Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#39. Sepertinya Sedang....


__ADS_3

Satu bulan berlalu


"Lexa.... Alexa, wait..." teriak seorang laki laki berparas tampan di parkiran sekolah kejuruan. Alexa memutar kepala dan badannya mencari arah suara. Saat ia menilik dan mengenali si pemanggil, ia tersenyum sumringah melambaikan tangannya. Dia tak menyangka laki laki yang dikaguminya menyapanya duluan.


Andrew adalah bintang sekolah, bisa dibilang 'most wanted male', siapapun berharap bisa berdekatan dengannya, salah satunya Alexa. Pagi ini cukup mendung karena semalaman hujan turun cukup deras. Namun terasa cerah bagi Lexa yang sedang berbunga bunga menerima sapaan Andrew, idamannya. Senyumnya mengembang sempurna saat Andrew mengikis jarak sambil berlari kecil ke arahnya, jantungnya melompat lompat, membuatnya salah tingkah, semburat merah mendominasi wajahnya.


"haah.... finally.... kamu diantar siapa barusan?" tanyanya kemudian saat telah mensejajarkan diri dan berjalan bersama Alexa ke arah jurusan Lexa. Sebenarnya mereka berbeda jurusan, dan letak ruangannya pun berlawanan arah.


"Ooh... barusan dady yang antar, biasanya juga dady kan?" jawabnya sambil senyum senyum malu.


"Bukannya sudah ada momy?" tanyanya kemudian.


"Momy?, ooh, not yet, dia belum jadi momy Lexa, baru C A L O N, semoga mereka cepat bersama, Lexa dah ga sabar bisa serumah sama momy Chelsea, pasti seru" jawabnya bersemangat kala mengingat setiap kegiatannya bersama Chelsea.


"I see, masih calon yah. Apa dia bekerja?"

__ADS_1


"Sure, di bengkel dady ku yang di jalan gabrot sana"


"Seriously? bengkel?"


"Iya, bengkel, kamu ga tau betapa tangguhnya dia, kalo lagi ngotak atik mobil, beuuuh.... keren nya minta ampun"


"Wow.. I can imagine that"


Mereka masih berjalan beriringan, namun tak ada sepatah katapun terucap. Masing masing dengan pemikirannya sendiri. Alexa berjalan sambil menunduk wajahnya masih merah, sambil mengulum bibirnya menahan senyum bahagia. Sedangkan Andrew, dia hanya termenung, meski langkahnya masih mengimbangi Alexa, sampai...


"Ok, bye.... hhhhh senyum mu itu ndrew, bikin meleyot, aaaaa" Lexa jingkrak jingjrak ditempat mengundang atensi siswa siswi yang berada di sekitarnya, membuat mereka mengernyitkan dahi.


Matahari mulai menggeliat, menaburkan butiran butiran cahaya kehangatan, menyibak selimut kabut di seluruh penjuru kota.


Chelsea masih berkutat dengan mesinnya, padahal jam istirahat telah tiba. Dia tak berniat menunda pekerjaannya karena tidak ada yang akan mengajaknya makan siang, selain itu dia sedang fokus dan penasaran dengan masalah pada Tesla model S. Mobil listrik itu mengalami kerusakan parah pada baterai.

__ADS_1


"Ternyata orang kaya juga bisa bego, dh tau mobil listrik, masih aja nekat ngehantem banjir, angus kan jadinya" gerutu Chelsea yang nyaris terdengar oleh sang pemilik.


"Harus nunggu pesanan nih bang, batre gini kita ga ready stock. Kalo batre abese banyak" bukannya tak ingin ramah, namun dia tak suka dengan tatapan menjijikan yang dilayangkan padanya sedari awal.


"Oke, ga masalah, berapa lama?"


"Paling cepet 1 minggu"


"mmm ga papa, mau 1 bulan juga ga masalah, aku bisa pake mobil lain. Kamu... ada waktu? ini jam makan siang loh, gimana kalo kita makan bareng? kebetulan aku juga belum makan siang"


"Maaf bang, tapi bos udah pesenin nasi kotak, mubazir kalo ga dimakan. Lagian... kita ga sedekat itu buat panggil aku-kamu" Chelsea langsung berbalik namun tangannya di tangkap.


" Aku penasaran dengan ini..."


Alexa yang baru turun dan membayar ongkos ojol, dan berjalan sambil melompat lompat, seketika membatu melihat pemandangan didepannya. Punggung itu... tas ransel itu... dia sangat hafal siapa pemiliknya. Andrew.

__ADS_1


Andrew yang sedang memiringkan kepalanya tepat didepan seorang perempuan, sepertinya sedang... berciuman...


__ADS_2