Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#91. Ancaman


__ADS_3

Chelsea dan Harvey terpaksa kembali ke Ibu kota, dikarenakan Harvey harus sekolah setelah kemarin dia izin tidak masuk demi menemani ibunya. Meski pada kenyataannya sang ibu malah melarikan diri demi mencari dady nya.


Dengan berat hati pasangan suami istri itu harus rela saling melepas. Jika saja sang anak bujang nya sudah cukup umur, Brian pasti akan membawa istrinya itu kemana mana.


"Bye dad. Jangan nakal ya. Nanti momy hukum dady lagi" ancam sang anak karena melihat dady nya lemas dini hari tadi saat dia kembali mengetuk pintu kamarnya. Harvey keukeuh ingin tidur dengan ibunya. Akhirnya Brian mengizinkannya, kalau tidak, dia tidak akan bisa tidur karena terus diganggu anak laki lakinya itu. Tentu saja Brian memakaikan piyama panjang terlebih dahulu pada istrinya itu.


"Iya, bawel" jawab Brian yang kemudian memeluk dan mencium pucuk kepala Chelsea " Dady justru ingin selalu dihukum momy" dia kemudian memeluk erat istrinya yang dibalas pelukan erat pula. Namun Harvey hanya mengernyitkan dahi tak mengerti dengan jalan pikiran sang dady.


Hanya tinggal sedikit lagi masalah perusahaan papa mertua selesai. Dan Chelsea harus rela membiarkan suaminya menangani masalah perusahaan papanya, mendampingi adik nya Elroy yang masih kurang pengalaman dalam menangani masalah dalam jajaran direksi.


Setiba di rumah, Chelsea segera menyiapkan keperluan Harvey sekolah, lalu mengantarnya ke sekolah. Setelah itu dia langsung pergi ke bengkel karena kemarin dia izin tidak datang.


Bengkel masih sepi, baru ada Pak Seto dan Bang Dodot yang sedang menangani Land Cruiser milik salah satu pelanggan.


"Pak Seto, ada masalah dengan bengkel?"


"Ga ada bu. Semua bisa teratasi"


"Bagus. Aku ke atas dulu ya"


"Baik bu"


Chelsea perlahan menaiki tangga menuju ruang privasi nya.


"Chels !"


Seruan seseorang menghentikan langkah gontainya.


"Dennis? ngapain pagi pagi kesini?"

__ADS_1


"Tuh, mobil gue tiba tiba ngadat" kepalanya menunjuk pada Land Cruiser yang tengah di utak atik bang Dodot.


"Kantor elo kan bukan daerah sini?" tanya nya lagi, merasa bingung karena arah kantornya berlawanan arah dan jauh dari bengkel ini.


"Gue ada meeting, tandatangan kontrak sama perusahaan ke arah sini. Tiba tiba aja ngadat deket sini. Ya udah sekalian ketemu elu"


"Ngapain ketemu gue" Chelsea mengurungkan niatnya untuk naik ke ruang privasinya. Keluarganya tak membolehkan siapapun selain keluarga untuk memasuki ruangan itu. Jika ada tamu atau customer VIP, sudah disediakan VIP SPOT. Tempat tunggu khusus pelanggan tetap atau VIP, dimana didalamnya terdapat sejenis cafe mini. Namun Chelsea pun tak membawanya ke sana. Karena dia pikir Dennis tak sepenting itu. Dia tak peduli dengan jabatan seseorang. Yang dia perhatikan adalah hubungan keluarga dan hubungan bisnis bengkelnya.


Chelsea melipat kedua tangannya di dada seraya memperhatikan Land Cruiser nya.


"Lo ga pake supir?" tanyanya kemudian sambil melangkah ke arah bangku penunggu😨 *kok kesannya horror yak😨


Dia merasa bang Dodot bisa mengatasi masalah sepele pada mobil Dennis itu.


"Supir gue sakit, ga ada cadangan"


"Elo mah gitu sama gue. Suka bener. Jadi malu kan"


"Jiah, seorang Dennis punyavrasa malu? orang ******** lo aja di obral" sarkasnya.


"Lo ga takut kena penyakit tuh? celup sana, celup sini. Jijik gue bayanginnya" lanjutnya.


"Ck, gue kan cowok, Chels. Bisa kena penyakit juga kalo ga dikelurin. Lagian..."


"Jangan bilang belom nemu yang cocok ya. Lagu lama. Cocok itu relatif Den. Gimana pribadi kita nya. Kalo kita nya brengsek ya dapetnya yang breksek lagi. Kalo kitanya kalem, baik hati dan tidak sombong, rajin menabung pada ibu guru. Ya dapetnya yang baik juga. Jangan terpaku sama milik orang lain juga" sindirnya.


"Elu mah nyindir gue" keluh nya.


"Elu tau gue suka sama elu dari dulu. Kenapa ga coba buka hati elu? Coba aja dulu elu ga ngejauh dari gue, pasti gue ga kan brengsek kek sekarang" tambahnya.

__ADS_1


"Orang tuh ya, kebiasaan. Selalu nyari kambing hitam buat disalahin. Kesian kan para kambing pada difitnah. Lagian nih ya, usaha elu ga pol. Coba dulu elu ga berubah jadi brengsek gara gara gue jauhin. Coba kalo elu terus berusaha dapetin gue dengan cara yang baik. Mungkin waktu itu gue bisa liat ketulusan elu. Kalo kasusnya kek elu, gimana mo serius? masalah dikit, nyari pelarian, nyari pelampiasan. Elo pikir gue suka sama cowok kek gitu? Bukan gara gara materi gue mau diajak serius, inget ya" panjang lebar Chelsea mengomelinya. Cenderung menasihati sih sebenarnya.


Dennis termenung, dia membenarkan perkataan Chelsea. Dia memang tidak cukup baik untuk menjadi pendampingnya.


"Bagaimana dengan suami kamu?" bahasanya tiba tiba dia rubah lebih sopan. Hal itu timbul karena kesadarannya untuk menghargai wanita yang selama ini memenuhi hati dan pikirannya.


"Lo sehat? ga salah minum obat kan?"


"Enggak, aku sehat. Aku tadi nanya. Suamu kamu gimana?"


"Gimana apanya? dia cinta mati sama gue, gue juga gitu"


"Kalo kamu ternyata salah tentang suami kamu. Kamu.. mau kan pertimbangin aku buat gatiin dia di hidup kamu? Gue sadar, gue salah selama ini. Kamu yang nyadarin aku. Gak tau kenapa, meski tau kamu udah nikah, bahkan punya anak, aku masih berharap sama kamu. Aku bahkan ber do'a-"


"Stop! Ga usah diterusin. Ga ada kata seandainya. Gue sama Bear-gue ga akan pernah pisah, demi apapun. Bahkan jika ajal menjemput salah satu dari kita-"


"Aku percaya sama kamu. Gimana sama dia? Apa kmau yakin kalo dia juga akan setia sampai maut menjemputnya? Bahkan sekarang aja mungkin.." kalimat Dennis menggantung. Chelsea menunggu kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulut sialan itu.


"Terusin. Kalo ngomong jangan setengah setengah" tegasnya dengan dingin. Dia tak suka jika ada yang mencoba memfitnah suaminya. Dia lantas bangkit dan berdiri di hadapan Dennis.


"Maksud lo apa? mo fitnah lakik gue?"


"Eng.. engga, bukan gitu. Aku tanya, waktu kamu susulin dia ke kota itu, siapa perempuan yang tiba tiba nyerang kamu? trus mereka kebetulan ada di hotel yang sama, pegang ponsel suami kamu juga. Apa kamu yakin kalo mereka engga saling berhubungan. Secara intim maksudnya, secara kan lagi jauh sama kamu. Yang namanya laki laki kan-"


bugh


Chelsea membogem wajah Dennis yang terlihat tidak akan menghentikan omongan sialannya.


"Sekali lagi lo fitnah lakik gue. Gue pastiin lo ngubur diri lo sendiri" ancamnya pada Dennis yang terkejut dengan serangan tiba tiba Chelsea, lalu sorot mata itu, sorot mata yang mampu membakar apapun.

__ADS_1


__ADS_2