Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#41. Harus Putus


__ADS_3

Brian selesai dengan meeting dadakannya. Diikuti oleh sekertarisnya, ia kembali ke ruangannya dengan tergesa. Saat sedang melakukan meeting dadakan tadi, Alexa menelponnya sambil sesenggukan, membuatnya khawatir. Dia tak mengerti apa yang diucapkan oleh putri semata wayangnya. Yang terdengar jelas olehnya hanya kalimat 'I hate her dady, I hate her'.


ceklek


Pintu ruangan dibukanya, namun bukan pemandanga memilukan yang ia dapatkan, tapi tawa 2 orang wanita yang ia kenal. "Kalian sudah saling mengenal?" tanyanya langsung dengan ekspresi datar dan dingin. Andai saja putrinya tak ada disini, sudah dipastikan dia akan langsung mengusir wanita ini.


"Dady, sejak kapan dady punya teman seperti Siska? kenapa ga pernah cerita?" tanya Lexa antusias, namun sisa sesenggukan dan jejak air mata masih ada.


"Teman? dia bukan teman dady" tegasnya.


"Someone special?" entahlah, kenapa Lexa seperti ini, padahal Brian menunjukkan wajah datar dan tidak suka pada wanita ini seperti dulu saat sebelum bertemu dengan Chelsea. Chelsea, dia terpikir akan Chelsea. Ada apa dengannya? tadi waktu di telpon oleh Lexa, mengatakan bahwa dia membencinya, apa maksudnya Chelsea? ada apa dengannya sampai tiba tiba Lexa berubah 180⁰, batin Brian.


"Dia bukan siapa siapa dady, honey. Kau tau siapa yang spesial buat dady saat ini" tukasnya langsung. "Bisakah kau pergi dari sini? Saya tak merasa memiliki janji apapun apalagi mempunyai urusan bisnis dengan anda, dan siapa yang mengijinkan mu masuk ruangan saya?" tegasnya pada Siska yang membuatnya gugup karena ucapannya yang dingin, namun enggan menatapnya.

__ADS_1


"Ayolah dady, tadi Lexa yang ijinin dia masuk, jangan galak galak gitu dong sama temen, nanti cepet tua" rayu Lexa. Dan Siska? dia hanya diam memperhatikan interaksi ayah dan anak ini.


"Kamu? yang ijinin dia masuk? seriuosly? seperti bukan kamu sayang. Sudah lah tak ada yang penting, dady sibuk. Sekarang silahkan kalian pergi, saya masih ada urusan"


"Dady jahat" mata Lexa berkaca kaca, suaranya tercekat.


"Dewi, masuk ke ruangan saya" perintahnya pada sekertarisnya melalui sambungan interkom.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya sang sekertaris saat memasuki ruangan atasannya.


"Kau berani mengusirku? Akan ku adu kan pada mami ku"


"Silahkan saja, toh kalian bukan siapa siapa kami, bawa dia keluar, Dewi" ucapnya lagi menegaskan.

__ADS_1


"Mungkin tak berpengaruh bagimu, tapi berpengaruh pada persahabatan ibumu dengan mami ku" lanjutnya masih berusaha mencari celah kelemahan Brian.


"Tentu saja akan berpengaruh, terutama denganmu jika ku bongkar masa lalumu pada tante Betty" ancamannya berhasil membungkam Siska, membuatnya menjadi pucat pasi.


Siska lalu berbalik dan melenggang pergi sembari menghentak hentakkan stilleto nya kesal.


"Sejak kapan kamu menyukai wanita seperti itu untuk dady?" ucapnya tajam, ia memijat dahinya, tiba tiba migrain menyerangnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, honey?" tanyanya kemudian dengan lembut. Entahlah, kenapa dia bersikap keras padanya tadi, padahal Brian tak pernah memarahinya dengan keras seperti tadi, dia hanya menegurnya dengan lembut jika Alexa melakukan kesalahan. Dia merasa bersalah sekarang.


"Dady.... kalau Lexa meminta dady untuk putus dengan Chelsea, dady mau kan?" tanyanya tiba tiba dengan suara tercekat menahan tangis.


"Apa maksudmu honey? kenapa dady harus putus dengannya?" jawabnya kembali bertanya.

__ADS_1


"Dia ga sebaik yang dady kira, dia menipu dady, dia.. dia selingkuh, dady..."


__ADS_2