
Brian langsung menggiring Chelsea ke dalam hotel. Meninggalkan Dennis yang terpaku karena di prank oleh teman somplaknya.
"Suami jadi jadian, pulang ya, ati ati dijalan. Awas ketemu sama cewek jadi jadian" Chelsea tergelak karena berhasil mengerjai teman masa lalunya. Bukannya dia gak tahu kalo Dennis menyukainya, namun Dennis tak pernah seperti orang lain yang terang terangan merayunya. Contohnya Komar. Nyasar di kosan siapa itu orang sekarang?
Brian menepuk sebelah pundak Dennis, merasa prihatin dengan apa yang dialaminya. Bermimpi.
Brian sempat takut istrinya terjebak dalam pesona sang Cassanova. Namun ternyata dia salah. Istrinya itu tak pernah tergiur dengan apapun.
"Thanks Bro, udah nganterin istri saya kesini" hanya itu ucapan yang bisa dia sampaikan. Dan Dennis? dia masih mematung. Speechless. Akhirnya yang menjadi mimpinya dia utarakan juga, setelah selama ini dia menahan diri. Tapi sangat memalukan karena harus dengan cara seperti itu.
Pasangan itu kemudian meninggalkan Dennis yang terus terpaku. Sungguh hanya dengan wanita ini, dia tak bisa berkutik. Selama ini dia tak pernah bersusah payah untuk mendapatkan wanita. Hanya untuk menyalurkan hasratnya, dia memilih hubungan one night stand. Dan para wanita akan dengan sukarela merangkak di ranjangnya. Itulah kenapa dia merasa kesulitan mendekati Chelsea secara intim.
Karena Chelsea adalah wanita berbeda yang tak tergiur dengan apapun. Entah itu ketampanan maupun kekayaan. Kekayaan? "Brian? apa dia Brian Mc Kenzie? CEO dingin yang digadang gadang memiliki reputasi bisnis yang luar biasa? dan mempunyai hobi di bidang otomotif?" Dennis mengeluarkan kartu nama. "CB AUTO. Apa ini inisial nama mereka?" Dennis tak percaya dengan pemikirannya. Jika benar dugaannya, maka secara kekayaan dia kalah. Karena jabatan dia hanya seorang Direktur Pemasaran. Tubuhnya melemas. Tiba tiba dia teringat sesuatu.
"Bagai mana dengan Alexa? ada hubungan apa Alexa dengannya? apa Chelsea tau?"
Demi harga dirinya, dia akan membuka kedok kebusukkan Brian. Senyuman miring akhirnya tersungging di bibirnya.
Brian dan Chelsea akhirnya memiliki waktu berdua. Brian yang lelah dengan urusan bisnis merasa terhibur dan terobati. Rasa lelahnya seketika menguap kala bersama istrinya.
Mereka berpelukan erat di atas ranjang king size. Hanya berpelukan. Menyalurkan rasa rindu dan melepas kekhawatiran.
__ADS_1
"Kamu tau dari mana ponsel aku ada di tangan Siska?" dengan mata terpejam sambil memeluk istrinya, menghirup aroma rambut istrinya yang menjadi pengantar tidurnya.
"Aku video call. Niatnya sih kangen liat kamu, Bear. Tapi..." ucapannya terhenti. Chelsea mendongakkan wajahnya, menatap suaminya yang tengah memejamkan mata. Apa dia tertidur? Chelsea mengecup rahangnya.
"Tapi apa?" Brian ternyata belum tidur, dia membalas mengecup puncak kepala Chelsea.
"Tapi yang ngangkat telponku Siska. Dan dia pake bath robe" Chelsea menatap dalam pada Brian yang menundukkan kepalanya pada Chelsea. Meraih dagunya dan mengecup bibirnya.
"Trus kamu pikir aku diam diam berhubungan sama dia gitu?"
"Bukan kamu. Aku khawatir dia ngejebak kamu hingga kalian..." ucapannya terhenti karena Brian langsung meraup bibir seksi istrinya. ********** lembut, tangannya gatal jika tak meyusup ke dalam baju. Mencari pegangan kenyal yang membuat sensasi semakin membara, semakin menuntut lebih, menyalurkan hasrat kerinduan yang membuncah.
Chelsea tak kuasa menahan diri agar balik menyerang. Brian menyukai sikap Chelsea yang agresif di ranjang terutama. Tapi dia merasa jijik jika wanita lain yang agresif terhadapnya. Dia akan berkisap dingin dan kejam. Skip dingin dinginnya, emak emak lagi pengen yang panas🤭
Brian mendiamkannya sejenak, merendamnya sambil membuat kedutan kedutan kecil untuk menggoda istrinya. Mengecupi wajah dan bibirnya lembut.
Chelsea tak tahan ingin bergerak karena sensasi kedutan itu, namun Brian menahannya sambil tersenyum jahil. Dia ingin menyiksa istrinya. Menyiksanya dengan kenikmatan.
Chelsea berusaha membalikan keadaan, dia tak tahan dengan siksaan ini, namun kedua tangannya ditahan di kedua sisi kepalanya, dan Brian akhirnya memberikan apa yang Chelsea inginkan.
Dia bergerak sedikit lebih cepat, ingin merasakan kenikmatan dunia secara perlahan, namun sang istri tak kuasa menahan diri, dia bergerak liar dibawah sana sambil meneriakkan namanya, rasa menggelinjang membuatnya gila. Erangan tak terkontrol lagi. Dia mengekspresikan kenikmatan itu dengan maksimal. Tidak takut terdengar oleh anak anak ataupun art. Brian menyadari hal itu. Dia jadi berencana untuk sesekali mengajak istrinya pacaran khilaf. Meski mereka selalu mencari sensasi bercinta di tempat tempat tertentu. Namun tidak sebebas ini.
__ADS_1
Chelsea dan Brian memfokuskan diri akan mencapai puncak yang sedikit lagi mereka raih. Hingga akhirnya mereka mengerang dan berteriak bersamaan kala keduanya mencapai kepuasan.
Brian meraih selimut dengan kakinya, masih membenamkan miliknya, dia memiringkan tubuhnya agar tidur berhadapan. Peluh membanjiri keduanya yang terengah mengatur nafas.
"Terima kasih, sayang. cup.. cup.. Terima kasih karena sudah menyusul kesini. Terima kasih karena selalu menghujaniku dengan cintamu. Aku lebih baik mati dari pada harus dipaksa menyentuh wanita lain. cup..cup.." Brian terus mengecupi Chelsea, dan menegaskan padanya jika separah apapun keadaannya, dia tak akan memberikan tubuhnya pada wanita lain.
Chelsea pun berjanji padanya, dia tidak akan mau disentuh siapapun kecuali dirinya. Lalu mereka pun terlelap dengan saling berpelukan. Berharap kebersamaan ini untuk selamanya.
tok
tok
tok
Ketukan pintu terus menggema, mengusik 2 insan yang tengah terlelap dalam penyatuannya. Brian memutuskan untuk bangkit, ia tak mau istri tercintanya terganggu. Dia mengecup pelipis sang istri sebelum mencabut pusakanya. "Enghh..." Brian melenguh saat mencabutnya, namun dia kembali menanamkan dan mencabutnya lagi. Uhh sungguh dia ingin melanjutkan cabut-tanam itu, jika saja suara sialan dari pintu berhenti. Akhirnya dengan berat hati dia bangkit dan memakai piyamanya.
ceklek
"DAD...."
"Harvey?" Brian dikejutkan dengan pelukan tiba tiba anak bujangnya.
__ADS_1
"Dad, apa kau bertemu momy?" Harvey bertanya dengan gusar. Dia bahkan tidak peduli dengan usianya. Yang dia pikirkan adalah keselamatan momy nya.
SIANG SIANG GINI PANAS PANASAN🤭