini mengangkangi Chelsea yang terlentang.


"Halo my sexy wife. I miss you a lot"


cup


"Gombal. I miss you too"

__ADS_1


Mereka melanjutkan dengan bibir saling berpaut. Lalu Brian ikut merebahkan diri disebelah Chelsea.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Chelsea yang memiringkan tubuhnya menghadap suami kekarnya.


"Hmm" Brian ikut memiringkan tubuhnya menghadap Chelsea dengan kepala disangga sebelah tangannya.


"Sangat lapar" dia kembali meraup bibir istrinya dengan lahap. Membuat Chelsea sedikit terkikik.


"Perutmu atau bawah perutmu yang lapar?" tanya Chelsea yang berada dibawah suaminya.


"Kedua duanya" jawabnya singkat sambil melahap satu dada Chelsea yang masih terbungkus sport bra. Chelsea tergelak dengan kelakuan absurd suaminya. Dia kemudian melingkarkan kedua kaki mulusnya di pinggang Brian, dan kedua tangannya merangkul lehernya.


"Tapi kamu ga bisa melakukan dua duanya disini, bear" dia menarik leher Brian lalu mengecup bibirnya dalam.


Brian bangkit sambil terus membiarkan posisi Chelsea membelit erat pinggangnya. Dia membawanya keluar gym, pandangan mereka saling mengunci dengan senyum yang tak surut dari bibir mereka yang sesekali saling mengecup.


"Dady..."


"Momy mu kelelahan sweety" Brian langsung memotong ucapan Alexa yang seketika menggerutu memanyunkan bibirnya.


"Dady sama momy mah gitu, Lexa dicuekin mulu"


"I'll be back soon honey" teriak Chelsea dalam gendongan suaminya.


Brian membuka pintu kamar lalu menutupnya dengan kaki dan menguncinya. Dia berjalan kearah kamar mandi, membuka keran membiarkan bath tube terisi penuh dengan sedikit menambahkan sabun dan aromatherapy. Dia lantas mendudukkan Chelsea diatas wastafel, membuka sport bra dan hot pants yang entah bagaimana ia bisa membukanya dalam keadaan duduk. Terakhir, dia membuka celana dan dalaman miliknya sendiri. Menampilkan piston yang siap memacu. Chelsea menggigit bibir bawahnya, hasratnya tak terbendung lagi. Dia lantas meraih pinggang Brian dengan kakinya karena posisinya masih terduduk diatas wastafel. Dia kembali menggelayut seperti koala dengan kondisi mereka yang polos.

__ADS_1


Brian membawa wanitanya masuk ke dalam bath tube dan duduk di dalamnya. Campuran air hangat dan aroma therapy membuat tubuh mereka relax. Ditambah dengan gosokan dan pijatan pijatan kecil di beberapa bagian tubuh Chelsea, membuatnya sangat menginginkan lebih dari sekedar pijatan lembut. Sesuatu dibawah sana terasa berdenyut, Chelsea sengaja sedikit menggerakkan tubuhnya memancing monster kecil agar pulang ke rumahnya.


"ahh..." Brian dan Chelsea mendesah kala milik mereka telah menyatu. Chelsea mendiamkannya didalam sana, Brian melanjutkan gosokan tangannya pada hampir seluruh tubuh Chelsea. Membiarkan miliknya diam berendam didalam sana. Terada kedutan kedutan nakal dari sang monster, memancing Chelsea menggerakkan pinggulnya, membuat Brian mengerang menginginkan gerakan yang lebih liar.


Riakkan air berubah menjadi gelombang besar yang menumpahkan sebagian isi bath tube karena ulah mereka yang tak hentinya bergerak liar, ******* dan erangan saling bersahutan, posisi yang silih berganti, berkali kali mereka meledak bersama, lalu memulainya kembali, seolah tak pernah merasa puas dan kenyang. Selalu saling menginginkan lagi dan lagi. Hingga akhirnya tenaga mereka terkuras, tak terasa mereka menghabiskan 2 jam lamanya di dalam sana. Chelsea terkulai lemas di pelukan Brian, dengan nafas terengah.


"Kamu hebat, baby" bisik Brian.


"I love you, more and more" lanjutnya sambil mencium leher jenjang wanitanya. Seketika ciumannya menjeda kala melihat tanda di leher istrinya yang mengingatkannya akan sesuatu yang sangat tak ingin dia lakukan. Dia lantas mencium dalam bibir istrinya yang kelelahan. Seolah sedang meminta maaf atas apa yang akan dia lakukan setelah hari ini. Tapi ini semua demi dirinya pula. Demi mengembalikan apa yang menjadi hak istrinya selama ini. Dia berharap, istrinya benar benar pintar dalam menilai dirinya, benar benar mengenali dirinya, dan percaya sepenuhnya padanya.


Mereka menyelesaikan ritual mandi ples ples itu.


Chelsea duduk di depan meja rias, masih mengenakan bath robe berwarna warm white, sama dengan yang dikenakan suaminya. Brian dengan telaten membantu mengeringkan rambut istrinya yang tanpa ia sadari memperhatikan raut gelisah suaminya meski ia terdiam.


Sentuhan tangan Chelsea pada punggung tangannya mengalihkan lamunannya.


"Hey..."


"Aku percaya padamu"


Ucapan tiba tiba Chelsea membuat Brian bergeming. Dia sedang bingung bagaimana memulai rencananya, perasaan tak rela mendominasi pikirannya, namun dia harus melakukannya demi wanita yang kini mememuhi pikiran dan jiwanya.


Chelsea bangkit dari kursi, lalu berjalan memutari kursi dan berdiri berhadapan dengannya. Ia merangkul leher Suaminya lalu mencium dalam bibirnya, memberikan keyakinan pada suaminya bahwa dia benar benar mempercayai suaminya, apapun yang akan terjadi di masa mendatang. Dia sangat tahu, dibalik kebahagiaan, ujian dan cobaan selalu mengintai untuk memecah dan merusak kebahagiaan.


Brian tak bisa berkata kata, ia membalas ******* istrinya, dan membalas pelukan eratnya. Tanpa sadar, ia meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2