
Chelsea tak menggubris penjelasan Dokter Elsa. Dia tengah asik menatap lekat mata suaminya, tangannya sibuk mengusap wajah kesayangannya yang kini ditumbuhi bulu halus di rahang tegas nya. Sedangkan tangan satunya menggenggam tangan Brian yang terbebas dari infus, sesekali mengecupnya. Brian menikmatinya, sesekali menanggapi pesan dan pertanyaan yang dilontarkan sang dokter. Wajahnya kini berseri, meski masih terlihat pucat.
"Nyonya Chelsea, bagai mana dengan kandungan mu? apa ada masalah belakangan ini?"
"eh.. iy.. engga dok, ga ada masalah. Kandunganku baik baik aja ko"
"Honey... kamu...." Chelsea mengangguk cepat sambil menempelkan sebelah tangan Brian di perutnya.
"Hello dady, nice to meet you" ucap lirih Chelsea menirukan suara anak kecil, air matanya kembali menetes.
"My God, honey... thank you..." Brian menangis haru sembari mengecup punggung tangan Chelsea.
"Sudah kuduga, anda belum mengetahui kehamilan istri anda" sela Dokter Elsa menginterupsi keharuan keduanya.
"Maksud dokter?" tanya Brian tak mengerti. Dia tak menyalahkan Chelsea karena tak memberitahunya, karena Alexa pasti menjaganya.
"Reaksi muntah muntah anda belakangan ini adalah bentuk ngidam yang diderita suami kala istrinya hamil"
"Maksud dokter?" kini Chelsea yang bertanya.
"Belakangan ini BB muntah muntah kala didekati seorang wanita. Saat itu Mama menyimpulkan kalau kamu sedang hamil" lanjut Mama.
__ADS_1
"Wanita?" tanyanya lirih, lalu melirik ke arah tante Betty. Bukannya merasa tidak enak, tante Betty malah mengangguk.
"Bii.... mami? ngapain mami disini? kalian.. kamu?.."
Siska tiba tiba datang dan menunjuk bertanya pada satu per satu orang yang dia kenal.
"ppffftt...." Alexa dan Chelsea reflek menahan tawa karena penampilan random Siska yang setia dengan APD berwarna pink transparan-nya. Chelsea mengelus elus perutnya seraya berkata 'amit amiiiit jabang bayi' dalam hatinya. Sementara Carol dan Betty menggelengkan kepala sambil kompak memijat pelipisnya.
Brian memeluk tangan Chelsea erat di dadanya. Rasa mual itu hadir lagi kala Siska menggeser posisi Betty menjauh dari lelaki sasarannya, dan kini posisinya menjadi lebih dekat dengan Brian. Dia melirik pada Chelsea dan hendak menggeser posisinya lagi agar lebih dekat lagi. Namun dia seperti hendak memindahkan batu. Dia coba lagi, namun masih tetap berat. Saat matanya menatap mata Chelsea tengah melotot tajam padanya, nyalinya seketika menciut. Dia tak pernah melihat tatapan Chelsea yang seperti ini. Yang dia ketahui, Chelsea selalu mengalah padanya. Kenapa sekarang ga mau ngalah? pikir nya.
Dilihatnya Brian bergerak menghadap Chelsea dan menyerukkan kepalanya pada tubuh Chelsea yang tengah duduk di kursi samping brankar, bak anak kecil yang tengah berlindung padanya. Memang betul, Brian berlindung pada aroma Chelsea agar tak muntah karena aroma Siska yang terasa enek dihirup meski sudah ditutup sedemikian rupa.
" B, kamu pasti belum makan. Nih aku bawain opor ayam kesukaan kamu. Ini bikinan aku sendiri loh" bujuk Siska dengan pedenya sambil mengangkat kotak bekal sejajar kepalanya.
"Iya, sejak kapan dady suka opor? bukannya anti santen ya dady?"
"Pas banget tuh. Kebetulan gue laper. Sini buat gue aja. Debay tiba tiba pingin opor katanya" pinta Chelsea menyela.
"Enak aja, beli sendiri sana tuh di pengkolan. Enak aja main minta. Gue juga dapet usaha sikut sikutan biar bisa dapet ni op-" ucapannya terhenti. Ketauan deh kalo bukan bikinan sendiri.
Chelsea seketika menyunggingkan senyum miring.
__ADS_1
"Kamu mau opor yang? Baby kita mau opor ya? yuk aku temenin" sela Brian yang mengelus perut Chelsea dan hendak mencabut jarum infus yang menancap di sebelah punggung tangannya.
"e eh ga usah sayang, bisa ditunda ko. Udah kamu tiduran aja ya. baby kita ga masalah ko kalo besok makan opornya" cegah Chelsea.
"Baby...?" tanya Siska bingung.
"Iya, Chelsea ini sekarang lagi hamil. Mami bentar lagi mau dapet cucu" Betty dengan entengnya mengedipkan sebelah matanya. Namun yang lain tak peduli. Yang penting sekarang ini adalah gimana caranya membuat Siska pergi dari ruangan ini.
"Lagian kamu ini ya, ngapain pake kek beginian. Kan malu diliatin orang orang. Lepas kenapa?" Betty tiba tiba membuka penutup kepala Siska. Seketika orang orang melirik pada Brian yang masih menyerukkan wajahnya pada tubuh Chelsea.
Tak ada reaksi.
Hal itu membuat Siska bersemangat dan menarik paksa Chelsea yang masih tertegun.
Siska yang kemudian duduk disebelah Brian dan meraih tangannya.
hoek.... byurrrr.....
tepat sasaran
"aaaaaaaaaaa............. MAMIIIIIII........
__ADS_1
🤮🤮🤮🤮